Aku Ingin Putih

“Ambu, Abah, aku ingin jadi putih!” 

Permintaan mahiwal anak saya itu disampaikan di awal pekan ini. Permintaan ini bukan karena ia sering nonton iklan pemutih kulit. Kalau gara-gara iklan, mungkin dia akan minta juga rambutnya diwarnai, seperti Safeeya, anaknya Ahmad Dhani. Kebayang kalau dia tiba-tiba minta rambutnya diwarnai seperti Inul Daratista atau Titi DJ sebagai bagian efek nonton Golden Memories. 

Permintaan anak saya ini ternyata bukti kegalauan dia atas pergaulannya selama ini. Siapa bilang dunia perbulian itu ada ketika anak mulai bersekolah. Umur 4 tahun juga sudah ada ternyata. 

Begini cerita anak saya. Setiap hari ia bermain dengan beberapa anak tetangga. Satu hari ada sebuah perbincangan menarik yang kemudian sanggup membuat anak saya galau melow. 

“Kinan, kok, kulit kamu mah item sih?” kata anak yang satu. 

“Iya, aku sama Rehan putih. Kok, Kinan item?” pertanyaan kedua diajukan temannya yang satu lagi. 

Pertanyaan yang sama diajukan dua kali pasti bikin anak saya kepikiran. Dia pun mulai ajukan banyak pertanyaan ihwal warna kulitnya. Saya pun memilah kata yang sederhana agar dia paham. 

Namun ternyata itu tidak cukup. Ia menilai jika ingin bermain dengan teman-temannya yang berkulit putih, ya, harus punya kulit putih juga. 

Rajukannya baru mereda ketika dikatakan kulit hitam manisnya itu tidak mengurangi kecantikannya. Ditambah lagi yang penting dia sehat. 

Memang tidak mudah menjauhkan anak dari perasaan dirisak. Dan teman-temannya tidak bermaksud menyakiti anak saya dengan pertanyaannya itu. Namanya juga anak-anak, besar rasa ingin tahunya. 

Tapi sebagai orang tua, kita tidak boleh ikut patah semangat apalagi marah besar ketika anak merasa seperti itu. Kita yang harus membesarkan hati anak dan memberinya pemahaman tentang perbedaan. Karena seumur hidup dia akan melihat banyak perbedaan. (*)

Jika Mati Lebih Dulu

Kalau aku mati duluan, kamu kesepian? Lalu, kalau kamu mati lebih dulu, akankah aku bertahan?

Kalimat itu tetiba terlintas saat saya mencabuti uban massal di kepala saya. Ya, uban pertanda saya semakin menua. Semakin dekat dengan ajal. 

Dekat dengan ajal, pasti urusan akhirat jadi perhatian. Tapi, urusan dunia pun tak kalah berebutan jadi pikiran. 

Buat seorang istri atau suami, kehilangan pasangan ditinggal mati, pasti bagai potong rancatan. Hidup tak lagi seimbang. Tak ada teman sejiwa berbagi perih dan bahagia. 

Bagi istri, saat berpikir kalau ia akan meninggal lebih dulu, yang terpikir, bagaimana nasib suami dan anak-anak? Akankah suami mampu menggantikan pekerjaan domestik yang biasanya dikerjakan istri? Mampukah suami mencuci, menyetrika, memasak, tidak hanya untuk dirinya tapi juga anak-anak? Lalu, sanggupkah suami bertahan tanpa mencari pengganti dirinya?

Demikian juga suami, ketika membayangkan ia akan dipanggil Tuhan lebih dulu, mampukah istri memenuhi kebutuhan finansial keluarga yang dulu adalah tugas suami? Mampukah istri menjadi kepala keluarga menjaga anak-anak? Sampai kapan istri tidak menyerah?

Jangan tanya kenapa saya berpikir demikian. Kematian akan datang kapan saja. Tanpa informasi dan dispensasi. 

Terkadang saya membuat daftar apa yang mesti saya lakukan sebelum mati. Yang dilakukan untuk memberikan manfaat pada orang lain. Sehingga saya tak perlu terlalu banyak menyesal saat mati. 

Saya mungkin lebay. Memang! Karena saya sadar tidak selamanya saya mendampingi orang-orang yang saya sayangi. Dan saya belum banyak berbuat untuk mereka. Saya terlalu apa adanya. Padahal saya bisa berbuat lebih dari “apa adanya”. 

Saya harus berhenti bersikap membantu hanya ketika orang meminta bantuan. Saya harus lebih pandai meraba hati orang. Sehingga tidak perlu mereka berteriak untuk memberi bantuan. 

