Sampai Maut Memisahkan…

 

IMG_7792Sebulan lalu.
Sepasang suami istri duduk bersama sambil menerawang masa depan mereka. Di rumah kontrakan mereka, yang sempit itu, mereka hidup bersama dua anak perempuannya. Belum 10 tahun perkawinan yang diarungi tapi evaluasi untuk perbaikan hubungan perkawinan telah jadi bahasan keduanya.
Tiba-tiba sang suami berkata bahwa ia telah memutuskan berhenti berjualan. Ya, selama ini pasangan ini menafkahi keluarganya bahu-membahu. Sang suami menjadi tukang pijat panggilan dan pekerjaan apa pun yang dibutuhkan orang sepanjang itu halal. Istrinya di rumah membantu si suami dengan membuka kedai bakso. Sebagai tambahan untuk menopang keuangan keluarga, si istri berjualan pakaian secara online.
Menjadi tukang pijat panggilan, tentunya, dengan penghasilan yang tidak tentu. Ketika tidak ada panggilan, si suami bekerja sama dengan istrinya melayani pelanggan bakso. Tapi di tengah pembeli yang kian ramai, si suami memutuskan untuk menutup kedainya.
Segala keperluan berjualan bakso sudah dikemasi. Keputusannya bulat. “Tidak lagi berjualan,” ucapnya tegas.
Sang istri heran tidak terkira. Kalau tidak berjualan, akan bekerja apa untuk menghidupi keluarga, pikirnya. Tapi, segala macam cara tidak akan mampu menghentikan keputusan suaminya untuk “menggantungkan buleng bakso”.

Dua minggu kemudian.
Kembali sepasang suami istri itu duduk bersama dengan pembicaraan yang jauh lebih serius.
“Mah, Bapa minta maaf ya.”
“Kenapa atuh, Pa?”
“Bapa belum sanggup membahagiakan Mamah. Belum sanggup membelikan rumah untuk Mamah dan anak-anak. Belum bisa membelikan harta benda seperti suami-suami lain.”
Si istri tersenyum, tanda ia tidak mempermasalahkan apa yang dibicarakan suaminya. Sang suami melanjutkan perkataannya.
“Mamah, di antara kita, siapa yang meninggal duluan ya? Mamah atau Bapa?”
Ah, Bapa ngomongnya kemana aja!”
“Mending Bapa aja yang meninggal duluan. Kalau Mamah yang duluan, Bapa gak bisa urus anak-anak. Ya Mah, Bapa aja yang duluan!”
“Apa sih? Suka ngaco omongannya.”
“Kalau Bapa meninggal duluan, Bapa pengen dimandiin sama Mamah. Janji ya.”

Malam Idul Adha.
Pasangan suami istri itu hendak mudik ke rumah orang tua si istri. Seperti biasanya, suami pamit pada ibu yang biasa ia panggil Eyang. Dalam pelukan Eyang, si suami berbisik memohon maaf. Pelukannya kian erat. Pelukan yang dinilai si Eyang berlebihan.
Setelah Isya, berangkatlah keluarga kecil itu menggunakan elf ke Majalengka. Sepuluh menit menjelang mereka tiba di titik terakhir, si istri menghubungi keluarganya bahwa ia dan keluarganya akan segera tiba.
Namun, itu jadi sepuluh menit terpanjang. Elf yang mereka tumpangi mendadak oleng. Tubuh kendaraan melayang, menerobos batas jalan hingga terjun ke lereng terjal. Penumpang terlempar ke luar kendaraan. Hanya si istri dan sopir yang tersisa di kendaraan yang tersangkut di pohon cengkeh. Suami dan dua anaknya entah dimana.
Tangannya terjepit kursi kendaraan. Mungkin ada patah tulang. Si istri berteriak minta tolong. Rupanya, di bawah lereng itu, ada pemukiman warga. Semua korban dibawa ke RSUD Majalengka.
Di antara mereka, hanya si anak bungsu yang mengalami luka paling ringan. Si suami, koma dan tidak tertolong. Si anak cikal juga koma. Saat elf terbang dan melemparkan penumpang-penumpangnya, si cikal dalam pelukan si Bapa. Sang istri baru tahu suaminya meninggal ketika akan dikuburkan di kampung halaman suami. Tangis tak tertahan. Di antara tangisannya itu, ia meneriakkan penyesalannya. Ia merasa tidak mampu menepati janjinya: memandikan sang suami.
Di pemakaman, ratusan orang datang. Ratusan orang yang memiliki kenangan dengan almarhum. Sahabat-sahabat tak kuasa menahan tangis. Beberapa sahabat, lelaki dan perempuan, satu per satu berjatuhan setelah melihat wajah sang sahabat terakhir kalinya. Wajah yang penuh luka.
Di antara kawan dan keluarga yang pingsan, si istri tetap tegar dan terus memanggil almarhum suaminya. Ia berharap semua itu hanya mimpi. Mimpi yang tak perlu jadi kenyataan.
Sehari setelah Idul Adha, ia kehilangan suaminya. Suami yang usianya 34 tahun. Tapi ia tidak akan hancur. Ia akan bangkit untuk dirinya, anak-anaknya, dan kenangan bersama suaminya.
Untuk sang suami, Yana, selamat jalan..
Untuk si istri, Irma, yang sabar. Kamu bisa melaluinya.
Al-Fatihah…

Advertisements

Penting, Ga Penting

Apa pentingnya, sih, meliput sidang promosi doktor? 

