Kampret, KTP Kadaluwarsa!


Baru kali ini menyadari Kartu Tanda Penduduk (KTP) sudah kadaluwarsa. Tidak kira-kira, tiga bulan. Lupa, karena jarang memperhatikan tulisan “Berlaku s/d”. Memang tidak pernah terlalu saya perhatikan. Tepatnya, tidak pernah saya perhatikan.

Kesadaran yang ibarat “hidayah” itu baru datang saat saya hendak melengkapi formulir pembaruan data Jamsostek. Kumpulan kotak yang kayak Teka Teki Silang (TTS) pertama yang mesti diisi adalah soal tempat lahir disusul status menikah dan kewarganegaraan. Sampai kotak selanjutnya, nomor KTP sudah saya isi lengkap. Nah, saat isi masa berlaku KTP, saya mesti berkali-kali menyipitkan mata melihat di kartu biru langit. 14 Agustus 2009.

Langsung saya hentikan pengisian formulir itu. Saya berpikir harus menjadi warga negara yang baik, harus memperpanjang masa berlaku KTP, tentunya memajang foto terbaru. He he!

Baru kali ini, KTP saya awet dalam artian bisa bertahan sampai akhir masa berlakunya bahkan terlampaui. Soalnya, di masa lalu, KTP saya lebih sering hilang sepaket dengan dompetnya. Saya lupa sudah berapa kali dompet hilang. Mungkin lebih dari lima kali sejak saya punya dompet. Tapi kalau KTP, sih, seingat saya dua kali.

Dua kali ini saya hitung dari rentang usia semenjak KTP itu wajib dimiliki, 17 tahun. KTP pertama, 17-22 tahun. KTP kedua, 22-27 tahun. KTP ketiga, 27-32 tahun. Berarti di usia saya yang ke-28, seharusnya baru satu tahun KTP ketiga saya dipakai. Nah KTP terakhir saya buat pada 2004, saat pengajuan sidang skripsi sekaligus kebutuhan wisuda.

Sayangnya, pembaruan KTP itu tidak bisa dilakukan dimana saja. Itu pula yang menyusahkan dalam persyaratan administrasi. Contohnya, saya yang bertugas di Karawang hendak membuka rekening bank di Karawang, saya mesti mengantongi KTP Karawang, padahal KTP saya Bandung. Demikian pula SIM, atau saat membeli dan kredit kendaraan serta kredit rumah. Betapa ribetnya negara ini!

Pilihannya, ya sudah, memiliki KTP lebih dari satu saja kalau begitu. Itu yang dilakukan oleh sebagian orang. Dan, kebetulan saya belum menjadi bagian sebagian orang itu. Prosedur pengajuannya tidak susah, cukup nebeng sama kartu keluarga orang lain dan bayar sesuai “tariff” yang diminta petugas pembuat.

Nah, yang susah waktu mereka (pemerintah) mendata warga untuk kebutuhan pemilihan umum (pemilu) dan pemilihan kepala daerah (pilkada). Pastinya banyak ditemukan pemilih ganda. Sialnya, walaupun sudah dikoreksi dalam pendataan, nama si pemilih ganda itu malah muncul kembali di Daftar Pemilih Tetap (DPT). Lalu dibiarkan. Ujung-ujungnya jadi senjata buat yang kalah untuk menggugat. Oh ribetnya negara kami! *

P.S. » Ayo, miliki satu KTP dan jangan lupa perbarui ketika kadaluwarsa!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s