Hidup memang harus perih. Hidup harus memberi manfaat. Sehingga, ketika kita mati, tidak ada kisah lain yang terucap selain betapa bermanfaat kita saat hidup. (*)

Kipas Angin Murah


Gambar di atas itu adalah kipas angin. Ada yang membantahnya? Pasti tidak, kan! Karena dengan jelas terpampang nyata kalau itu adalah kipas angin. 

Gambar di atas itu bukan air conditioner. Meskipun sama-sama bersumberkan tenaga listrik dan fungsinya yang sama yakni mengademkan, harganya jauh berbeda. Air conditioner harganya bisa jutaan. Tapi kipas angin ada yang di bawah Rp 100 ribu. Persis seperti di gambar yang saya unggah itu. 

Kalimat saya berikutnya tidak akan membahas perbedaan atau persamaan kipas angin dengan alat pendingin lainnya. Kipas angin ini adalah dampak pembelajaran saya dari kelahiran anak pertama. 

Begini, ya, dua kali saya melahirkan di rumah sakit Santosa, saya selalu kebagian ranjang yang berdekatan dengan pintu. Tapi sangat jauh dari air conditioner yang hanya dinyalakan pada malam hari. Sementara siang hari dimatikan. Akibatnya, saya kepanasan. 

Buat ibu-ibu yang baru melahirkan pasti tahu betapa gerahnya kondisi setelah melahirkan. Memakai baju yukensi pun tiada makna. Keringat tetap bercucuran. 

Di kelahiran pertama, tidak terpikir untuk menyiapkan kipas angin. Alasannya sederhana: belum tahu sikon pascamelahirkan. Di kelahiran kedua, lupa menyiapkan. Alasannya: tidak tahu akan kebagian posisi ranjang seperti apa. Layaknya pesawat semestinya tanya ke petugas waktu booking kamar perawatan kamar melahirkan dimana posisi ranjang kita. Berdekatan atau berjauhan dengan AC. 

Di kelahiran pertama, kebetulan rambut saya panjang. Dan lupa pula bawa ikat rambut, jadinya gerahnya maksimal. Saya lupa saat itu apa yang saya gunakan untuk mengikat rambut. Tapi yang pasti, si Abah yang super repot harus mengipas-ngipasi saya terutama ketika menyusui. 

Pada kelahiran kedua, suami saya tidak menemani di malam pertama saya menginap di rumah sakit. Dia harus menyelesaikan tugasnya mengubur ari-ari. Saya yang tidur sendirian dan tak bisa bergerak karena setelah operasi sesar dilarang bergerak selama 12 jam, pasrah dengan hawa panas. 

Baru saat Abah datang, saya menginstruksikannya untuk segera membeli kipas angin kecil. Saya ogah harus gebergeber kertas untuk mengusir panas. Segera Abah mencari informasi tetap berburu kipas angin yang murah meriah. Setelah dapat informasi, Abah bingung dengan rutenya. Beruntung berhasil ditemukan dan ia pun menenteng kipas yang harganya hanya Rp 90 ribu itu. 

Kipas angin itu saya pakai seharian. Karena pada malam hari, angin dari AC tidak sampai ke ranjang saya. Tak peduli kalau akan masuk angin. Yang penting tidak kegerahan. 

Saat pulang, kipas angin itu tidak lupa saya kemas ke dalam kardusnya. Ia difungsikan kembali untuk mengipasi daging domba akikah. Setelah selesai, kembali ke kardusnya. 

Kipas angin itu hanya bertahan 12 bulan dalam kardus. Pasalnya ketika kami hijrah ke rumah Ibu, kami tiba-tiba tidak tahan dengan udaranya. Hawa dingin Lembang yang sudah terbiasa kami rasakan. 

Kipas angin mirip kincir yang dipaku di tembok tidak bertahan lama. Jadi kami kembali pada kipas ini yang usianya sama dengan anak bungsu saya 2 tahun 5 bulan. Dengan perawatan yang rutin, saya yakin akan awet. So, buat yang akan menginap di rumah sakit, saran saya, bawalah kipas angin kecil. Siapa tahu butuh?

Ruangan Kami Pindah Lagi

Akibat kebakaran kantor kami di Jalan Soekarno Hatta tiga tahun lalu, kami ‘urbanisasi’ ke kantor pusat. Ya, urbanisasi, karena kantor yang awalnya berada di pinggiran itu mengungsi ke tengah perkotaan. 

Tidak usah membayangkan ruangan di kantor kami yang ublag-ablag. Kami harus rela berbagi komputer seperti di Warung internet (warnet). Memang berasa di warnet karena komputer yang digunakan pun tertulis: rental. Tapi, kan, sekarang semua musim rental. Mobil, rumah, apartemen, dsb. Tidak perlu memikirkan perawatan. Rusak, tinggal minta tukar. 

