Captain America ala Gue

Suara adzan subuh tidak terdengar. Saya yang terlalu pulas tidur atau hujan yang cukup deras disertai angin yang menutup pendengaran saya. Saya tidak tahu. Tapi dua hal yang saya tahu yang membuat saya melompat dari kasur lalu terjaga. 

Hal pertama, angin kencang yang berteman hujan itu dikhawatirkan menggeserkan genting-genting di atap rumah. Sudah dua kali kejadian, ruang kesayangan saya, tempat saya membaca, merajut, dan menulis disiram air bocoran genting. Tidak perlu ada yang ketiga. Tapi kalau pun ada, tak kan ada baju yang akan disetrika yang harus basah. Semua baju hasil cucian saya seminggu ini, sudah dikemas dalam keresek. 

Saya pun memeriksa lantai dengan kaki. Mata dan telinga saya dipertajam untuk mencari titik-titik kebocoran. Dua tangan saya memegang dua baskom layaknya Captain America dengan perisainya. Aha! Saya mendengar dua tetesan berjatuhan dengan tempo yang berbeda. Terdeteksi sudah ada dua titik kebocoran. Pikiran saya kemudian mulai bergerilya, mencari cara agar tidak perlu lagi ada kebocoran. Solusinya: panggil tukang. Urusan yang ini, nanti saja. 

Hal kedua yang membangunkan saya adalah mimpi yang menakutkan. Saya tidak tahu sedang liputan di mana. Tapi dengan jelas saya ingat, saya langsung menyambar kamera. Ah, apesnya, kamera itu lepas dari tangan saya. Brug! Kamera itu jatuh. Saya segera menghambur mengambil kamera lalu mengecek body kamera. Aman, tak ada lecet sedikit pun. Namun saat akan mengecek fungsi memotretnya, tidak jadi karena keburu bangun. 

Saya bisa ingat bagaimana saya depresi ketika menyadari kamera itu jatuh. Itu bukan kamera saya. Itu pinjaman dari suami saya. Kamera yang rela jarang ia pegang agar saya leluasa menggunakannya. Lalu, bukannya menjaga amanat itu, saya malah lalai membiarkannya terjatuh. 

Kamera itu juga senjata bagi saya dan jurnalis lainnya. Kami yang walaupun hanya menulis tetap dituntut mampu memotret. Ketika orang lain memanfaatkan kamera ponsel untuk swafoto, kami harus menggunakannya untuk memotret peristiwa yang dijadikan ilustrasi tulisan kami. 

Tapi saya jarang memanfaatkan kamera ponsel untuk memotret peliputan. Rasanya kurang afdol. Apalagi kalau mesti berjejer dengan para fotografer. Lucunya ketika kamera mereka yang besar dengan moncong yang panjang bersaing dengan kamera ponsel saya yang segede Unyil. Kamera “betulan” lebih mengena digunakan untuk bekerja. 

Berbicara tentang kamera, saya terbilang tidak boros untuk pemakaian kamera DSLR. Baru sekali saya membelinya yaitu Nikon D40. Kamera DSLR saya berikutnya, ya, punya suami ini yang Nikon D90. 

Tapi kalau soal kamera saku, sudah banyak bangkainya. Sejak awal bekerja, saya pernah mencoba dari mulai merek Canon, Kodak, Nikon, sampai Lumix. Karena kemungilannya itu saya simpan di saku, sesuai namanya. Tapi saya sering lupa membiarkan di saku ketika saya melemparkan jaket sepulang kerja. Faktor lain yang menyebabkan kamera saya tewas antara jatuh atau terbanting. 

Lupa bawa kamera, sering membuat saya mati kutu. Atau yang mengesalkan, kamera bawa, tapi baterainya habis. Lupa dicharge. Atau, kamera bawa, tapi memory card tertinggal di card reader yang menempel di komputer. Kelalaian saya yang lain. 

Nah, di era yang serba digital ini, saya berterima kasih pada berbagai kemudahan. Saya mulai ogah membawa laptop karena akan memberatkan beban saya saat bekerja. Kamera berpadu laptop di ransel itu, bikin urat leher kejepit, saudara-saudara. Ada kamera mirrorless yang perawakannya mungil dengan fungsi kamera DSLR, tidak bikin saya tertarik membeli. Mahal! 

Beruntung ada memory card dengan wi-fi yang membuat saya tak perlu bawa laptop, atau ganti kamera. Dia bisa langsung terhubung dengan ponsel. Nyalakan kamera, klik aplikasinya, tring, gambar di kamera muncul di layar ponsel. Tinggal pilih mau simpan yang mana. 

