Blackberry, Bukan Cinta Sejatiku


Tiba-tiba, blackberry-ku diambilnya. Lalu dimasukkan ke sakunya. Tanpa kata-kata. Saya tidak mau memprotesnya. Saya biarkan saja.

“Wuih, gayanya! Meni gaya,” katanya ketika saya berjalan sambil memasukkan tangan saya ke saku celana jeans. Dua tangan. Memang tampak bergaya.

Saya hanya bilang, tak ada penghalang di saku, sehingga saya leluasa. Lalu, ponsel Nokia E71 yang saya simpan di saku kanan celana bergetar. Saya keluarkan untuk membaca isi pesannya. Dia baru menyadari bahwa jawaban ketus saya, karena saya tidak terima BB saya diambil begitu saja.

Kalau BB saya terus-terusan dipakai untuk facebook-an di depan dia, dia boleh marah karena dia merasa saya abaikan. Tapi, saat itu saya tengah menjawab pesan di yahoo messenger dengan atasan saya. Maka, pantas saya kesal.

Beberapa waktu lalu, saya memang pernah diultimatum karena mengabaikan dia dan saya lebih mengutamakan ber-BB. Saya terima, saya memang salah. Saya pun membatasi diri penggunaan BB meski rasa gatal itu tetap ada.

Ternyata tidak hanya saya yang pernah diultimatum “orang terdekat” karena BB. Sejumlah teman mengakui pernah mengalaminya. Padahal mereka sempat menertawakan saya waktu saya menulis tentang ultimatum itu di status facebook. Mereka lebih parah lagi. Ada yang langsung diajak pulang saat makan bersama karena lebih intim dengan BB-nya dibanding dengan kekasihnya. Hahay!

BB ini pun bukan milik saya, tho. Ini milik kantor yang mesti saya lunasi dalam setahun. Jadi belum sepenuhnya milik kantor. Kalau sengaja beli sendiri, saya emoh.

Saya akui karena BB ini, saya jadi autis. Itu pada awalnya. Saya menikmati bagaimana bisa selalu online, bisa ber-facebookan kapan saja, bisa YM-an dimana saja, cek email semaunya tanpa harus buka di notebook atau komputer. Itu semua ada di BB. Tapi, jika ada yang memang keberatan dengan ke-autis-an saya itu lebih baik dikatakan, tanpa berbuat “kasar” yang akhirnya menyinggung saya.

Saya masih bisa mengendalikan diri dalam memakai BB. Saya membutuhkannya untuk kepentingan kerja tidak cuma gaya. Kalau untuk gaya, mungkin lebih baik saya cari model BB terbaru. Saya benar-benar tertolong dengan alat ini.

Tapi jika dia memang keberatan dengan adanya BB ini, saya usahakan menguranginya. Saya akan berusaha membagi kasih sayang yang seimbang, cieeehhh! Karena dia lebih berarti, 70 persen untuk dia, dan 30 persen untuk BB. Adil kan!*

Advertisements

One thought on “Blackberry, Bukan Cinta Sejatiku

  1. adampisan says:

    Haha… jangankan BB, pake HP biasa dengan koneksi GPRS pun orang masih autis dengan Opera Mini dan buka-buka FB-nya. Barangkali psikolog harus pada turun tangan untuk merpebaiki masalah bangsa seperti ini ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s