Anyelir, PSK Berilmu Belut


Alkisah ada seorang pekerja seks komersial (PSK) yang sering mangkal di kios-kios yang terletak di sekitar Stadion Singaperbangsa. Sebut saja, Anyelir. Dia sudah jadi pembicaraan umum di kios tersebut.

Anyelir memang sudah tak bireuk lagi di kios-kios itu. Jika tak sedang on duty, dia memang kerap nongkrong di situ. Kios itu pula merupakan tempat nongkrong aparat penegak hukum yang ‘lepas piket’. Anehnya pula, kata para aparat penegak hukum itu, kalau mereka tengah lepas piket, selalu bertemu dengan si Anyelir yang tengah menjajakan dirinya. Tapi, saat mereka bertugas bahkan merazia wanita-wanita yang berprofesi seperti Anyelir, tidak pernah ada Anyelir dalam tangkapannya.

Aku penasaran seperti apa rupa si Anyelir yang licin bak belut itu. Hingga satu hari aku bertemu dengannya. Anyelir tidak tampak seperti seorang PSK yang muncul di sinetron. Ia tidak menor. Rambutnya lurus hasil rebonding. Saat itu, ia hanya mengenakan celana jeans pendek yang dipadupadankan dengan kaus ungu berlengan pendek. “Tugas saya sudah selesai kok,” ucapnya sementara jarinya lincah memencet keypad telefon genggamnya.

Ya..Anyelir akan tampak sesantai itu jika dia sedang libur. Berbeda dengan hari kerjanya yang sibuk. Dia harus menemui kliennya dari satu hotel ke hotel lainnya. Hanya senyum yang tersungging di sudut bibirnya ketika ditanya resepnya meloloskan diri dari razia.

Aku jadi ingat ketika ikut tim penyisir PSK ke diskotik, hotel-hotel, losmen, hingga warung remang-remang. Saat kami merazia sebuah diskotik dan tempat karaoke di bilangan perlintasan menuju Gerbang Tol Karawang Barat, dari radio terdengar ada informasi Anyelir terendus tengah berada di Hotel “O”, wilayah Karawang Kota. Kendaraan diputar balik ke hotel tersebut.

Setiap kamar diketuk dan dimasuki. Tapi tak ada tanda-tanda Anyelir. Hingga seorang informan polisi mengatakan, Anyelir sudah check out 5 menit lalu. Sang polisi pun merahuh. Esok malamnya, sang polisi lepas piket dan bertemu Anyelir. Ditanya lari kemana saat hotel digerebek, lagi-lagi Anyelir tertawa. Ilmu belutnya tetap menjadi rahasia dalam senyum di sudut bibirnya.*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s