Jadi ketika kemudahan itu sudah begitu banyak, tak perlu lagi memelihara segudang kemalasan. Ha..ha…

Captain America punya perisai sebagai senjata. Kami, para jurnalis punya kamera. Tak ada kamera, mana ada foto Captain America. 

Selamat Hari Pers 2017. 

Tetap Jaya di lapangan. Merdeka!

Sore yang Indah di Jalan Dalem Kaum

Bandung hari ini punya festival (lagi). Kebetulan selalu dilaksanakan pada hari Sabtu. Kebetulan pula lokasinya di Jalan Asia Afrika. Kebetulan juga kantor saya ada di situ. 

Kebetulan yang lain, kalau ada festival di hari Sabtu pasti sekaligus dengan car free night. Artinya Jalan Asia Afrika ditutup hingga waktu yang ditentukan. 

Buat saya ini, memang merepotkan. Saya yang penggemar angkutan umum harus rela berjalan di antara orang yang berkerumun di trotoar. Ditambah hujan, lengkap sudah gejala hareeng saya nanti. 

Rute angkutan umum pun diubah. Arah kendaraan di Jalan Dalem Kaum, belakang Hotel Homann dibalikkan untuk kendaraan yang dialihkan dari Jalan Asia Afrika. Buat saya pilihannya hanya memesan Go-Jek dengan risiko kehujanan. Itu lebih baik dari pada saya menunggu bus atau angkot dan terjebak macet. 

“Saya dari Go-Jek. Bisa tunggu saya 10 menit. Karena saya mau pakai jas hujan dulu,” suara di seberang telfon mengisyaratkan saya tidak membatalkan pesanan. Saya turuti dengan harapan bisa lebih cepat dari 10 menit. 

10 menit. 15 menit berlalu. Saya mulai galau. Tak kuat terlalu lama berdiri. Tapi kalau jongkok, tidak jadi opsi saya saat itu. 

“Mba, posisi dimana? Jalan Dalem Kaum, kan? Saya sudah di Mesjid Agung,” kata si driver yang menelfon dengan nomor yang berbeda dengan yang ada di aplikasi. 

Rupanya yang dia tahu Jalan Dalem Kaum itu adalah Mesjid Agung. Dia tidak baca peta kalau jalan itu bisa empat kali jalan di daerah Mesjid Agung. 

“Saya ini berdiri dari tadi. Di dekat Toko Buku Sinetra. Dekat Hotel Homann. Dekat Jalan Pangarang,” saya jadi sewot. Dan dia bukannya mengerti penjelasan saya. “Jadi Mba nunggunya di Jalan Pangarang?”…Ahhh, saya super duper kesallll!

Di setiap telfon, selalu disisipkan pesan agar saya mau menunggunya. Tapi ini sudah hampir setengah jam. Dan kalau saya pakai moda lain, mungkin saya sudah separuh perjalanan. 

Saya ini terbilang orang yang sabar. Saya akan menunggu tapi itu ada batasnya. Jika memang waktu itu uang, berapa banyak uang saya yang hilang berdiri di pinggir jalan selama setengah jam. Waktu selama itu membuat saya mengenali sosok anak lelaki bertindik sebesar koin yang sudah tiga kali melintas di depan saya. Saya pun jadi ekstra curiga ketika ada lelaki bertato dengan baju robek-robek, dan jalan sempoyongan akan mendekat. 

Telfon saya kembali berbunyi. 

“Mba, posisi Mba sebelah mana Restoran Queen?”

Di titik ini saya mulai merasa dikerjain. Restoran yang dia maksud itu sangat dekat dengan posisi saya berada. Di sebelah restoran itu, ada sebuah tempat karaoke dan di seberang tempat karaoke itu ada toko buku dengan saya berada di depannya. “Saya ke situ sekarang, ya! Ditunggu, ya!”

Batas kesabaran saya sudah habis setelah 10 menit dari telfon itu driver Go-Jek tak juga nongol. Kebetulan ada bus lewat. Sebelum naik, saya kirim pesan singkat yang isinya membatalkan pesanan saya. 

“Waduh, maaf, ya, Mba. Saya solat magrib dulu di Jalan Pangarang. Maaf banget,” jawaban dari pesan saya yang masuk 20 menit kemudian. (*)

Pesan Mamang Sosis Bakar

Kita itu, dalam hidup, harus mengimani rejeki.

