Mengurai Macet Itu Mahal!


“Loh ko pake bawa laptop segala? Kan, berat!”
“Nanti sore pulang ke Bandung, ambil motor.”
“Emang langsung berangkat abis kerja?”
“Enggak lah, kerja dulu, ngepak dulu sebentar. Bus abis magrib masih ada kan?” “Biasanya ada terutama yang ekonomi.”

Kali ini, kali pertama aku pulang naik bus bersamanya. Sepeda motor yang biasa kami tumpangi Karawang-Bandung, memang tengah diistirahatkan di rumahnya. Sudah dua pekan si Desi Seksi cuti. Penggantinya si Mbit. Nah, sudah saatnya si Desi Seksi kembali kami pacu jelajahi Karawang.

Ba’da magrib, kami jalan kaki dari kontrakan ke sisi jalan raya perlintasan angkutan kota. Tiga bulan sudah bus dilarang melintasi Karawang Kota. Macet, katanya. Keluar dari Gerbang Tol Karawang Timur, bus dan truk, dialihkan ke jalan baru perempatan Warung Bambu dan keluar di Tanjung Mekar, Tanjungpura (jejeran kantor Kecamatan Karawang Barat, Komisi Pemilihan Umum Kab. Karawang, Perpustakaan dan Arsip Daerah, Sturada, dan BPLHD). Alasan pengalihan itu, kata Pemkab Karawang, untuk mengurai kemacetan di sepanjang jalan protokol.

Mengurai kemacetan itu mahal harganya. Untuk naik bus, yang biasa cukup menunggu di depan gang, kini harus sambung menyambung angkot. Beruntung kalau angkot dari Jln. By Pass A. Yani mau mengantar hingga ke perempatan Warung Bambu. Kalau tidak, dua kali lipat ongkos mesti dikeluarkan untuk dua jurusan angkot (kontrakan-Johar, lalu Johar-Klari).

Perjalanan pertama dengannya bisa dibilang untung tidak untung hehe! Untung pertama, ada angkot yang mau mengantar sampai terminal Klari. Tidak untung pertama, untuk dapat bus Primajasa Cikarang-Bandung, kami mesti menunggu sejam lebih. Dia sering menyumpahi si bus (aku pilih tutup telinga saja akh!). Itu pun dapatnya bus ekonomi via Purwakarta non AC pula. Untung kedua, ongkosnya irit, hanya Rp 18 ribu plus angkot, totalnya Rp 20.500. Itu cuma sampai Gerbang Tol Pasir Koja. Tidak untung kedua, karena dia tidak mendapat angkot menuju rumahnya di Lembang (kasihan kamu Nak!). Oh ya, sekalian aja, pesan buat sopir angkot, ngalong donk, lumayan buat tambahan!

Di bus, kalau siang hari mungkin tidak nyaman karena panas. Tapi malem hari, angin semliwir boi, asoy walau aku mesti menahan batuk karena dinginnya. Ketika naik, tak ada jok kosong. Kami berdiri. Tiba-tiba di tikungan menuju GT Karawang Timur, kami duduk di jok yang terpisah. Dan, tiba di GT Cikopo, kami duduk di jok yang sama. Setelah itu, yang ku ingat hanya saat bus sampai di GT Padalarang Barat, karena aku sudah tertidur lelap dengan ransel di perutku.

Pesan moral perjalanan kali ini :
» Jangan pulang malam-malam kalau tinggal di daerah yang enggak punya TERMINAL KELAS A, soalnya jadwal bus engga bisa ditebak. Perkuat ilmu SABAR!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s