Seperti Agnes Monica, Aku pun JERA …


Memangnya hanya Agnes Monica yang berhak bilang “jera”. Gw juga punya hak yang sama. Bedanya, gw ‘ga mengalami “jera”-nya Agnes. Gw hanya “jera” jadi pemesan makanan dan pemandu lagu. Terlalu sering diprotes. Memang ‘ga bakat kali!

Tapi yang paling ‘ga bisa dimengerti, berkali2 terbukti pesananku tidak sesuai dengan kemauan mereka, lagi2 mereka mendaulatku sebagai pengorder. What the hell is it? Sepertinya mereka sengaja menjebakku agar bisa mempersalahkanku terus2an. (*Upps, tak boleh demikian berprasangka pada orang lain)

Seperti saat jadi “pemandu lagu” dadakan, beberapa kali mereka men-cancel lagu yang kupilihkan. Alasannya klasik, tidak cocok dengan suara mereka. Harus bagaimana lagi. Menurut gw, bukan lagunya yang tidak cocok, tapi memang suara mereka yang tidak cocok dengan lagu apa pun. Hihi!

Belajar dari pengalaman itu, gw menyerah dech jadi pe-el. Ogah dihujat karena nadanya terlalu tinggi. C’mon man, ini karaokean, bukan organ tunggal. Bukan music yang menyesuaikan wid ur voices, tapi suara kalian yang mesti menyesuaikan dengan alunan music yang pakemnya sudah begitu.

Gw juga sudah malas jadi pemesan makanan. Semua punya selera masing2. Dan gw ‘ga bisa menebak makanan apa yang orang lain inginkan. Lebih baik kalian pilih masing-masing, makanan apa yang kalian suka lalu habiskan. Gw ‘ga mau jadi kambing hitam. (*kulit gw memang item tp gw bukan kambing)

Kejadian di Rumah Makan Lebak Sari, dekat Gerbang Tol Karawang Barat I, gw harap terakhir kali gw jadi pemesan makanan. Siang itu, si ‘Doeput ngajak gw bersama si G’gah, si B’wel, si En’tog, dan si ‘Jkung makan. Setibanya di rumah makan, si G’gah langsung memesan. Yang lain pun protes dan si ‘Doeput menyarankan makan bersama saja, tak perlu masing2. Kami sepakat, gw jadi pemesan.

Gurame goreng, cah kangkung sapi, karedok, dan ikan mas cobek akhirnya tersaji. Tak tahan lapar, dihajarlah makanan itu. Tapi si G’gah bergeming dan mengisap rokoknya. Dia tak menyentuh piring pun. Ketika ditanya, “Sok aja, gampang”, dan piring itu tak pernah dipakai hingga kami pulang. Tak ada alasan atas itu. Saat itu.

Tapi, setibanya di halaman gedung DPRD Kab. Karawang, terjadilah hearing. Dia merasa tersinggung karena masalah makan saja mesti diatur2. Hey.. gw ‘ga terima dikatakan begitu, karena gw ‘ga pernah mengatur. Apalagi soal makanan apa yang akan mereka masukkan ke mulut mereka. Keluarlah berbagai macam kalimat yang buat gw males menanggapinya. Gw pilih diam dan pensiun jadi pemesan makanan. It’s enough! Gw jeraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ….*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s