Ucapan itu tercetus dari Mamang Sosis Bakar di Sabuga, pagi ini. Rada jleb! Karena sering kali kita kurang bersyukur dengan rejeki yang didapat. Selalu melihat dan iri dengan rejeki orang lain yang jauh lebih dari kita. 

Ucapan Mamang Sosis Bakar itu ditujukan pada Mang Ihin, penjual koran langganan sejak masa kuliah. Saya bertemu Mang Ihin yang mencoba peruntungannya menjual koran di keramaian. Ia galau dengan usahanya. Tapi dia enggan berganti usaha. 

“Sudah keenakan di koran. Jadi sanajan pendapatan turun, tetap dikeureuyeuh,” kata Mang Ihin. 

Pelanggan Mang Ihin kebanyakan mahasiswa yang kuliah di Unpad Dipati Ukur. Tapi karena sejak 2016, mahasiswa baru kuliah di Jatinangor, potensi langganan barunya menghilang. Mahasiswa lama yang jadi pelanggan pun akan segera raib selepas wisuda. Akhirnya Mang Ihin ubah strategi : berburu keramaian. 

Tapi yang dia tahu keramaian yang berpeluang untuk menjual koran hanya di acara wisuda dan wilayah kampus. Mungkin dalam pikirannya, koran hanya akan dibeli dan dibaca oleh kalangan kampus. 

Obrolan kami ngalor-ngidul tentang peluang usaha terpotong pertanyaan Mamang Sosis Bakar. Awalnya dia hanya bertanya tentang lokasi Persib bertanding. Tadinya dia akan mengejar Persib untuk menjual sosis. Tapi karena itu di Kabupaten Bekasi, niat dia urungkan. 

Ternyata Mamang Sosis Bakar ini memang rajin mencari agenda keramaian. Tidak hanya di Bandung. Tapi di Jawa Barat. 

Penjual sosis bakar memang sangat marak. Dimana-mana ada. Tapi layaknya sebuah usaha, lokasi itu jadi kunci kesuksesan penjualan. Ia rela mengejar acara hajat laut ke Subang bahkan ke Pelabuhan Ratu hanya untuk menjual sosis. Ia yakin, dengan usahanya, rejeki akan mengikuti. 

Usaha yang dibangunnya dengan modal Rp 500 ribu itu merupakan usaha yang kesekian kali. Ia pernah menjual roti bakar, sate, kemudian sosis. Mamang sosis bakar ini ibarat kebalikan Mang Ihin. Semua jenis usaha akan dia coba. “Karena saya mengimani rejeki.”

Dari obrolan dengan Mamang Sosis Bakar itu, Mang Ihin mengantongi semangat untuk tetap berusaha. Pilihan Mang Ihin bertahan dengan berjualan koran, bukan pilihan buruk. Namun, ia harus lebih semangat berjualan jika memang itu kemampuan yang ia yakini yang cuma dimilikinya. (*)

Transaksi Gagal Mini Market yang Diabaikan

Sering saya membaca kisah pengalaman buruk berbelanja di mini market. Seperti penyusupan barang yang menyebabkan kita harus membayar lebih. Dan tidak sedikit yang pernah menerima kembalian permen.

Saya juga mengalami. Persis pada hari saya dan keluarga menjemput Mamah yang baru pulang beribadah haji. Titik penjemputan di Pusdikav Padalarang. Saya pun sengaja meminta izin tidak bekerja karena kesibukan tersebut.

Di hari yang sama, paket internet kedua ponsel saya hampir habis. Pengalaman saya membeli pulsa di mini market itu karena cukup cepat dan nominalnya besar sesuai dengan kebutuhan paket internet saya.

Nah, demi kelancaran selfie, wefie, dan segala macam kebutuhan yang berkaitan dengan ponsel, saya harus menstabilkan kuota internet. Enggak lucu rasanya, kalau posting fotonya besok. Enggak up to date!

Maka berhentilah saya di sebuah mini market di dekat SPBU Parongpong. Mini market yang berbeda dengan yang biasa saya belanja pulsa. Singkat kata, saya belanja pulsa yang Rp 150 ribu. Dan kalau berdasarkan pengumuman di kasir saya bisa mendapatkan bonus pulsa Rp 30 ribu. Suami saya yang terima struk pembayaran. Dia hanya periksa daftar belanjaan makanan kami. Lupa kami cek struk pulsanya.

