Petani Bukanlah Cita-cita


Ketika ditanya oleh gurunya soal cita-cita, sangat sedikit anak sekolah yang dengan terang-terangan bercita-cita menjadi seorang petani. Mereka pasti lebih memilih menjadi dokter, polisi, arsitek, dan polisi. Di mata mereka, profesi petani tidak menjanjikan masa depan cerah. Setidaknya itu di Indonesia.

Buat saya, wajar saja mereka berkeinginan demikian. Mereka memilih cita-cita selain petani tanpa berpikir realistis. Padahal secara realistis, profesi petani itu berada di titik yang memprihatinkan.

Coba dengar saja keluhan mereka. Dengan meminjam uang ke rentenir, mereka yang tidak memiliki lahan garapan, nekad menyewa lahan. Besarannya tidak kurang dari Rp 2 juta per hektare setiap musimnya. Belum lagi biaya beli benih. Dihitung-hitung tidak kurang dari Rp 4 juta per hektarenya, modal untuk menanam.

Kemarin saya bertemu seorang petani di Kampung Bentengjaya Kelurahan Tunggak Jati Kecamatan Karawang Barat, Ombi (63). Sudah dua tahun, Ombi merugi di musim banjir. Sawah sewaannya seluas lima hektare ludes tersapu banjir. Tidak hanya itu, menurut Ombi, petani itu yang katanya tulang punggung negara agraris tidak pernah diperjuangkan. Para pemimpin daerah hanya berkoar-koar semasa kampanye. Sudah itu?  Sepertinya amnesia!

Memperjuangkan nasib petani itu hanya slogan yang dipasang di pamplet dan spanduk. Kenyataannya di lapangan, nihil. Ombi bilang dari awal masa tanam sampai masa panen, petani selalu susah. Pada masa persiapan tanah, petani dihadapkan dengan keterlambatan datangnya air. Lalu pada masa pembenihan, tidak jarang serangan tikus mengganas. Bahkan pada saat padi berisi, hama wereng, siput, dan penggerek tanaman menghancurkan rencana pendapatan panen petani. Belum lagi ketika panen dan masa penggilingan, harga gabah tidak bersahabat dan para preman sudah siap menyergapnya.

Khusus soal preman, para petani ibarat sudah keenakan menjadi korban. Setiap panen, para petani itu dimintai 50 perak setiap kilogramnya. Kebayang khan, luas sawah di Kabupaten Karawang yang mencapai 94.311 hektare dengan produksi 5 ton per hektarenya. Bisa dihitung berapa banyak uang petani yang menguap tidak jelas. Hampir Rp 23 miliar dalam satu musimnya.

Akibatnya, para petani pun enggan membayar pajak. Anggapan mereka, pemerintah selama ini selalu memaksa petani membayarkan kewajiban mereka, tetapi haknya selalu dilupakan. Contohnya di Kecamatan Tempuran Kab. Karawang, luas lahan mencapai 3.000 hektare dengan nilai pajak tidak lebih dari Rp 600 juta. Jika dari 3.000 hektare lahan itu menghasilkan 15.000 ton, maka uang petani yang menguap bisa mencapai Rp 750 juta. Jauh lebih besar dari pajak yang seharusnya diterima negara.

Dengan kondisi demikian, tidak salah khan kalau anak-anak jaman sekarang tidak mau menjadi petani. Pemerintah pun seolah tidak memberikan kesempatan pada petani untuk maju. Alih fungsi lahan pun selalu diberikan dengan mudah. Petani yang tidak mau susah, akhirnya memilih menjual lahannya. Uang diterima secara instan, tak perlu banyak pikiran.

Jadi para pemimpin silakan saja, memikirkan nasib masing-masing. Urusi saja kepentingan politik kalian. Lupakan saja, rakyat kecil yang sering diiming-imingi janji.*

Advertisements

2 thoughts on “Petani Bukanlah Cita-cita

  1. Dewi153 says:

    Jadi petani ternyata “sengsara” karna kbanyakan cuma penggarap. Tanahnya msh lumayan mahal disini uy! Kudu nabung dulu nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s