Beruntung tertolong teknologi, sehingga dengan gawai kami bisa mengetik dan mengirim pekerjaan dengan selamat sentosa sampai ke kantor. Meskipun demikian, kami tetap mengantor. Menyetor telapak tangan ke mesin absen. Kalau tidak, bisa absen juga uang makan dan transportasi. Dan jerih payah kita, yang tetap kerja itu dibayar dengan pahala. He…he…!

Setelah hampir tiga tahun, menempati ruangan di kantor pusat, datang kabar, kami harus pindah ke ruangan lain. Waktu dan lokasi belum ditentukan. Tapi tidak lama dari kabar itu, barang-barang di ruangan kami sudah diangkut ke ruangan baru. 

Ini dia ruangan baru kami yang terletak di lantai dua gedung lama. Tangga gedung dengan tingkat kemiringan dahsyat yang mungkin hampir 45 derajat harus kami panjat setiap harinya. 


Saya sempat berasumsi kepindahan ke ruangan baru itu, di lantai dua itu, karena berat badan kami. Iya, berat badan saya yang harus ramping. Jadi daripada memaksa olah raga yang kemudian ditolak dengan alasan sibuk dan banyak liputan, dicarikan solusi yang tidak bisa dibantah: naik turun tangga. 

Keberatan badan saya untuk naik tangga sehingga sedikit malas memanjat itu ditambah dengan gosip horor di ruangan itu. Ada yang bilang kursi berputar sendiri atau ada suara ketikannya tapi tak ada orang. Paling horor katanya lama mandi yang di pojok itu. Tapi tadi saya ke kamar mandi aman-aman saja. Ah, gosip yang belum terbukti. 

Yang mungkin agak mengerikan adalah tangga itu dimana membuat anak bungsu saya sakit. Soal ini, di tulisan lain saya ceritakan. 

Tapi, ruangan ini jauh lebih luas. Meskipun kita seruangan dengan atasan yang enggak wajar bila bergosip dengan suara kencang, tapi setidaknya memiliki keleluasaan menggunakan komputer. Setiap desk, duduk berdekatan. Tapi saya belum ketemu dimana meja saya. Jadi saya memakai komputer rekan lain yang kebetulan belum datang ke kantor. 


Pindahan kantor saya terbilang mendingan. Tiga tahun, baru pindah. 

Coba lihat Apotek Kimia Farma yang kebetulan bertetangga dengan kantor saya itu. Sekarang sudah pindah lagi ke bagian yang paling pojok dekat Hotel Ibis. Sebelumnya sempat pindah ke pojok yang dekat ke Jalan Asia Afrika. 

Sebenarnya pojok itu yang pertama saya lihat sejak pindah kantor. Karena ada acara Konferensi Asia Afrika, pojok itu dipakai media Center. Apotek pasrah pindah ke bagian tengah. Cukup lama di situ, kembali pindah ke pojok awal. Eh, entah kenapa pindah lagi jadi di pojok yang sekarang. 

Saya membayangkan repotnya pindahan. Memindahkan furnitur masih mending. Gimana kalau mesti membuat furnitur baru sesuai dengan luas ruangan. Belum lagi menyetel ulang praktik dokter. Lalu membayar tukang untuk mengangkut barang, memasang furnitur, instalasi listrik, dan merapikan etalase. Tentunya, sehari saja, apotek harus tutup untuk kegiatan itu. Kalau pun tetap buka, pasti ada jam lembur dan konsumen sedikit terganggu. 

Tapi, tak apalah, buku saja mengenal revisi. Ruangan juga mengenal renovasi. 

Sun-Day-Fun-Day

Hari Minggu adalah menu Sunday Fun Day buat dua anak saya. Meskipun saya tetap bekerja (baca: mengetik untuk kantor), waktu bersama mereka di hari Minggu wajib ada. Makanya, mulai Minggu tadi saya pakai tagar #sundayfunday untuk kegiatan saya dan mereka. 

Sebenarnya, tagar tersebut tidak sengaja saya dapat ketika mengunggah foto kegiatan kami. #sundayfunday, menarik juga untuk jadi tema. Apalagi mataharinya lumayan menyengat, cocok disebut “Sun Day”. Tapi setelah bersenang-senang, sore harinya kami dihadiahi hujan. Adem. 

#sundayfunday ini juga sebenarnya sedikit modus saya bisa scan telapak tangan di kantor alias ngabsen. Jadi sambil bawa anak main, tetap dapat uang makan dan transportasi dari kantor. 

Menu #sundayfunday dimulai dengan berjalan kaki dari rumah ke jalan raya. Sekitar 10 menit, kami berjalan meski sesekali si Galink minta digendong. Bahkan baru naik angkot pertama sudah mengeluh mengantuk. 

Angkutan umum berikutnya berlanjut dengan bus Trans jurusan Cicaheum-Cibeureum. Tidak lama naik bus, dua anak mulai cape duduk. Mereka tidak tahan untuk lari-larian. 