Satu jam, dua jam, hingga pukul 3 sore, sepulang dari jemput Mamah, saya memutuskan kembali ke mini market tadi untuk mempertanyakan pulsa saya. Sebelum turun dari mobil, saya cek struk tadi. Terbelalak saya. Di struk tertulis dengan jelas kalau status dari pemesanan pulsa saya itu: GAGAL. Dan si kasir dengan asik bilang,”pulsanya ditunggu.”

Lalu, begitu saya masuk ke mini market, si kasir tadi langsung ngeuh sama saya dan suami. Dia langsung menjelaskan pengiriman pulsa gagal. Suami saya kadung kesel karena jelas-jelas dalam struk pembayaran pengiriman pulsa gagal. Tapi dia tidak langsung menyatakan gagal. Selain itu tidak ada pemberitahuan kalau transaksi gagal. Padahal nomor saya tercantum di struk itu sebagai nomor yang seharusnya dikirim pulsa.

Dengan entengnya, kasir itu bilang, “diganti uang saja.”

Ya iyalah. Kalau diganti pulsa saya mesti nunggu lagi atuh.

Saya membayangkan bila pembeli itu dari luar kota dan tidak mungkin kembali untuk mengambil uangnya. Dan bagaimana nasib uang itu? Masuk ke kotak sumbangan atau dibagi rata untuk pegawai mini market. ENGGAK RIDO!

Perilaku karyawan yang berada di garis depan dengan konsumen seharusnya tahu etika dan tata krama. Pelayanan terhadap konsumen, sesalah apapun konsumen, tetap nomor satu. Bukan hal yang tidak mungkin, bila trik mendapatkan uang mudah itu disebarluaskan ke karyawan lain akan ditiru dan merugikan konsumen.Dan ini akan jadi cikal bakal kehancuran mini market itu (doa yang mengancam). ***

Aku Ingin Putih

“Ambu, Abah, aku ingin jadi putih!” 

Permintaan mahiwal anak saya itu disampaikan di awal pekan ini. Permintaan ini bukan karena ia sering nonton iklan pemutih kulit. Kalau gara-gara iklan, mungkin dia akan minta juga rambutnya diwarnai, seperti Safeeya, anaknya Ahmad Dhani. Kebayang kalau dia tiba-tiba minta rambutnya diwarnai seperti Inul Daratista atau Titi DJ sebagai bagian efek nonton Golden Memories. 

Permintaan anak saya ini ternyata bukti kegalauan dia atas pergaulannya selama ini. Siapa bilang dunia perbulian itu ada ketika anak mulai bersekolah. Umur 4 tahun juga sudah ada ternyata. 

Begini cerita anak saya. Setiap hari ia bermain dengan beberapa anak tetangga. Satu hari ada sebuah perbincangan menarik yang kemudian sanggup membuat anak saya galau melow. 

“Kinan, kok, kulit kamu mah item sih?” kata anak yang satu. 

“Iya, aku sama Rehan putih. Kok, Kinan item?” pertanyaan kedua diajukan temannya yang satu lagi. 

Pertanyaan yang sama diajukan dua kali pasti bikin anak saya kepikiran. Dia pun mulai ajukan banyak pertanyaan ihwal warna kulitnya. Saya pun memilah kata yang sederhana agar dia paham. 

Namun ternyata itu tidak cukup. Ia menilai jika ingin bermain dengan teman-temannya yang berkulit putih, ya, harus punya kulit putih juga. 

Rajukannya baru mereda ketika dikatakan kulit hitam manisnya itu tidak mengurangi kecantikannya. Ditambah lagi yang penting dia sehat. 

Memang tidak mudah menjauhkan anak dari perasaan dirisak. Dan teman-temannya tidak bermaksud menyakiti anak saya dengan pertanyaannya itu. Namanya juga anak-anak, besar rasa ingin tahunya. 

Tapi sebagai orang tua, kita tidak boleh ikut patah semangat apalagi marah besar ketika anak merasa seperti itu. Kita yang harus membesarkan hati anak dan memberinya pemahaman tentang perbedaan. Karena seumur hidup dia akan melihat banyak perbedaan. (*)

Jika Mati Lebih Dulu

Kalau aku mati duluan, kamu kesepian? Lalu, kalau kamu mati lebih dulu, akankah aku bertahan?

Kalimat itu tetiba terlintas saat saya mencabuti uban massal di kepala saya. Ya, uban pertanda saya semakin menua. Semakin dekat dengan ajal. 

