Saat Tidak Dipanggil Juga


Sepuluh. Dua puluh berkas. Aku masih sanggup menghitung secara akuntansi berapa banyak uang yang sudah ku keluarkan untuk melamar pekerjaan. Beli koran, surfing di warung internet, rental komputer plus cetak, amplop, dan perangko. Belum lagi ongkos ungkag-ingkig.

Lebih dari jumlah itu, aku sudah malas menghitungnya. Menghitung berapa banyak modal untuk mendapatkan pekerjaan sebagai bagian pengejawantahan ilmu yang ku kenyam selama 17 tahun. Dalam otakku, yang namanya bekerja itu, adalah berada di kantor, mengenakan seragam, libur di akhir pekan, dan menerima gaji di akhir bulan. Itu juga yang ada dalam benak orang tuaku.

Puluhan instansi pemerintah dan swasta telah ku kirimi surat lamaran. Meskipun saat dites selalu gagal di tahap akhir, tapi aku tak pernah menyerah. Terus mengirim tanpa harapan yang berlebihan.

Hingga saat itu tiba, aku menerima tawaran kakak sepupuku. Menjadi baby sitter bagi dua anaknya yang duduk di sekolah dasar. Aku datang tiap pagi dan pulang setelah maghrib. Aktivitas rutinku di antaranya mempersiapkan keperluan mereka, antar jemput sekolah, menunggui saat les gambar, dan mengajar mereka di rumah.

Kalau ada waktu senggang, aku membantu kakak sepupuku membuatkan soal ujian. Tiap bulan tidak kurang dari Rp 600 ribu ku kantongi dari pekerjaan sambilan itu. Aku bahagia dengan itu. Sebuah pekerjaan yang memberikan aku bekal di tempat pekerjaanku sekarang, menjadi seorang pejuang.*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s