Tapi setelah turun dari bus di Braga, mereka merajuk ingin jajan di mini market. Keluar mini market, kembali berhenti karena harus melihat kereta api yang melintas. Pikir saya, tak apa, toh, sebentar lagi mereka harus kuat jalan kaki lagi menyusuri Braga hingga ke Asia Afrika. 

Dan mereka benar-benar kuat. Sepanjang jalan banyak yang ditanyakan. Paling seru ketika melihat lukisan yang dijajakan di jalan yang mereka susuri. 


Nah, ketika mau menyebrang ke Bank Jabar Banten, saya tawari mereka untuk mencicipi es potong. Meski belepotan, saya biarkan. Setelan baju ganti ada di tas. 


Asli, itu es potong memang enak. Sebagai ibu, harus selalu siap untuk membersihkan makanan sisa anak. Jadi saya mencicipi gigitan terakhirnya. 

Singkat cerita, kami sampai ke kantor saya. Istirahat sekitar setengah jam lalu berlanjut berburu kesenangan berikutnya. 

Kedua anak saya super excited melihat cosplay yang berjejer. Ceuceu merengek minta foto bareng, tapi tidak jelas foto dengan cosplay yang mana. Yang jelas, mereka tak banyak pikir ketika berhadapan dengan mamang tukang buah. Dua-duanya memilih semangka. 


Jalan berikutnya, menyusuri jalan Banceuy hingga Penjara Soekarno. Keduanya menggemaskan sekaligus agak mengesalkan. Tapi itulah anak-anak. Mereka berlarian tanpa lelah. Tapi sebagai hadiahnya, saya ajak mereka makan bakso dan belanja ke Yogya Pajajaran. Terakhir hanya si Galink yang terlelap di angkutan kota dan saya mesti menggendongnya sambil berlarian agar dia tidak ikut basah diguyur hujan. 

Hari Pertama Sekolah

Awal masuk sekolah sekarang, sampai-sampai ada instruksi agar orang tua mengantar anaknya ke sekolah. Sebetulnya, kalau orang tua paham tugasnya, tidak perlu, tuh, ada instruksi-instruksi segala. 

Nenek saya saja, waktu saya masuk SD paham soal itu. Dia antar saya ke sekolah. Menunggui saya selama belajar. Terkadang wajahnya nongol di jendela kelas. Saya saja yang mungkin kurang bersyukur. Diantar nenek ke sekolah, malah saya yang iri lihat teman sekelas yang diantar dan ditunggui ayah dan ibunya. 

Proses antar hari pertama oleh orang tua yang sebenarnya, tidak benar-benar saya rasakan waktu SMP dan SMA. Bapak mengantar saya mengenal sekolah hanya pada saat daftar ulang. SMP yang saya pilih cukup jauh dari rumah. Waktu SD saya cukup jalan kaki. Atau udunan naik becak. Itu kalau ada sisa uang jajan minggu lalu. 

Masuk SMP, saya memadukan model perjalanan jalan kaki dan ngangkot. 15 menit saya jalan kaki dari rumah ke jalan besar. Dan 30-45 menit naik angkot. 

Saat daftar ulang di SMP, saya sangat senang diantar Bapak. Dia menunjukkan angkot yang harus saya naiki untuk berangkat ke sekolah. Proses daftar ulang cukup lama, dan Bapak mulai bosan. Dia pamit pulang duluan. Sementara saya nyangkut di sekolah. 

Saat pulang, saya yang kebingungan harus pakai angkot apa. Karena angkot saat berangkat tidak lewat di depan sekolah ke arah sebaliknya. Bapak yang jadi panduan saya sudah tidak ada. Artinya saya harus mencari informasi lain. 

Kejadian serupa berulang di SMA dan kuliah. Bapak hanya mengantar. Tidak menunggui. Dia menunjukkan jalan pergi. Tapi tak meninggalkan arah pulang. 

Saya akhirnya terbiasa dengan kebiasaan Bapak. Saya tahu, Bapak percaya saya bisa menemukan jalan pulang meski tidak bersama dirinya. Malahan selanjutnya saya yang keasyikan mencari banyak rute jalan pulang. 

Kebiasaan mencari rute pulang yang berbeda dengan pergi sudah saya lakukan sejak SD. Alasannya, sih, menghindari si Hunter, anjing komplek Saibi. Saya hampir dikejar oleh Hunter waktu pergi sekolah. Akhirnya, saya berburu rute pulang yang berbeda yang malah lebih jauh dari biasanya. Yang penting terhindar dari gigitan Hunter. 