Dekat dengan ajal, pasti urusan akhirat jadi perhatian. Tapi, urusan dunia pun tak kalah berebutan jadi pikiran. 

Buat seorang istri atau suami, kehilangan pasangan ditinggal mati, pasti bagai potong rancatan. Hidup tak lagi seimbang. Tak ada teman sejiwa berbagi perih dan bahagia. 

Bagi istri, saat berpikir kalau ia akan meninggal lebih dulu, yang terpikir, bagaimana nasib suami dan anak-anak? Akankah suami mampu menggantikan pekerjaan domestik yang biasanya dikerjakan istri? Mampukah suami mencuci, menyetrika, memasak, tidak hanya untuk dirinya tapi juga anak-anak? Lalu, sanggupkah suami bertahan tanpa mencari pengganti dirinya?

Demikian juga suami, ketika membayangkan ia akan dipanggil Tuhan lebih dulu, mampukah istri memenuhi kebutuhan finansial keluarga yang dulu adalah tugas suami? Mampukah istri menjadi kepala keluarga menjaga anak-anak? Sampai kapan istri tidak menyerah?

Jangan tanya kenapa saya berpikir demikian. Kematian akan datang kapan saja. Tanpa informasi dan dispensasi. 

Terkadang saya membuat daftar apa yang mesti saya lakukan sebelum mati. Yang dilakukan untuk memberikan manfaat pada orang lain. Sehingga saya tak perlu terlalu banyak menyesal saat mati. 

Saya mungkin lebay. Memang! Karena saya sadar tidak selamanya saya mendampingi orang-orang yang saya sayangi. Dan saya belum banyak berbuat untuk mereka. Saya terlalu apa adanya. Padahal saya bisa berbuat lebih dari “apa adanya”. 

Saya harus berhenti bersikap membantu hanya ketika orang meminta bantuan. Saya harus lebih pandai meraba hati orang. Sehingga tidak perlu mereka berteriak untuk memberi bantuan. 

Hidup memang harus perih. Hidup harus memberi manfaat. Sehingga, ketika kita mati, tidak ada kisah lain yang terucap selain betapa bermanfaat kita saat hidup. (*)

Kipas Angin Murah


Gambar di atas itu adalah kipas angin. Ada yang membantahnya? Pasti tidak, kan! Karena dengan jelas terpampang nyata kalau itu adalah kipas angin. 

Gambar di atas itu bukan air conditioner. Meskipun sama-sama bersumberkan tenaga listrik dan fungsinya yang sama yakni mengademkan, harganya jauh berbeda. Air conditioner harganya bisa jutaan. Tapi kipas angin ada yang di bawah Rp 100 ribu. Persis seperti di gambar yang saya unggah itu. 

Kalimat saya berikutnya tidak akan membahas perbedaan atau persamaan kipas angin dengan alat pendingin lainnya. Kipas angin ini adalah dampak pembelajaran saya dari kelahiran anak pertama. 

Begini, ya, dua kali saya melahirkan di rumah sakit Santosa, saya selalu kebagian ranjang yang berdekatan dengan pintu. Tapi sangat jauh dari air conditioner yang hanya dinyalakan pada malam hari. Sementara siang hari dimatikan. Akibatnya, saya kepanasan. 

Buat ibu-ibu yang baru melahirkan pasti tahu betapa gerahnya kondisi setelah melahirkan. Memakai baju yukensi pun tiada makna. Keringat tetap bercucuran. 

Di kelahiran pertama, tidak terpikir untuk menyiapkan kipas angin. Alasannya sederhana: belum tahu sikon pascamelahirkan. Di kelahiran kedua, lupa menyiapkan. Alasannya: tidak tahu akan kebagian posisi ranjang seperti apa. Layaknya pesawat semestinya tanya ke petugas waktu booking kamar perawatan kamar melahirkan dimana posisi ranjang kita. Berdekatan atau berjauhan dengan AC. 

Di kelahiran pertama, kebetulan rambut saya panjang. Dan lupa pula bawa ikat rambut, jadinya gerahnya maksimal. Saya lupa saat itu apa yang saya gunakan untuk mengikat rambut. Tapi yang pasti, si Abah yang super repot harus mengipas-ngipasi saya terutama ketika menyusui. 

Pada kelahiran kedua, suami saya tidak menemani di malam pertama saya menginap di rumah sakit. Dia harus menyelesaikan tugasnya mengubur ari-ari. Saya yang tidur sendirian dan tak bisa bergerak karena setelah operasi sesar dilarang bergerak selama 12 jam, pasrah dengan hawa panas. 