Bagi saya juga enggak terlalu penting. Tapi enggak demikian dalam pekerjaan saya. Gelar doktor diraih karena adanya “kekinian” dalam riset yang dilakukan si calon doktor. “Kekinian” inilah yang akan memberikan kontribusi dalam ilmu pengetahuan. 

Namun, buat segelintir orang, mungkin si calon doktor atau panitianya, ekspos media tidak demikian penting. Kami, kelompok kuli tinta ini diundang atau ditugaskan meliput, tapi tidak diberi kebebasan akses. Kebebasan akses yang saya maksud itu berupa posisi tempat duduk yang memudahkan menyimak paparan si calon doktor. Atau mendapatkan ringkasan disertasinya. 

Dulu, ya, dulu, tahun lalu saya sempat meliput sidang doktor di ruangan yang sangat besar. Bisa dibilang, mewah. Tapi saat masuk, tidak ada buku ringkasan disertasi yang diterima. 

“Bukunya hanya untuk undangan,” kata si panitia. 

Selanjutnya, panitia menyuruh kami ini untuk menunggu hingga akhir karena seusai kegiatan akan ada konferensi pers. 

Ternyata itu bukan kejadian pertama dan terakhir. Kami sempat disuruh menunggu humas perguruan tinggi memfoto copy buku ringkasan disertasi. Karena panitia hanya memberikan satu buku. Dan jumlah wartawan yang membutuhkan itu puluhan. 

Kejadian serupa terjadi hari ini. Buku akan diberikan di akhir, itu pun kalau ada sisa, mungkin. 

Padahal di ruangan sidang, saya melihat buku itu hanya gular-goler. Mungkin nanti pun seusai pulang akan ditinggal. Atau dibawa trus diantep dan dikilo. 

Ada juga yang mungkin agar “Asal Bapak Senang” (ABS). Karena saya lihat ada beberapa orang yang selfie dengan menjadikan buku ringkasan itu sebagai bukti hadir di acara tersebut. Ini yang geuleuh!

Tapi, apa daya. Ikhlaskan saja!(*)

Perempuan Hamil dan Grab

Ini bukan kisah saya. Ini kisah teman saya. Pengalaman dia menjadi penumpang mobil berbasiskan aplikasi.

Teman saya ini, kebetulan tengah hamil. Bulan ini menginjak ke sembilan. Kalau kata orang tua, ‘bulan alaeun’. Sejak usia kandungan menginjak tujuh bulan, teman saya sudah menghindari berkendara dengan sepeda motor. Berbahaya, kata bidannya.

Ia pun semakin akrab dengan mobil berbasiskan aplikasi. Ia berlangganan Grab. Alasannya, selain murah, banyak promonya. Ya iya, potongan harganya bisa sampai Rp 10.000. Ditambah lagi, nyaman. Gak perlu takut kepanasan dan kebasahan air hujan.

Satu hari, ketika ia berkendara dengan Grab, sopirnya seorang mahasiswa. Teman saya agak kaget karena si sopir yang kaget melihat perut teman saya itu. Rupanya ia baru saja mendapatkan pengalaman yang tidak akan mungkin dilupakan. Pengalaman yang membuat ia sedikit paranoid bertemu dengan perempuan yang hamil tua.

“Tadi saya mengantar ibu hamil juga. Dan hampir melahirkan di mobil,” si sopir Grab mengawali kisahnya.

Meski sudah ada taksiran lahiran oleh dokter, tapi lahiran bisa kapan saja, di mana saja. Seperti perempuan tadi, yang merasa air ketubannya pecah sehingga ia harus segera diantarkan ke rumah sakit.

Bagi si sopir yang masih mahasiswa dan belum pernah berhadapan dengan perempuan yang akan melahirkan, ini menjadi hal yang berat. Ia ikut panik. Padahal pikirannya harus jernih dan mengingat di mana rumah sakit terdekat.

Beruntung posisi terakhir kendaraan ada di Jalan Braga pendek sehingga penumpang tidak perlu lama berada dalam kendaraan. Setelah penumpang diantarkan ke Rumah Sakit Bungsu, panik si sopir tak juga hilang. Malahan kekhawatiran yang sama muncul ketika teman saya yang juga hamil tua menjadi penumpangnya. Keberuntungan yang beruntun.