Kalau SMP agak sulit mencari rute berbeda. Karena sekolah saya SMPN 25 yang dulu masih di Jalan Kelenteng, rutenya, ya, segitu-gitu saja. Agak nyeleneh, saya bisa masuk-keluar gang demi mencoba rute baru. Eh, pernah sekali jalan kali, sih, dari sekolah. Bukan karena kepengen, tapi harus! Ada pesawat jatuh di Jamika sehingga tidak ada angkutan umum. 

Kalau SMA dan kuliah pencarian rute pulang baru itu lebih mahir. Saya coba semua angkot yang berdekatan trayeknya dengan sekolah. Di SMA juga saya pernah pulang jalan kaki karena angkot menghilang akibat tiga partai kampanye bersamaan di hari terakhir. 

Kebiasaan mencari rute baru itu yang mungkin membuat saya hapal jalan dan rute angkot. Tapi yang mengherankan, keterampilan saya itu, kan, tidak terlihat kasat mata di penampilan saya. Tapi, tapi, kenapa saya sangat sering ditanya orang peta di Bandung? Ini masih jadi pertanyaan besar. 

Kembali ke persoalan masuk sekolah, ada alasan tiap orang tua mengantar atau tidak anaknya di hari pertama sekolah. Yang terpenting dari semua itu, kemampuan orang tua untuk membuat anaknya terbuka dan kepekaan orang tua terhadap persoalan anaknya. Saya yakin tidak ada, kok, orang tua yang abai di hari pertama sekolah.***

Jempolku Cedera

Sebenarnya banyak yang pengen dibagi. Tapi apa daya, jempol kanan lagi cedera. Cedera kena potongan beling pecahan gelas saat mencuci. Jadinya mengetik pun terkendala.

Aneh rasanya, mengetik dengan jempol kiri dan telunjuk kanan. Kaku. 

Padahal pekerjaan saya pun harus menggunakan dua jempol. Ya iyalah, kebanyakan pekerjaan pakai henpon. Pakai keyboard hanya saat di kantor. 

Jadi sekarang terpaksa mengetik pendek saja. Itu pun hanya untuk membiasakan jempol kanan mengetik kembali. Agar kecepatan mengetiknya tidak berkurang. Tsah!***

Hobi Jadi Bisnis? Enggak Gampang!

“Ih, dompet bikinannya bagus. Berapaan?”

“Mau dong tasnya. Ada model yang kayak gimana aja?”

Pertanyaan seperti itu sering banget saya terima ketika orang lain melihat hasil rajutan iseng saya. Bangga? Pasti dong! Karya kita diakui oleh orang lain. 

Tapi ketika ditanya berapa nilai karya kita, jujur, saya bingung. Kerajinan yang saya buat itu sebenarnya bagian dari relaksasi dan mengisi waktu luang. Bagian dari implementasi pelajaran kerajinan yang saya pelajari saat sekolah dasar. Jadi, ketika ditanya berapa harga atas dompet atau tas rajut yang saya buat, saya tidak bisa menentukan saat itu juga. 

Perhitungan itu sungguh berat. Tidak hanya didasarkan pada harga material yang digunakan, atau waktu pengerjaan. Tapi di dalam rajutan yang saya buat itu, ada jiwa saya. Karena saya, selama ini membuatnya bukan karena tujuan ekonomis. Karena saya suka. Jiwa saya itu yang sulit dikonversikan harganya he…he…!

Bila ada orang yang bertanya berapa banyak rajutan saya yang terjual, jawaban saya jauh lebih kecil. Rajutan yang saya buat itu tergantung mood. Bisa saja niatnya bikin tas, jadinya Pouch. Jadi terkadang saya minta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan. Ada loh, yang sudah dua tahun permintaannya dibiarkan. Ya, karena memang belum selesai. 

Diakui, tidak mudah mengubah hobi menjadi bisnis. Menawarkan barang yang kita buat saja sulit. Karena masih ada pikiran, layak enggak sih dijual? Atau harganya kemahalan enggak ya?

Ketika memutuskan hobi menjadi bisnis, kita harus siap dengan tuntutan kontinyuitas. Ada juga tuntutan memenuhi kepuasan pelanggan. Belum lagi kalau pesanannya jumlahnya banyak, sementara pengerjaan dilakukan sendiri. 

Jadi selama ini kebanyakan karya saya, ya, dipakai sendiri. Ada juga sih, yang dipakai teman karena saya sengaja menghadiahkan. Tapi karena hadiah itu, ada juga yang sudah berkali-kali pesan. Senang rasanya! Sekali lagi, bukan karena nilai uangnya. Ditambah lagi, bahwa barang yang mereka pakai itu limited edition. Alias dibuat satu-satunya ketika saya rajin. 

Berbagi ilmu

Hal yang paling menyenangkan lainnya dari merajut adalah ketika bertemu sesama perajut yang sudah sepuh di toko benang. Setiap belanja, saya pasti disapa oleh mereka karena jarang ada yang seumuran saya bergentayangan di toko benang rajut. 