Baru saat Abah datang, saya menginstruksikannya untuk segera membeli kipas angin kecil. Saya ogah harus gebergeber kertas untuk mengusir panas. Segera Abah mencari informasi tetap berburu kipas angin yang murah meriah. Setelah dapat informasi, Abah bingung dengan rutenya. Beruntung berhasil ditemukan dan ia pun menenteng kipas yang harganya hanya Rp 90 ribu itu. 

Kipas angin itu saya pakai seharian. Karena pada malam hari, angin dari AC tidak sampai ke ranjang saya. Tak peduli kalau akan masuk angin. Yang penting tidak kegerahan. 

Saat pulang, kipas angin itu tidak lupa saya kemas ke dalam kardusnya. Ia difungsikan kembali untuk mengipasi daging domba akikah. Setelah selesai, kembali ke kardusnya. 

Kipas angin itu hanya bertahan 12 bulan dalam kardus. Pasalnya ketika kami hijrah ke rumah Ibu, kami tiba-tiba tidak tahan dengan udaranya. Hawa dingin Lembang yang sudah terbiasa kami rasakan. 

Kipas angin mirip kincir yang dipaku di tembok tidak bertahan lama. Jadi kami kembali pada kipas ini yang usianya sama dengan anak bungsu saya 2 tahun 5 bulan. Dengan perawatan yang rutin, saya yakin akan awet. So, buat yang akan menginap di rumah sakit, saran saya, bawalah kipas angin kecil. Siapa tahu butuh?

Ruangan Kami Pindah Lagi

Akibat kebakaran kantor kami di Jalan Soekarno Hatta tiga tahun lalu, kami ‘urbanisasi’ ke kantor pusat. Ya, urbanisasi, karena kantor yang awalnya berada di pinggiran itu mengungsi ke tengah perkotaan. 

Tidak usah membayangkan ruangan di kantor kami yang ublag-ablag. Kami harus rela berbagi komputer seperti di Warung internet (warnet). Memang berasa di warnet karena komputer yang digunakan pun tertulis: rental. Tapi, kan, sekarang semua musim rental. Mobil, rumah, apartemen, dsb. Tidak perlu memikirkan perawatan. Rusak, tinggal minta tukar. 

Beruntung tertolong teknologi, sehingga dengan gawai kami bisa mengetik dan mengirim pekerjaan dengan selamat sentosa sampai ke kantor. Meskipun demikian, kami tetap mengantor. Menyetor telapak tangan ke mesin absen. Kalau tidak, bisa absen juga uang makan dan transportasi. Dan jerih payah kita, yang tetap kerja itu dibayar dengan pahala. He…he…!

Setelah hampir tiga tahun, menempati ruangan di kantor pusat, datang kabar, kami harus pindah ke ruangan lain. Waktu dan lokasi belum ditentukan. Tapi tidak lama dari kabar itu, barang-barang di ruangan kami sudah diangkut ke ruangan baru. 

Ini dia ruangan baru kami yang terletak di lantai dua gedung lama. Tangga gedung dengan tingkat kemiringan dahsyat yang mungkin hampir 45 derajat harus kami panjat setiap harinya. 


Saya sempat berasumsi kepindahan ke ruangan baru itu, di lantai dua itu, karena berat badan kami. Iya, berat badan saya yang harus ramping. Jadi daripada memaksa olah raga yang kemudian ditolak dengan alasan sibuk dan banyak liputan, dicarikan solusi yang tidak bisa dibantah: naik turun tangga. 

Keberatan badan saya untuk naik tangga sehingga sedikit malas memanjat itu ditambah dengan gosip horor di ruangan itu. Ada yang bilang kursi berputar sendiri atau ada suara ketikannya tapi tak ada orang. Paling horor katanya lama mandi yang di pojok itu. Tapi tadi saya ke kamar mandi aman-aman saja. Ah, gosip yang belum terbukti. 

Yang mungkin agak mengerikan adalah tangga itu dimana membuat anak bungsu saya sakit. Soal ini, di tulisan lain saya ceritakan. 

Tapi, ruangan ini jauh lebih luas. Meskipun kita seruangan dengan atasan yang enggak wajar bila bergosip dengan suara kencang, tapi setidaknya memiliki keleluasaan menggunakan komputer. Setiap desk, duduk berdekatan. Tapi saya belum ketemu dimana meja saya. Jadi saya memakai komputer rekan lain yang kebetulan belum datang ke kantor. 