Cuti melahirkan

Perempuan hamil bekerja, bukanlah pemandangan asing sekarang. Setiap perusahaan memang memberikan hak cuti hamil atau tepatnya melahirkan selama tiga bulan. Tapi jarang ada perempuan hamil yang mengambil cuti di usia kandungan kurang dari tujuh bulan. Kalau pun ada, disebabkan kondisi tertentu.

Sebagian besar perempuan akan mengambil cuti menjelang kelahiran. Alasannya, mereka ingin lebih lama bersama bayi yang baru dilahirkan. Cutinya saja tiga bulan. Jauh dari usaha memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Tidak heran bila setelah bekerja, ibu menyusui akan diburu waktu menyiapkan persediaan ASI bagi bayinya selama ditinggali kerja.

“Bekerja pun tidak hanya membawa satu tas karena ada tas lain berisikan pompa ASI dan botolnya,” seperti yang saya jalani bersama dua anak saya.

Perempuan pekerja saat ini memang tidak bisa banyak berharap pada peraturan dan perusahaan. Mereka terpaksa berupaya menyiapkan yang terbaik bagi anak-anak dan keluarga.

Persiapan

Perempuan hamil tua yang bersikeras tetap bekerja memang harus lebih ekstra menjaga dirinya. Apalagi saat kemana-mana sendirian. Banyak hal yang disiapkan berkaitan persalinan karena tidak tahu kapan bayi akan keluar.

1. Selalu membawa catatan kehamilan dari dokter.

2. Di panggilan cepat, nomor utama adalah keluarga terdekat. Agar ketika terjadi hal mendadak, orang yang menolong dapat segera menghubungi keluarga.

 

Pendidikan Seks bagi Anak Kecil

*tulisan ini saya salinkan dari Kompas cetak edisi Sabtu, 8 April 2017 pada rubrik Psikologi, asuhan Agustine Dwiputri

Sebagai orang tua yang tinggal di Indonesia, berbicara tentang seks dengan anak merupakan salah satu hal yang benar-benar membuat Anda merasa tidak nyaman. Bagaimana melakukannya agar tidak salah tingkah?

Rasanya beberapa petunjuk yang diberikan Jane C Sacknowitz & Ron Kerner (1998) dalam tulisannya mengenai How to Talk to Children about Sex dapat kita panuti, tentunya tetap disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga dengan kekhasannya masing-masing. 

Seks sering menjadi topik yang tidak dibicarakan dengan terbuka, dianggap tabu. Bahkan, antar pasangan yang sudah menikah pun, keterbukaan mereka tentang hal-hal seksual sangatlah beragam. Pertanyaan saya adalah dari mana anak-anak kita mendapatkan pengetahuan yang paling benar dan aman, dalam arti tidak menyesatkan, mengenai suatu subjek atau topik kehidupan yang penting ini, jika bukan dari orang tuanya sendiri? Mungkin orang tua dapat membelikan buku-buku yang membahas subyek ini jika merasa tidak sanggup menyampaikannya sendiri. Namun, rasanya tetap perlu jika kemudian mendiskusikannya bersama.

Menurut Sacknowitz & Kerner, seksualitas merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang manusia dan seharusnya menjadi bagian alami dari proses pengasuhan seperti halnya kita berkembang bersama dengan anak-anak kita. 

Kesehatan reproduksi

Di Indonesia, pakar di bidang Keluarga Berencana menggunakan istilah yang dipandang lebih dapat diterima dalam lingkungan budaya kita, yaitu pendidikan kesehatan reproduksi. Sebagai pendidik kesehatan reproduksi, orang tua diajak untuk menentukan hal-hal yang merupakan fakta dan mana yang fiksi, kita juga harus menentukan sikap dan nilai-nilai kita sendiri tentang seks. Pemahaman sejak dini mengenai hal ini diharapkan juga membantu anak berkembang menjadi pribadi dewasa yang menghargai tubuh, seksualitas, dan dirinya sendiri. 

Bagaimana kita memberi tahu anak-anak kita tentang kesehatan reproduksi, apa yang kita katakan kepada mereka dan kapan kita memberi tahu mereka, bergantung pada perasaan dan sikap kita yang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kepribadian kita serta reaksi timbal balik dengan anak sendiri.

Kapan dimulai?

Sacknowitz & Kerner mengatakan bahwa saat bayi memasuki dunia ini, mereka adalah makhluk seksual. Hal pertama yang orang tua ingin tahu adalah apakah bayinya perempuan atau laki-laki. Kemudian, pikirkan berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk memegang, memeluk, menyentuh, memberi makan, memandikan dan membersihkan sang bayi, yang akan membentuk tugas-tugas perawatan dasar selama Berhari-hari dan bulan pertama kehidupannya. Semua tugas ini memberi anak Anda suatu perasaan awal tentang keselamatan, keamanan, dan rasa cinta. Anak belajar untuk memenuhi kebutuhan tersebut, paling awal dengan menangis ketika merasa lapar, basah, atau sakit. Mereka belajar cara mendapatkan kepuasan dan kegembiraan. Mereka belajar apa yang menyenangkan dan apa yang tidak. 

