Perempuan, Persenjatai Diri Saat Keluar Malam


Kringgggg..ponselku menjerit. Nomor teman yang ku tinggalkan di kedai kopi rupanya. Saat ku angkat, dia langsung nyerocos dan tidak memberi kesempatan aku membalas sapaannya. Suaranya panik dan nafas yang terengah-engah.

“Sekarang aku di taksi setelah 25 menit menunggu. Tadi aku takut banget,” kata dia.

Ternyata setelah ku tinggalkan di kedai kopi, dia tidak langsung pulang. Ada teman, katanya, sehingga obrolan dia berlanjut seiring dengan usahanya mendownload software di BB-nya dengan bantuan wi-fi. Tak terasa sudah larut malam. Tak ada taksi yang parkir menunggu penumpang. Semua full book. Wajar, karena hampir tengah malam.

Setengah beruntung, dia menghubungi operator taksi, memesan taksi untuk menjemputnya. “Mbak, maaf agak lama jemputnya. Semua taksi sedang full,” sahut sang operator.

Dia rela menunggu. Tiba-tiba sebuah mobil menghampirinya. Keluar seorang lelaki berusaha mendekatinya. Dia panik dan berlari mencari perlindungan hingga menemukan seorang pria yang memberinya suaka. Apa daya jika tak ada sang pria baik hati dan senjata sebagai perlindungan?

Mungkin itu dasar pemikiran beberapa wilayah menerapkan jam malam bagi perempuan yang berkeluyuran sendirian. Bukannya merendahkan perempuan, tapi ini juga demi keselamatannya. Bukankah lebih banyak perempuan yang menjadi korban kejahatan? Dan sudahkah perempuan membekali diri untuk melindungi diri sendiri?*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s