Pindahan kantor saya terbilang mendingan. Tiga tahun, baru pindah. 

Coba lihat Apotek Kimia Farma yang kebetulan bertetangga dengan kantor saya itu. Sekarang sudah pindah lagi ke bagian yang paling pojok dekat Hotel Ibis. Sebelumnya sempat pindah ke pojok yang dekat ke Jalan Asia Afrika. 

Sebenarnya pojok itu yang pertama saya lihat sejak pindah kantor. Karena ada acara Konferensi Asia Afrika, pojok itu dipakai media Center. Apotek pasrah pindah ke bagian tengah. Cukup lama di situ, kembali pindah ke pojok awal. Eh, entah kenapa pindah lagi jadi di pojok yang sekarang. 

Saya membayangkan repotnya pindahan. Memindahkan furnitur masih mending. Gimana kalau mesti membuat furnitur baru sesuai dengan luas ruangan. Belum lagi menyetel ulang praktik dokter. Lalu membayar tukang untuk mengangkut barang, memasang furnitur, instalasi listrik, dan merapikan etalase. Tentunya, sehari saja, apotek harus tutup untuk kegiatan itu. Kalau pun tetap buka, pasti ada jam lembur dan konsumen sedikit terganggu. 

Tapi, tak apalah, buku saja mengenal revisi. Ruangan juga mengenal renovasi. 

Sun-Day-Fun-Day

Hari Minggu adalah menu Sunday Fun Day buat dua anak saya. Meskipun saya tetap bekerja (baca: mengetik untuk kantor), waktu bersama mereka di hari Minggu wajib ada. Makanya, mulai Minggu tadi saya pakai tagar #sundayfunday untuk kegiatan saya dan mereka. 

Sebenarnya, tagar tersebut tidak sengaja saya dapat ketika mengunggah foto kegiatan kami. #sundayfunday, menarik juga untuk jadi tema. Apalagi mataharinya lumayan menyengat, cocok disebut “Sun Day”. Tapi setelah bersenang-senang, sore harinya kami dihadiahi hujan. Adem. 

#sundayfunday ini juga sebenarnya sedikit modus saya bisa scan telapak tangan di kantor alias ngabsen. Jadi sambil bawa anak main, tetap dapat uang makan dan transportasi dari kantor. 

Menu #sundayfunday dimulai dengan berjalan kaki dari rumah ke jalan raya. Sekitar 10 menit, kami berjalan meski sesekali si Galink minta digendong. Bahkan baru naik angkot pertama sudah mengeluh mengantuk. 

Angkutan umum berikutnya berlanjut dengan bus Trans jurusan Cicaheum-Cibeureum. Tidak lama naik bus, dua anak mulai cape duduk. Mereka tidak tahan untuk lari-larian. 


Tapi setelah turun dari bus di Braga, mereka merajuk ingin jajan di mini market. Keluar mini market, kembali berhenti karena harus melihat kereta api yang melintas. Pikir saya, tak apa, toh, sebentar lagi mereka harus kuat jalan kaki lagi menyusuri Braga hingga ke Asia Afrika. 

Dan mereka benar-benar kuat. Sepanjang jalan banyak yang ditanyakan. Paling seru ketika melihat lukisan yang dijajakan di jalan yang mereka susuri. 


Nah, ketika mau menyebrang ke Bank Jabar Banten, saya tawari mereka untuk mencicipi es potong. Meski belepotan, saya biarkan. Setelan baju ganti ada di tas. 


Asli, itu es potong memang enak. Sebagai ibu, harus selalu siap untuk membersihkan makanan sisa anak. Jadi saya mencicipi gigitan terakhirnya. 

Singkat cerita, kami sampai ke kantor saya. Istirahat sekitar setengah jam lalu berlanjut berburu kesenangan berikutnya. 

Kedua anak saya super excited melihat cosplay yang berjejer. Ceuceu merengek minta foto bareng, tapi tidak jelas foto dengan cosplay yang mana. Yang jelas, mereka tak banyak pikir ketika berhadapan dengan mamang tukang buah. Dua-duanya memilih semangka. 


Jalan berikutnya, menyusuri jalan Banceuy hingga Penjara Soekarno. Keduanya menggemaskan sekaligus agak mengesalkan. Tapi itulah anak-anak. Mereka berlarian tanpa lelah. Tapi sebagai hadiahnya, saya ajak mereka makan bakso dan belanja ke Yogya Pajajaran. Terakhir hanya si Galink yang terlelap di angkutan kota dan saya mesti menggendongnya sambil berlarian agar dia tidak ikut basah diguyur hujan. 