Anak belajar

Anak-anak sejak awal kehidupan telah belajar dengan apa yang mereka lihat dan rasakan di rumah mereka. Ketika ibu atau ayah saling memberikan pelukan, atau ketika anak-anak berpelukan di pangkuan orang tua, mereka belajar tentang kehangatan, keamanan, dan kenyamanan akan kasih sayang secara fisik.

Kesehatan reproduksi adalah bagian alami dari pengalaman awal anak balita. Mandi, latihan buang air kecil dan besar (toilet training), serta kebersihan pribadi merupakan bagian terpadu dari pengalaman awal anak di rumah. Bagaimana kebiasaan dan tugas sehari-hari ditangani akan memberikan kesan abadi kepada anak-anak dan perasaan mereka tentang diri sendiri ataupun tubuh mereka. 

Anak laki-laki dan perempuan buang air kecil dalam posisi yang berbeda dan ini diajarkan selama masa anak balita. Membujuk, mendukung, dan membimbing anak dalam masa belajar ini akan memastikan berkembangnya rasa percaya diri dan kompetensi pada anak. Masa ini adalah waktu yang tepat bagi anak-anak untuk mulai berkreatifitas dengan orang tua sesama jender/jenis kelamin dan memahami suatu hari, dia akan tumbuh menjadi seorang pria atau wanita dewasa.

Keingintahuan

Anak-anak memiliki segudang pertanyaan begitu mereka menjadi ingin tahu tentang kesehatan reproduksi. Acap kali, orangtua dikejutkan oleh pertanyaan tentang bagaimana awal kehidupan seseorang atau bagaimana bayi lahir. Dalam menanggapinya, penting untuk diingat bahwa penjelasan yang sederhana tetapi jujur adalah yang terbaik. Anak Anda menginginkan jawaban segera, bukan kuliah panjang lebar. Rentang perhatian anak kecil masih pendek dan biasanya puas dengan komentar singkat. Misalnya, anak usia 3 tahun mungkin telah puas dengan penjelasan bahwa bayi tumbuh di perut ibu dan keluar melalui jalan khusus ketika bayi sudah siap lahir.

Jadi, menjawab lah secara langsung dan terus terang, sesuaikan respons Anda dengan usia dan tingkat pemahaman anak.

Sikap Anda terhadap pertanyaan anak tentang kesehatan reproduksi sama pentingnya dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Jika Anda menghindari pertanyaan, berpura-pura tidak mendengarnya atau menegur anak karena bertanya, Anda menciptakan situasi anak belajar untuk tidak bertanya. Pesan Anda adalah bahwa ada sesuatu yang saya dengan bertanya hal-hal semacam itu; mereka bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan mereka atau tubuh mereka. Sambutlah pertanyaan tersebut sebagai bagian alami dari kehausan anak akan pengetahuan.

Beberapa petunjuk 

Berikut saya ambilkan beberapa hal yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi pertanyaan anak balita kita seputar kesehatan reproduksi. 

– Jujur, menjawab apa yang Anda bisa, sederhana dan dengan santai tetapi serius.

– Jangan takut mengatakan, “Saya tidak tahu”. Anda selalu dapat memberi tahu anak bahwa Anda akan membicarakan masalah itu nanti dan ada waktu untuk memikirkan bagaimana Anda ingin menjawab.

– Gunakan bahasa yang benar, bukan dengan istilah/kiasan yang sering digunakan masyarakat awam, seperti “burung” untuk penis. Jangan takut menggunakan bahasa yang tepat secara anatomis untuk menggambarkan bagian tubuh dan fungsi seksual. 

– Yakinkan dan dorong rasa ingin tahu anak. Belajar tentang tubuh kita dan diri kita sendiri merupakan bagian terpadu dari pengembangan harga diri yang positif.

– Tampilkan sikap positif. Perasaan Anda tentang seks akan tersampaikan kepada anak dan akan mempengaruhi sikap bahwa ia sedang berkembang. 

– Bina keterbukaan komunikasi. Setiap saat, anak-anak perlu tahu bahwa mereka dapat bertanya, berdiskusi, dan berbagi dengan orang tua tentang sejumlah isu dan perasaan yang penting.

– Perasaan, sikap dan nilai-nilai tentang seksualitas sering disampaikan secara nonverbal. Waspadai apa yang Anda lakukan serta apa yang Anda katakan karena anak akan menangkapnya. (*)

Captain America ala Gue

Suara adzan subuh tidak terdengar. Saya yang terlalu pulas tidur atau hujan yang cukup deras disertai angin yang menutup pendengaran saya. Saya tidak tahu. Tapi dua hal yang saya tahu yang membuat saya melompat dari kasur lalu terjaga. 