Pertemuan itu meski tidak berlanjut tapi menyisakan bekas. Kami, para penyuka rajut selalu berbagi ilmu merajut. Kebanyakan belajar dari buku rajut. Kalau saya, enggak pintar-pintar belajar dari buku. Tapi kalau dari YouTube, lebih cepat bisa. 

Selain berbagi ilmu, kami juga berbagi lokasi perburuan aksesorisnya rajut. Atau berbagi informasi trik merajut. Saya yang senang merajut Pouch dengan memakai behel terbilang jarang loh! Seringnya berbagi ilmu sama si Cici pemilik toko Benang Aneka di Jalan ABC. 

Sekali lagi, merajut itu memberikan ketenangan batin. Jadi kalau di tas saya tidak ada benang dan hakpen rasanya ada yang hilang. Hoeks! Alay!***

Mereka adalah Bandring

bandring

Sumber: dokumentasi Bandung Birding (bandring)

Anda pasti sering melihat burung terbang di sekitar lingkungan Anda? Ketika burung itu tak lagi ada, pernahkah bertanya pergi kemana burung itu? Mati atau pindah? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah terlintas di benak Anda.
Ya, itu tulisan pembuka saya di sebuah tulisan yang dimuat di Edisi PR Minggu beberapa tahun lalu. Tulisan itu berkisah tentang sebuah komunitas yang memiliki kepedulian terhadap burung. Mereka adalah Bandung Briding (Bandring).
Mereka bukan kolektor ataupun breeder. Mereka hanyalah sekelompok orang yang rajin mengamati burung atau bird watching.
Awalnya, anggota Bandring ini hanyalah fotografer biasa dengan aktivitas yang tidak jauh dari memotret wedding dan pre-wedding. Lama-lama, muncul kejenuhan. Terbitlah niat untuk mencoba pilihan lain, tapi tetap memotret. Diputuskan untuk memotret wildlife. “Kami cari yang mudah yaitu memotret burung,” ucap Ahmad Sofyandi yang juga ahli tentang burung.
Lima orang sepakat membasmi kejenuhan dengan memotret burung. Hasil foto mereka dibagikan di media sosial. Mereka rajin menandai foto-foto itu pada rekan-rekannya, entah mereka suka atau tidak pada burung. Anggota Bandring kian bertambah lewat media sosial. Namun tidak mudah bergabung dengan Bandring di media sosial.”Kami lihat dulu rekam jejak mereka di media sosial yang mereka miliki. Kami khawatir mereka punya niat terselubung. Itu pula alasan kami tidak pernah membagi foto hasil buruan kami ke media. Bisa-bisa itu bahan mereka memburu burung untuk dijual,” papar Nugraha Nugie.
Kini anggota Bandring yang aktif berjumlah 20 orang. Usai berburu foto, mereka akan mendiskusikannya. Kesimpulan sederhana: aset Bandung itu banyak, salah satunya burung.
Sayangnya, lokasi-lokasi mereka memotret burung kian berkurang. Penyebabnya, alih fungsi lahan dan perburuan. Ruang terbuka hijau (RTH) terus menyusut. Jauh dari aturan standar, 30 persen dari luas wilayah Kota Bandung. Yang ada sekitar 11 persen pun, terus dipangkas.
Pada 2008, Ahmad pernah mendata ada lebih dari 40 jenis burung di Bandung. Burung-burung ini tersebar di Taman Kota, pemakaman, Takura, dan taman-taman di kampus. Kini susah ditemukan. Salah satunya yang biasa ada di Taman Kota adalah burung Kacamata, yang pandai meniru burung lainnya. Sekarang jarang ditemukan.
Yang memprihatinkan, beberapa waktu lalu, Ahmad tidak sengaja memotret jaring perangkap berukuran 4×2 meter dipasang melintang di antara pohon di Taman Kota. Pemasangan tepat di jalur lintasan burung. Bisa dibayangkan, berapa banyak burung yang terjaring dan kemudian berada di pasar burung. Burung Kacamata saja, terbang selalu berkelompok dengan jumlah paling sedikit 10 ekor. Berarti sekali terperangkap bisa 10 ekor!
Migrasi