Hari Pertama Sekolah

Awal masuk sekolah sekarang, sampai-sampai ada instruksi agar orang tua mengantar anaknya ke sekolah. Sebetulnya, kalau orang tua paham tugasnya, tidak perlu, tuh, ada instruksi-instruksi segala. 

Nenek saya saja, waktu saya masuk SD paham soal itu. Dia antar saya ke sekolah. Menunggui saya selama belajar. Terkadang wajahnya nongol di jendela kelas. Saya saja yang mungkin kurang bersyukur. Diantar nenek ke sekolah, malah saya yang iri lihat teman sekelas yang diantar dan ditunggui ayah dan ibunya. 

Proses antar hari pertama oleh orang tua yang sebenarnya, tidak benar-benar saya rasakan waktu SMP dan SMA. Bapak mengantar saya mengenal sekolah hanya pada saat daftar ulang. SMP yang saya pilih cukup jauh dari rumah. Waktu SD saya cukup jalan kaki. Atau udunan naik becak. Itu kalau ada sisa uang jajan minggu lalu. 

Masuk SMP, saya memadukan model perjalanan jalan kaki dan ngangkot. 15 menit saya jalan kaki dari rumah ke jalan besar. Dan 30-45 menit naik angkot. 

Saat daftar ulang di SMP, saya sangat senang diantar Bapak. Dia menunjukkan angkot yang harus saya naiki untuk berangkat ke sekolah. Proses daftar ulang cukup lama, dan Bapak mulai bosan. Dia pamit pulang duluan. Sementara saya nyangkut di sekolah. 

Saat pulang, saya yang kebingungan harus pakai angkot apa. Karena angkot saat berangkat tidak lewat di depan sekolah ke arah sebaliknya. Bapak yang jadi panduan saya sudah tidak ada. Artinya saya harus mencari informasi lain. 

Kejadian serupa berulang di SMA dan kuliah. Bapak hanya mengantar. Tidak menunggui. Dia menunjukkan jalan pergi. Tapi tak meninggalkan arah pulang. 

Saya akhirnya terbiasa dengan kebiasaan Bapak. Saya tahu, Bapak percaya saya bisa menemukan jalan pulang meski tidak bersama dirinya. Malahan selanjutnya saya yang keasyikan mencari banyak rute jalan pulang. 

Kebiasaan mencari rute pulang yang berbeda dengan pergi sudah saya lakukan sejak SD. Alasannya, sih, menghindari si Hunter, anjing komplek Saibi. Saya hampir dikejar oleh Hunter waktu pergi sekolah. Akhirnya, saya berburu rute pulang yang berbeda yang malah lebih jauh dari biasanya. Yang penting terhindar dari gigitan Hunter. 

Kalau SMP agak sulit mencari rute berbeda. Karena sekolah saya SMPN 25 yang dulu masih di Jalan Kelenteng, rutenya, ya, segitu-gitu saja. Agak nyeleneh, saya bisa masuk-keluar gang demi mencoba rute baru. Eh, pernah sekali jalan kali, sih, dari sekolah. Bukan karena kepengen, tapi harus! Ada pesawat jatuh di Jamika sehingga tidak ada angkutan umum. 

Kalau SMA dan kuliah pencarian rute pulang baru itu lebih mahir. Saya coba semua angkot yang berdekatan trayeknya dengan sekolah. Di SMA juga saya pernah pulang jalan kaki karena angkot menghilang akibat tiga partai kampanye bersamaan di hari terakhir. 

Kebiasaan mencari rute baru itu yang mungkin membuat saya hapal jalan dan rute angkot. Tapi yang mengherankan, keterampilan saya itu, kan, tidak terlihat kasat mata di penampilan saya. Tapi, tapi, kenapa saya sangat sering ditanya orang peta di Bandung? Ini masih jadi pertanyaan besar. 

Kembali ke persoalan masuk sekolah, ada alasan tiap orang tua mengantar atau tidak anaknya di hari pertama sekolah. Yang terpenting dari semua itu, kemampuan orang tua untuk membuat anaknya terbuka dan kepekaan orang tua terhadap persoalan anaknya. Saya yakin tidak ada, kok, orang tua yang abai di hari pertama sekolah.***