Hal pertama, angin kencang yang berteman hujan itu dikhawatirkan menggeserkan genting-genting di atap rumah. Sudah dua kali kejadian, ruang kesayangan saya, tempat saya membaca, merajut, dan menulis disiram air bocoran genting. Tidak perlu ada yang ketiga. Tapi kalau pun ada, tak kan ada baju yang akan disetrika yang harus basah. Semua baju hasil cucian saya seminggu ini, sudah dikemas dalam keresek. 

Saya pun memeriksa lantai dengan kaki. Mata dan telinga saya dipertajam untuk mencari titik-titik kebocoran. Dua tangan saya memegang dua baskom layaknya Captain America dengan perisainya. Aha! Saya mendengar dua tetesan berjatuhan dengan tempo yang berbeda. Terdeteksi sudah ada dua titik kebocoran. Pikiran saya kemudian mulai bergerilya, mencari cara agar tidak perlu lagi ada kebocoran. Solusinya: panggil tukang. Urusan yang ini, nanti saja. 

Hal kedua yang membangunkan saya adalah mimpi yang menakutkan. Saya tidak tahu sedang liputan di mana. Tapi dengan jelas saya ingat, saya langsung menyambar kamera. Ah, apesnya, kamera itu lepas dari tangan saya. Brug! Kamera itu jatuh. Saya segera menghambur mengambil kamera lalu mengecek body kamera. Aman, tak ada lecet sedikit pun. Namun saat akan mengecek fungsi memotretnya, tidak jadi karena keburu bangun. 

Saya bisa ingat bagaimana saya depresi ketika menyadari kamera itu jatuh. Itu bukan kamera saya. Itu pinjaman dari suami saya. Kamera yang rela jarang ia pegang agar saya leluasa menggunakannya. Lalu, bukannya menjaga amanat itu, saya malah lalai membiarkannya terjatuh. 

Kamera itu juga senjata bagi saya dan jurnalis lainnya. Kami yang walaupun hanya menulis tetap dituntut mampu memotret. Ketika orang lain memanfaatkan kamera ponsel untuk swafoto, kami harus menggunakannya untuk memotret peristiwa yang dijadikan ilustrasi tulisan kami. 

Tapi saya jarang memanfaatkan kamera ponsel untuk memotret peliputan. Rasanya kurang afdol. Apalagi kalau mesti berjejer dengan para fotografer. Lucunya ketika kamera mereka yang besar dengan moncong yang panjang bersaing dengan kamera ponsel saya yang segede Unyil. Kamera “betulan” lebih mengena digunakan untuk bekerja. 

Berbicara tentang kamera, saya terbilang tidak boros untuk pemakaian kamera DSLR. Baru sekali saya membelinya yaitu Nikon D40. Kamera DSLR saya berikutnya, ya, punya suami ini yang Nikon D90. 

Tapi kalau soal kamera saku, sudah banyak bangkainya. Sejak awal bekerja, saya pernah mencoba dari mulai merek Canon, Kodak, Nikon, sampai Lumix. Karena kemungilannya itu saya simpan di saku, sesuai namanya. Tapi saya sering lupa membiarkan di saku ketika saya melemparkan jaket sepulang kerja. Faktor lain yang menyebabkan kamera saya tewas antara jatuh atau terbanting. 

Lupa bawa kamera, sering membuat saya mati kutu. Atau yang mengesalkan, kamera bawa, tapi baterainya habis. Lupa dicharge. Atau, kamera bawa, tapi memory card tertinggal di card reader yang menempel di komputer. Kelalaian saya yang lain. 

Nah, di era yang serba digital ini, saya berterima kasih pada berbagai kemudahan. Saya mulai ogah membawa laptop karena akan memberatkan beban saya saat bekerja. Kamera berpadu laptop di ransel itu, bikin urat leher kejepit, saudara-saudara. Ada kamera mirrorless yang perawakannya mungil dengan fungsi kamera DSLR, tidak bikin saya tertarik membeli. Mahal! 

Beruntung ada memory card dengan wi-fi yang membuat saya tak perlu bawa laptop, atau ganti kamera. Dia bisa langsung terhubung dengan ponsel. Nyalakan kamera, klik aplikasinya, tring, gambar di kamera muncul di layar ponsel. Tinggal pilih mau simpan yang mana. 

Jadi ketika kemudahan itu sudah begitu banyak, tak perlu lagi memelihara segudang kemalasan. Ha..ha…

Captain America punya perisai sebagai senjata. Kami, para jurnalis punya kamera. Tak ada kamera, mana ada foto Captain America. 

Selamat Hari Pers 2017. 

Tetap Jaya di lapangan. Merdeka!

Sore yang Indah di Jalan Dalem Kaum

Bandung hari ini punya festival (lagi). Kebetulan selalu dilaksanakan pada hari Sabtu. Kebetulan pula lokasinya di Jalan Asia Afrika. Kebetulan juga kantor saya ada di situ. 

