Singkat-Singkat Sering Salah


NAMAKU sederhana. Dewiyatini.

Aku memang buah cinta orang tuaku. Tapi namaku tidak. Aku adalah cucu terakhir yang dinamai oleh kakekku. Setelah tiga tahun nama itu ku sandang, kakekku, Abdul Rasyid meninggal dunia. Aku pun hanya mengenali wajahnya dari sebuah foto berpigura yang dipajang di ruang tamu rumah nenekku di Banjaran, Kabupaten Bandung.

Jujur, sampai sekarang aku tidak tahu dengan pasti makna dari nama yang ku sandang itu. Buatku terlalu pendek, hingga satu hari aku pernah berniat mengganti akte kelahiranku dengan nama lain. Adisti Gustiani, nama yang ku pilih.

Nama itu cukup menarik, bahkan terlalu menarik. Ciamik. Dan itu nama impianku. Adisti adalah nama peran dalam film Kabut Sutra Ungu yang dimainkan oleh Yeni Rahman. Saat itu, nama Adisti terbilang jarang dipakai dalam film-film. Lagipula aku ingin namaku terpampang di urutan daftar hadir paling atas. Sedangkan, Gustiani, aku ambil dari bulan kelahiranku. Agustus.

Tapi asal muasal namaku yang dibuatkan kakek, hanya sedikit yang ku tahu. Kakekku member nama ku dengan huruf depan “D”, karena aku lahir hari Jumat. Menurut hitungan hanacarakadatasawala, huruf itulah nama depanku. Sisanya? Aku tak tahu. Yang pasti, kakekku tidak senang nama yang panjang.

Nyatanya namaku tidak panjang. Lima suku kata. Tapi itu justru yang menyusahkan dalam administrasi baik di sekolah hingga sekarang. Namaku bisa berubah-ubah. Di rapor sekolah dasar DEWIYATINI. Ketika sekolah menengah pertama, DEWI YATINI. Sekolah menengah atas sempat menjadi lebih pendek DEWIYANTI. Bahkan di saat kuliah, setiap tahun selalu ada kesalahan dalam jumlah kata namaku.

Khawatir bermasalah dengan nama yang singkat-singkat susah dan sering salah itu, aku berusaha mengoreksi namaku di tiap surat kelulusan agar sama satu kata. Aku tak mau bermasalah ketika membuat surat-surat penting kemudian hari. Bayangkan, mengubah satu huruf saja, itu mesti datang ke beberapa instansi dan birokrasi yang cukup panjang.

Aku pernah alami itu ketika sekolah menengah pertama. Pihak sekolah menjadikan namaku menjadi dua kata. Ketika diprotes berdasarkan formulir yang ku tulis, barulah namaku diperbaiki dengan susah payah. Tapi karena memang tidak jatah lagi, namaku itu disulap dengan tipe ex hingga kembali menjadi satu kata.

Namun setelah tidak sekolah, terutama ketika berurusan dengan pengisian formulir gaya barat, ternyata harus memiliki nama depan dan belakang, seperti mengisi aplikasi surat elektronik. Namaku pun kembali menjadi DEWI YATINI. Tampaknya nama keluarga sangat penting bagi mereka. Tapi sayangnya di keluargaku tidak dikenal nama keluarga yang biasa dilekatkan di belakang nama keturunannya. Mungkin nanti kalau aku sudah bersuami, nama suamiku akan ku sematkan di akhir namaku, sehingga aku mempunyai nama depan dan belakang. Huhuy!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s