Seperti disebutkan tadi, perburuan salah satu penyebab menyusutnya jumlah burung di Bandung. Akan tetapi, alih fungsi lahan juga berperan banyak. Ade Mamad menyebutkan pepohonan di Bandung merupakan lokasi transit tetap pengunjung tahunan. Rutenya tidak berubah.
Mereka yang transit adalah burung-burung dari Cina dan Taiwan seperti Sikatan Bubik, Cikrak Kutub, Bentet Loreng, Jalak Cina, Elang-alap Cina, Elang-alap Jepang, dan Sikep Madu Asia. Namun, kini agak sulit menemukan mereka. Alasannya, semakin berkurang pohon tempat mereka transit.
Dengan membiarkan kondisi seperti ini, alih fungsi lahan dan perburuan, terus berlangsung sama saja artinya dengan merusak ekosistem. Tidak perlu kaget jika generasi berikutnya hanya mengenal jenis burung dari gambar. Mereka tidak pernah melihat wujud aslinya.
Nah, agar hal itu tidak terjadi, Bandring tidak hanya ingin memperkenalkan jenis burung dari foto-foto yang berhasil mereka dapatkan. Tetapi juga mengedukasi masyarakat. Foto-foto yang didapat Ade Mamad, Nugraha Nugie, Ahmad Sofyadi, Awangga Kusumah, Ikbal Ramdhani, Budi Hermawan, dan Deni Rahadian menjadi titik awal untuk tidak memutus rantai ekosistem.
Melalui foto-foto itu, paling tidak tingkat perburuan berkurang. Atau, pikiran untuk memperjualbelikan burung pun terkikis. Secara lebih luas, mengingatkan masyarakat bahwa ruang terbuka hijau itu penting untuk mereka. Kebutuhan masyarakat akan ruang terbuka hijau cukup besar, begitu juga burung. Oleh karena itu, wajar bila Bandring mengusung slogan, “Manuk Jalma Baraya”.
Anti parfum
Meskipun hanya memata-matai burung lalu memotretnya, tidak mudah dilakukan, loh! Mungkin bagi Anda yang pernah membaca novel “Partikel” karya Dewi Lestari mengingat ada halaman yang menceritakan Zarah di awal karirnya sebagai fotografer wildlife. Ketika memotret di Kenya, ia harus menggali lubang dan mengubur dirinya. Yang tersisa hanya atap kecil di kepala dengan celah yang cukup untuk lensa kamera membidik.
Alasannya, ya, agar tidak mengganggu hewan-hewan liar yang akan difoto. Bisa dibayangkan, jika hewan itu menyadari kehadiran Anda. Bisa jadi malah Anda yang menjadi sasaran mereka. Pulang tinggal nama. Serem!
Memotret burung di alam bebas seperti yang dilakukan Bandring pun serupa. Mereka tidak bolah dikenali bentuk dan baunya oleh burung. Tidak heran jika koleksi pakaian mereka motifnya mirip dengan pepohonan. Sederhananya, mirip kostum tentara.
“Saya sampai sengaja berburu baju-baju yang bisa menyamarkan diri saat membidik burung,” kata Ade Mamad.
Anggota Bandring juga anti-parfum. Berbahaya bila baunya tercium burung. Mereka tidak akan anteng berinteraksi bebas di alam. Bisa saja, waktu transit di pohonnya sebentar karena merasakan ada tanda bahaya akibat aroma parfum.
“Oleh karena itu, lebih baik tidak usah mandi. Berhari-hari tidak mandi, lebih afdol. Menyatu dengan alam, ha ha..” ujar Ahmad Sofyandi.
Memantau burung pun tidak bisa dilakukan dalam waktu yang cepat. Selain memilih lokasi yang biasa dilintasi burung, keberuntungan tidak semata-mata mengikuti. Anggota Bandring bisa berhari-hari memata-matai burung tanpa hasil maksimal. Namun, tidak disangka, burung yang mereka cari malah muncul di halaman rumah, bukan di tempat mereka berburu.
Selain itu, mungkin perlu keterampilan atau lebih tepatnya kenekatan ketika memata-matai burung. Untuk mendapat hasil foto yang maksimal, ada yang nekat memanjat pohon dan menunggu kedatangan burung. Ada juga yang rela mendandani diri seperti pepohonan. Semua dilakukan demi burung. ***