Kebetulan yang lain, kalau ada festival di hari Sabtu pasti sekaligus dengan car free night. Artinya Jalan Asia Afrika ditutup hingga waktu yang ditentukan. 

Buat saya ini, memang merepotkan. Saya yang penggemar angkutan umum harus rela berjalan di antara orang yang berkerumun di trotoar. Ditambah hujan, lengkap sudah gejala hareeng saya nanti. 

Rute angkutan umum pun diubah. Arah kendaraan di Jalan Dalem Kaum, belakang Hotel Homann dibalikkan untuk kendaraan yang dialihkan dari Jalan Asia Afrika. Buat saya pilihannya hanya memesan Go-Jek dengan risiko kehujanan. Itu lebih baik dari pada saya menunggu bus atau angkot dan terjebak macet. 

“Saya dari Go-Jek. Bisa tunggu saya 10 menit. Karena saya mau pakai jas hujan dulu,” suara di seberang telfon mengisyaratkan saya tidak membatalkan pesanan. Saya turuti dengan harapan bisa lebih cepat dari 10 menit. 

10 menit. 15 menit berlalu. Saya mulai galau. Tak kuat terlalu lama berdiri. Tapi kalau jongkok, tidak jadi opsi saya saat itu. 

“Mba, posisi dimana? Jalan Dalem Kaum, kan? Saya sudah di Mesjid Agung,” kata si driver yang menelfon dengan nomor yang berbeda dengan yang ada di aplikasi. 

Rupanya yang dia tahu Jalan Dalem Kaum itu adalah Mesjid Agung. Dia tidak baca peta kalau jalan itu bisa empat kali jalan di daerah Mesjid Agung. 

“Saya ini berdiri dari tadi. Di dekat Toko Buku Sinetra. Dekat Hotel Homann. Dekat Jalan Pangarang,” saya jadi sewot. Dan dia bukannya mengerti penjelasan saya. “Jadi Mba nunggunya di Jalan Pangarang?”…Ahhh, saya super duper kesallll!

Di setiap telfon, selalu disisipkan pesan agar saya mau menunggunya. Tapi ini sudah hampir setengah jam. Dan kalau saya pakai moda lain, mungkin saya sudah separuh perjalanan. 

Saya ini terbilang orang yang sabar. Saya akan menunggu tapi itu ada batasnya. Jika memang waktu itu uang, berapa banyak uang saya yang hilang berdiri di pinggir jalan selama setengah jam. Waktu selama itu membuat saya mengenali sosok anak lelaki bertindik sebesar koin yang sudah tiga kali melintas di depan saya. Saya pun jadi ekstra curiga ketika ada lelaki bertato dengan baju robek-robek, dan jalan sempoyongan akan mendekat. 

Telfon saya kembali berbunyi. 

“Mba, posisi Mba sebelah mana Restoran Queen?”

Di titik ini saya mulai merasa dikerjain. Restoran yang dia maksud itu sangat dekat dengan posisi saya berada. Di sebelah restoran itu, ada sebuah tempat karaoke dan di seberang tempat karaoke itu ada toko buku dengan saya berada di depannya. “Saya ke situ sekarang, ya! Ditunggu, ya!”

Batas kesabaran saya sudah habis setelah 10 menit dari telfon itu driver Go-Jek tak juga nongol. Kebetulan ada bus lewat. Sebelum naik, saya kirim pesan singkat yang isinya membatalkan pesanan saya. 

“Waduh, maaf, ya, Mba. Saya solat magrib dulu di Jalan Pangarang. Maaf banget,” jawaban dari pesan saya yang masuk 20 menit kemudian. (*)

Pesan Mamang Sosis Bakar

Kita itu, dalam hidup, harus mengimani rejeki.

Ucapan itu tercetus dari Mamang Sosis Bakar di Sabuga, pagi ini. Rada jleb! Karena sering kali kita kurang bersyukur dengan rejeki yang didapat. Selalu melihat dan iri dengan rejeki orang lain yang jauh lebih dari kita. 

Ucapan Mamang Sosis Bakar itu ditujukan pada Mang Ihin, penjual koran langganan sejak masa kuliah. Saya bertemu Mang Ihin yang mencoba peruntungannya menjual koran di keramaian. Ia galau dengan usahanya. Tapi dia enggan berganti usaha. 

“Sudah keenakan di koran. Jadi sanajan pendapatan turun, tetap dikeureuyeuh,” kata Mang Ihin. 

Pelanggan Mang Ihin kebanyakan mahasiswa yang kuliah di Unpad Dipati Ukur. Tapi karena sejak 2016, mahasiswa baru kuliah di Jatinangor, potensi langganan barunya menghilang. Mahasiswa lama yang jadi pelanggan pun akan segera raib selepas wisuda. Akhirnya Mang Ihin ubah strategi : berburu keramaian. 

