Nasib Sang Penyumbang Devisa Terbesar


Ida Farida (22), tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Cilogo Desa Medang Asem Kec. Jayakerta, Kab. Karawang pulang dengan luka operasi di bagian perutnya. Ia terluka karena jatuh dari lantai 3 rumah majikannya di Zarka, Yordania ketika hendak melarikan diri. Nahasnya, setelah sebulan dirawat di rumah sakit, Ida harus menghadapi persidangan dengan tuduhan telah mencoba bunuh diri.

Menurut Ida, selama bekerja pada majikan keduanya kurang lebih enam bulan, ia selalu dipukuli oleh majikan perempuannya. Majikannya memukuli dengan tangan kosong pada bagian wajah Ida. “Dia cemburu karena majikan yang laki-laki memperlakukan saya dengan baik, tidak seperti pada pembantu,” ucapnya, Rabu (9/12).

Ida beberapa kali berusaha melarikan diri, tapi selalu gagal. Pernah satu ketika, Ida berhasil melarikan diri lalu mengadu ke agen di Yordania, Revera Flower Services Est, yang berada di kota Amman. Ternyata di sana, majikan Ida sudah ada lebih dulu. “Dia malah mengadukan saya kepada agen dan saya pun dipukuli agen. Bahkan mereka mengancam mempolisikan saya, lalu polisi pun berhak memukul saya,” ucapnya yang baru tiba pada Selasa (8/12) dari Yordania.

Dia pun lalu dikembalikan ke majikannya. Ida juga sempat mengadu pada pihak kedutaan besar Indonesia di Yordania. Dia meminta dipindahkan dari agen tersebut. “Mereka berjanji akan menutup agen tersebut, ” kata Ida.

Tidak tahan dengan perlakuan sang majikan, pada 3 November 2009 sekitar pukul 10.00 waktu setempat, Ida nekat melarikan diri. Saat itu, majikannya masih tidur. Dengan menggunakan tali tambang, ia berniat turun dari lantai 3 apartemen. Akan tetapi, Ida malah terjatuh dan mengalami pendarahan.

Diadili

Ida sempat dilarikan ke dua rumah sakit karena kondisinya parah. Ia mengalami pendarahan di dalam perutnya hingga mesti dioperasi. Tulang pada bagian pinggang dan kaki kirinya patah. Ida tidak dapat buang air besar sejak 8 hari lalu.

Setelah sebulan dirawat, Ida harus menghadapi persidangannya. Dia diadili dengan tuduhan mencoba bunuh diri. Ida pun harus merelakan gajinya yang setiap bulannya US$ 200 dollar itu habis untuk biaya perawatan. “Hakim menilai hukuman itu pantas karena saya mencoba bunuh diri. Malah tadinya hakim akan menyuruh membayar denda pada majikan,” tutur Ida.

Sanirem (58) ibu Ida, membiarkan anak keduanya itu bekerja di luar negeri seusai menamatkan SMP. Pasalnya, setelah ditinggal ayahnya Aceng ke Rahmatullah, tidak ada tulang punggung keluarga. Bersama kakaknya, Ida melamar ke PT Antar Indosadya. Ida diberangkatkan di kota Zarka. Sebulan kemudian, kakaknya menyusul.

Di majikan pertamanya Ida juga sama diperlakukan kasar. Namun ia tetap digaji sebesar US $ 150 setiap bulannya. Ida hanya bertahan selama 6 bulan lalu pindah ke majikan kedua. Ida dipulangkan setelah diadili dan tiba di rumahnya pada Selasa (8/12). Setelah apa yang dialaminya, Ida mengaku jera bekerja di luar negeri lagi.*

Advertisements

One thought on “Nasib Sang Penyumbang Devisa Terbesar

  1. adampisan says:

    Mungkin memang sang majikan keterlaluan dan melakukan tindakan kekerasan/kejahatan. Tapi kadang memang pembantu itu bikin kesal setengah mati, harus ekstra sabar. Seorang kerabat dekat pernah kehilangan SIM card yang dipakainya untuk bisnis gara-gara dibuang oleh pembantu. Luar biasa kesalnya sang kerabat, meski tidak sampai pada kekerasan verbal, apalagi fisik.

    Seorang kerabat lain juga mengalami hal-hal serupa. Sang pembantu yang masih seumuran SMA setiap malam selalu cekikikan telepon menelepon “cowok”, maklum masih begér. Kebiasaannya sangat buruk, suka mencuri barang di rumah. Bahkan hanya karena kepergok mencuri dan dinasihati, eh.. di luar malah menjelek-jelekkan sang majikan. Sang majikan pun luar biasa kesal, tapi hanyalah bisa mengurut dada.

    Mungkin bagi sebagian orang, terlebih orang diluar negeri sana yang masih “menganggap perbudakan itu ada”, kasus seperti di atas tidak bisa lagi ditolerir yang akhirnya berujungn pada tindakan kekerasan. Tidak semua majikan bisa “mengurut dada” dan menghembuskan nafas dalam-dalam.

    Menurut saya, sebaiknya kita jangan terlalu mengekspos keprihatinan para pembantu yang dianiaya tersebut, tapi juga harus melihat mengapa mereka bisa diperlakukan seperti itu. Kita harus adil melihat sesuatu. Kejahatan tidak hanya karena ada niat, tapi juga kesempatan dan kekesalan yang memuncak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s