Catatan Tahunan PPDB

Jumpa Pers tentang Pengumuman Hasil Jalur Akademik di Pendopo Walikota Bandung, 4 Juli 2016

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2016 Kota Bandung, katanya sudah usai. Katanya, loh! Karena besok sudah mulai daftar ulang bagi siswa yang diterima di jalur akademik. Jalur non-akademik, mah, malah sudah duluan. Duluan menyisakan masalah juga. Katanya.

Tapi, saya malah baru menulis OPINI saya, sekarang ini. Ya, sekarang ini. Karena memang sempatnya sekarang, sih! Seperti orang kebanyakan, saya ini juga perlu mudik, refreshing, dan menyimpan pekerjaan di laci dulu, lah!

Selain karena baru sempat, saya pikir tulisan saya memang diprioritaskan untuk konsumsi saya. Catatan tahunan saya, mungkin. Karena PPDB ini tiap tahun. Dan, dua tahun ini, saya terlibat di dalamnya.

Tahun lalu, kebanyakan jadi peliput. Dan keterlibatan saya baru sebatas, memindahkan kisah orang ke tulisan. Tapi tahun ini, saya sempat jadi ‘pelaku’. Saya, sekali saja, mewakili kakak sepupu saya mendaftarkan anaknya di jalur non-akademik. Kebetulan, kakak saya yang guru itu, menjadi panitia PPDB juga di sekolahnya. Sehingga, sulit membelah diri guna mengantarkan anaknya mendaftar. Karena sekolah yang dipilih cukup jauh dari rumah, keponakan saya gagal di SMAN 3 Bandung. Tapi saat bertarung di jalur akademik, ia lolos menjadi siswa di SMAN 4 Bandung. Masuknya itu asli karena nilai si anak, loh!

Nah, nilai yang enggak asli itu yang gimana?

Kalau di jalur akademik, yang enggak asli itu kalau si anak Nilai Ujian Nasional (NUN) tidak memenuhi passing grade. Tapi kok, dia diterima? Walahualam!

Begini, ya, konon, tiap penerimaan siswa baru selalu ada kisah siswa siluman. Eh, kalau menyebut siswa siluman, nanti ada yang tersinggung. Tapi, bener, kok, namanya tidak ada dalam penerimaan. Tapi, tapi, tapi, dia bisa daftar ulang. Kalau ngomong ulang, berarti sebelumnya dia pernah daftar. Tapi, daftar kemana?

Konon juga, si siswa siluman ini masuk tanpa menambah kuota sekolah loh! Jadi anak mana yang digantikan? Itu juga saya tidak tahu.

Konon, yang begini ini bisa bikin panas para aktivis pendidikan dan orang tua yang bersusah payah menempuh jalur legal. Katanya, di media, yang juga saya tulis, tidak akan ada titip-titipan. Semua dilakukan oleh sistem, oleh mesin, dan sulit tidak diintervensi. Apalagi sistem ini secara daring, sehingga bisa dipantau semua orang secara transparan.

Tapi kenapa pernyataan siswa diterima harus diberikan dalam bentuk kertas? Bukankah pendaftaran dilakukan secara daring, pengumuman juga, maka pernyataan diterima pun baiknya dikirim via surat elektronik saja. Paperless!

Diberikan dalam bentuk kertas, berarti dibuat oleh manusia bukan mesin. Berarti ini diintervensi oleh manusia. Masak pendaftaran dan pengumuman online tapi pernyataan diterima offline. Terus, kalau memang hanya daftar ulang kenapa tidak sekalian online? Jadi tidak perlu ada kontak fisik yang nantinya bisa berujung kontak uang.

Kemudian berbicara tentang siswa titipan itu, ya sudah dilegalkan. Sekalian jadikan lahan pendapatan asli daerah. Toh, sudah banyak yang beranggapan bahwa pendidikan kualitas yang tinggi itu yang mahal. Jadi bila ada yang beranggapan bisa masuk sekolah favorit dengan uang, maka realisasikan.

Bukankah setiap tahun, selalu ada kisah kursi yang tersisa. Entah ditinggal siswa yang diterima atau memang kurang siswa dari jalur lain. Lelang saja kursi-kursi itu.

Saya masih ingat, dulu ada cerita di tingkat Diploma 3, bahwa mahasiswa yang akan diterima itu yang paling besar sumbangan dana pembangunannya. Nah, diterapkan saja itu. Lebih transparan dan jelas uangnya masuk kemana. Misalnya, ada 100 kursi yang dilelang dengan harga minimal Rp 10 juta. Bila semua terjual, akan ada Rp 1 miliar uang untuk pembangunan. Pakai deh buat bangun sekolah baru. Lebih maslahat kan?

Daripada kayak sekarang, yang isunya sembunyi-sembunyi terima siswa titipan yang entah anak siapa. Entah ada duitnya, entah masuk kantong siapa. Akibatnya malah jadi “ongkoh dipoyok tapi dilebok”. Lebih berbahaya yang kayak begini. Manusia tidak beradab.

Terus yang nitip itu, dipikir tidak sih dampaknya untuk siswa yang dititipkan?

Ketika ada yang nanya atau ketahuan NUN tidak sesuai dengan passing grade, itu anak, saya yakin akan tersiksa batinnya. Ia merasa bersalah. Lalu, ia akan melampiaskannya pada hal negatif. Orang tua akan menyalahkan siapa? Pergaulan?

Ingat, orang tua yang memaksa mencari jalan pintas untuk anak. Jalan pintas yang mungkin tidak membuat anak sampai ke ujung jalan. Jalan pintas yang malah membuatnya tersesat dan terjerumus ke jurang. Semoga Tuhan memberikan pencerahan bagi para penitip itu, ya, kalau itu isunya benar. Maklum selama ini kan, baru gogon (gosip underground), he..he…