Tapi yang dia tahu keramaian yang berpeluang untuk menjual koran hanya di acara wisuda dan wilayah kampus. Mungkin dalam pikirannya, koran hanya akan dibeli dan dibaca oleh kalangan kampus. 

Obrolan kami ngalor-ngidul tentang peluang usaha terpotong pertanyaan Mamang Sosis Bakar. Awalnya dia hanya bertanya tentang lokasi Persib bertanding. Tadinya dia akan mengejar Persib untuk menjual sosis. Tapi karena itu di Kabupaten Bekasi, niat dia urungkan. 

Ternyata Mamang Sosis Bakar ini memang rajin mencari agenda keramaian. Tidak hanya di Bandung. Tapi di Jawa Barat. 

Penjual sosis bakar memang sangat marak. Dimana-mana ada. Tapi layaknya sebuah usaha, lokasi itu jadi kunci kesuksesan penjualan. Ia rela mengejar acara hajat laut ke Subang bahkan ke Pelabuhan Ratu hanya untuk menjual sosis. Ia yakin, dengan usahanya, rejeki akan mengikuti. 

Usaha yang dibangunnya dengan modal Rp 500 ribu itu merupakan usaha yang kesekian kali. Ia pernah menjual roti bakar, sate, kemudian sosis. Mamang sosis bakar ini ibarat kebalikan Mang Ihin. Semua jenis usaha akan dia coba. “Karena saya mengimani rejeki.”

Dari obrolan dengan Mamang Sosis Bakar itu, Mang Ihin mengantongi semangat untuk tetap berusaha. Pilihan Mang Ihin bertahan dengan berjualan koran, bukan pilihan buruk. Namun, ia harus lebih semangat berjualan jika memang itu kemampuan yang ia yakini yang cuma dimilikinya. (*)

Transaksi Gagal Mini Market yang Diabaikan

Sering saya membaca kisah pengalaman buruk berbelanja di mini market. Seperti penyusupan barang yang menyebabkan kita harus membayar lebih. Dan tidak sedikit yang pernah menerima kembalian permen.

Saya juga mengalami. Persis pada hari saya dan keluarga menjemput Mamah yang baru pulang beribadah haji. Titik penjemputan di Pusdikav Padalarang. Saya pun sengaja meminta izin tidak bekerja karena kesibukan tersebut.

Di hari yang sama, paket internet kedua ponsel saya hampir habis. Pengalaman saya membeli pulsa di mini market itu karena cukup cepat dan nominalnya besar sesuai dengan kebutuhan paket internet saya.

Nah, demi kelancaran selfie, wefie, dan segala macam kebutuhan yang berkaitan dengan ponsel, saya harus menstabilkan kuota internet. Enggak lucu rasanya, kalau posting fotonya besok. Enggak up to date!

Maka berhentilah saya di sebuah mini market di dekat SPBU Parongpong. Mini market yang berbeda dengan yang biasa saya belanja pulsa. Singkat kata, saya belanja pulsa yang Rp 150 ribu. Dan kalau berdasarkan pengumuman di kasir saya bisa mendapatkan bonus pulsa Rp 30 ribu. Suami saya yang terima struk pembayaran. Dia hanya periksa daftar belanjaan makanan kami. Lupa kami cek struk pulsanya.

Satu jam, dua jam, hingga pukul 3 sore, sepulang dari jemput Mamah, saya memutuskan kembali ke mini market tadi untuk mempertanyakan pulsa saya. Sebelum turun dari mobil, saya cek struk tadi. Terbelalak saya. Di struk tertulis dengan jelas kalau status dari pemesanan pulsa saya itu: GAGAL. Dan si kasir dengan asik bilang,”pulsanya ditunggu.”

Lalu, begitu saya masuk ke mini market, si kasir tadi langsung ngeuh sama saya dan suami. Dia langsung menjelaskan pengiriman pulsa gagal. Suami saya kadung kesel karena jelas-jelas dalam struk pembayaran pengiriman pulsa gagal. Tapi dia tidak langsung menyatakan gagal. Selain itu tidak ada pemberitahuan kalau transaksi gagal. Padahal nomor saya tercantum di struk itu sebagai nomor yang seharusnya dikirim pulsa.

Dengan entengnya, kasir itu bilang, “diganti uang saja.”

Ya iyalah. Kalau diganti pulsa saya mesti nunggu lagi atuh.

Saya membayangkan bila pembeli itu dari luar kota dan tidak mungkin kembali untuk mengambil uangnya. Dan bagaimana nasib uang itu? Masuk ke kotak sumbangan atau dibagi rata untuk pegawai mini market. ENGGAK RIDO!

Perilaku karyawan yang berada di garis depan dengan konsumen seharusnya tahu etika dan tata krama. Pelayanan terhadap konsumen, sesalah apapun konsumen, tetap nomor satu. Bukan hal yang tidak mungkin, bila trik mendapatkan uang mudah itu disebarluaskan ke karyawan lain akan ditiru dan merugikan konsumen.Dan ini akan jadi cikal bakal kehancuran mini market itu (doa yang mengancam). ***

Aku Ingin Putih

“Ambu, Abah, aku ingin jadi putih!” 

