Kita Tetap Musuhan, Cicak dan Kecoa!


Musuh bebuyutanku di dunia ini hanya dua. Cicak dan Kecoa. Dua makhluk Tuhan itu menyebalkan. Terpenting, menjijikkan. Keduanya benar-benar tidak pernah aku suka. Tak ada kesan lucu dari dua binatang itu. Meskipun tekstur keduanya jauh bersebrangan, aku tidak menyimpan rasa suka secuil pun.

Si Cicak menjadi beken ketika Susno Duadji mengorbitkannya menjadi simbol pertikaian Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lawannya si Cicak itu adalah sang Buaya, yang ke depannya justru dipersepsikan terbalik oleh Susno. KPK yang semula dianggap sebagai Cicak kemudian dipersepsikan sebagai Buaya karena kewenangan KPK yang “serba super”. Sedangkan POLRI yang awalnya dianggap Buaya karena “jam terbang”-nya yang sudah tinggi lalu disebut sebagai Cicak. Pertikaian itu baru berhenti setelah terbongkar aktor utamanya : ANGGODO. Dan oleh Tim Delapan, POLRI dan KPK disarankan berbena diri. Maka, masalah pun berakhir saat Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah dikembalikan ke KPK setelah proses penuntutan kasusnya dihentikan, serta Susno yang kemudian di non-jobkan menjadi perwira tinggi dari posisinya sebagai kabareskrim yang digantikan Ito Sumaryadi.

Tapi, di mataku Cicak tetaplah binatang yang menyebalkan. Kulitnya yang “geunyal” membuatku geli. Ceritanya, waktu usiaku seumuran anak SMP (karena aku tidak ingat tepatnya kapan), ibuku memintaku untuk memasak tumis kangkung. Bahan utamanya kangkung, saat itu masih tersimpan di dalam ember di kamar mandi. Aku pun mengambil seikat kangkung yang tersimpan di dalam ember. Tapi, ketika seikat kangkung itu ku angkat, tiba-tiba ada sesuatu yang melompat keluar dari dalam ember. Seekor CICAK.

Iya benar, seekor Cicak melompat dan nemplok pada betisku. Dingin dan geli. Sontak aku langsung menggoyang-goyangkan kakiku agar si Cicak itu bisa lepas. Setelah lepas dari kakiku, saking dendamnya, ku siram si Cicak dengan air bayclin. Si Cicak kelojotan kemudian diam, tanda nyawanya dicabut sang malaikat.

Sejak saat itu, aku menjadi trauma. Cicakphobia, mungkin. Karena setiap melihat Cicak menempel di tembok apalagi posisinya tepat di atasku, aku pasti berkeringat dingin dan sulit tidur. Aku khawatir Cicak itu akan jatuh dan menempel lagi, seperti dulu.

Kecoa. Meskipun tidak sebeken Cicak, Kecoa sering dianggap pengacau. Aku sering ingat ucapan kekesalan, “Dasar cecunguk”. Cecunguk artinya sama saja dengan Kecoa. Tapi jangan menganggapnya sama dengan Cecurut yang tergolong tikus.

Kebencianku pada Kecoa sejak makhluk itu muncul di kamar mandi tanpa diundang (*seperti Cicak, semua cerita kebencianku berawal dari kamar mandi. Aku pun benci dengan pintu kamar mandi — nanti itu ku ceritakan khusus). Aku yang sembari mengisi waktu berjongkok ria di kamar mandi pun menjadikan Kecoa sebagai bagian dari mainanku. Biasanya ku biarkan si Kecoa telentang (*karena dia akan sulit membalikkan diri). Terus ku biarkan, lalu ku kucuri air sabun hingga Kecoa itu mati.

Hingga suatu hari, ada Kecoa yang nempel di tubuhku. Mungkin ini sebuah karma, tapi yang pasti kebencianku kian akut pada Kecoa karena peristiwa itu. Aku, yang saat itu mengenakan celana sontog merasakan ada pergerakan aneh di pahaku. Pergerakan itu semakin aktif dan cenderung hiperaktif hingga aku benar-benar tidak nyaman. Setelah itu ku tepuk bagian yang bergerak itu, malah bergerak ke bagian lainnya. Untung si Kecoa tidak buang air kecil sembarangan karena ada mitos kalau dikencingi Kecoa akan bengkak. Kebayang apa yang terjadi jika si Kecoa buang air kecil saat dia menjelajahi bagian tubuhku yang dibalut celana sontog.

Aku pun terpaksa membuka celanaku. Dan, ku dapati seekor Kecoa tampak sempoyongan. Hipotesaku, si Kecoa mabok karena kebanyakan ku uyek saat dia bergerilya atau mungkin dia mabok karena aroma sesuatu. Siapa tahu ? Hi hi hi ! ☺

Jadi jika suatu saat kita bertemu lagi dalam sebuah pertemuan “biasa”, kita tetap musuhan, Cicak dan Kecoa. Aku tak peduli tawaran mediasi dan gencatan senjata. Kita tetap musuhan! *

Advertisements

3 thoughts on “Kita Tetap Musuhan, Cicak dan Kecoa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s