Permintaan mahiwal anak saya itu disampaikan di awal pekan ini. Permintaan ini bukan karena ia sering nonton iklan pemutih kulit. Kalau gara-gara iklan, mungkin dia akan minta juga rambutnya diwarnai, seperti Safeeya, anaknya Ahmad Dhani. Kebayang kalau dia tiba-tiba minta rambutnya diwarnai seperti Inul Daratista atau Titi DJ sebagai bagian efek nonton Golden Memories. 

Permintaan anak saya ini ternyata bukti kegalauan dia atas pergaulannya selama ini. Siapa bilang dunia perbulian itu ada ketika anak mulai bersekolah. Umur 4 tahun juga sudah ada ternyata. 

Begini cerita anak saya. Setiap hari ia bermain dengan beberapa anak tetangga. Satu hari ada sebuah perbincangan menarik yang kemudian sanggup membuat anak saya galau melow. 

“Kinan, kok, kulit kamu mah item sih?” kata anak yang satu. 

“Iya, aku sama Rehan putih. Kok, Kinan item?” pertanyaan kedua diajukan temannya yang satu lagi. 

Pertanyaan yang sama diajukan dua kali pasti bikin anak saya kepikiran. Dia pun mulai ajukan banyak pertanyaan ihwal warna kulitnya. Saya pun memilah kata yang sederhana agar dia paham. 

Namun ternyata itu tidak cukup. Ia menilai jika ingin bermain dengan teman-temannya yang berkulit putih, ya, harus punya kulit putih juga. 

Rajukannya baru mereda ketika dikatakan kulit hitam manisnya itu tidak mengurangi kecantikannya. Ditambah lagi yang penting dia sehat. 

Memang tidak mudah menjauhkan anak dari perasaan dirisak. Dan teman-temannya tidak bermaksud menyakiti anak saya dengan pertanyaannya itu. Namanya juga anak-anak, besar rasa ingin tahunya. 

Tapi sebagai orang tua, kita tidak boleh ikut patah semangat apalagi marah besar ketika anak merasa seperti itu. Kita yang harus membesarkan hati anak dan memberinya pemahaman tentang perbedaan. Karena seumur hidup dia akan melihat banyak perbedaan. (*)

Jika Mati Lebih Dulu

Kalau aku mati duluan, kamu kesepian? Lalu, kalau kamu mati lebih dulu, akankah aku bertahan?

Kalimat itu tetiba terlintas saat saya mencabuti uban massal di kepala saya. Ya, uban pertanda saya semakin menua. Semakin dekat dengan ajal. 

Dekat dengan ajal, pasti urusan akhirat jadi perhatian. Tapi, urusan dunia pun tak kalah berebutan jadi pikiran. 

Buat seorang istri atau suami, kehilangan pasangan ditinggal mati, pasti bagai potong rancatan. Hidup tak lagi seimbang. Tak ada teman sejiwa berbagi perih dan bahagia. 

Bagi istri, saat berpikir kalau ia akan meninggal lebih dulu, yang terpikir, bagaimana nasib suami dan anak-anak? Akankah suami mampu menggantikan pekerjaan domestik yang biasanya dikerjakan istri? Mampukah suami mencuci, menyetrika, memasak, tidak hanya untuk dirinya tapi juga anak-anak? Lalu, sanggupkah suami bertahan tanpa mencari pengganti dirinya?

Demikian juga suami, ketika membayangkan ia akan dipanggil Tuhan lebih dulu, mampukah istri memenuhi kebutuhan finansial keluarga yang dulu adalah tugas suami? Mampukah istri menjadi kepala keluarga menjaga anak-anak? Sampai kapan istri tidak menyerah?

Jangan tanya kenapa saya berpikir demikian. Kematian akan datang kapan saja. Tanpa informasi dan dispensasi. 

Terkadang saya membuat daftar apa yang mesti saya lakukan sebelum mati. Yang dilakukan untuk memberikan manfaat pada orang lain. Sehingga saya tak perlu terlalu banyak menyesal saat mati. 

Saya mungkin lebay. Memang! Karena saya sadar tidak selamanya saya mendampingi orang-orang yang saya sayangi. Dan saya belum banyak berbuat untuk mereka. Saya terlalu apa adanya. Padahal saya bisa berbuat lebih dari “apa adanya”. 

Saya harus berhenti bersikap membantu hanya ketika orang meminta bantuan. Saya harus lebih pandai meraba hati orang. Sehingga tidak perlu mereka berteriak untuk memberi bantuan. 

Hidup memang harus perih. Hidup harus memberi manfaat. Sehingga, ketika kita mati, tidak ada kisah lain yang terucap selain betapa bermanfaat kita saat hidup. (*)