ABeEs, Asal Bapak Senang


Tadi Kamis (17/12) siang, Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono  kunjungi Purwakarta dan Karawang. Kunjungan kerja sekaligus refreshing dari penatnya pengusutan masalah Bank Century yang terus-terusan memojokkan dirinya. Sepanjang acara, dia berusaha menebar senyum pada calon penerima dana Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri 2010. Di sebelah kanan, duduk mendampingi Wakil Gubernur Jawa Barat, Yusuf Macan Effendi atau yang lebih beken dipanggil Dede Yusuf. Di sebelah kirinya, yang juga lebih sering tertawa, Menteri Pekerjaan Umum, Djoko Kirmanto. Di akhir acara pun, tidak ada acara wawancara dengan wartawan. Mungkin dalam pikirnya, dia sudah cukup lelah dengan wawancara seputar Century.

Wajar saja Boediono terus tersenyum. Sepanjang acara, dia terus-menerus mendengar keberhasilan program unggulan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dilaporkan oleh Bupati Karawang, Dadang S. Muchtar. Tidak ada cela, kecuali minta kenaikan besaran dana bantuan. Para penerima yang bertanya jawab dengan Boediono tidak sedikit pun mengeluhkan program tersebut. Kebanyakan kata yang terucap dalam dialog dengan Boediono, tidak jauh dari “bagus” dan “membantu”.

Tidak hanya itu, demi Boediono, jalan raya direkayasa sedemikian rupa. Ketika iring-iringan rombongan kendaraan Wapres yang jumlah entah berapa itu, jalan masuk ke Sekretariat BKM Berkah Anggadita di Desa Anggadita Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, diharuskan steril dan lengang. Ratusan petugas kepolisian bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) berjaga di sepanjang jalan, kalau-kalau ada yang lewat. Jalan yang tidak dilalui Boediono juga dibersihkan. Di depan Terminal Klari, yang biasanya padat angkot-angkot yang ngetem sampai dua jajar, ditambah antrian bus antar kota, kini lengang. Aku enggak tahu, dikemanakan angkot yang antrian ratusan itu. Bahkan ketika Boediono meninggalkan lokasi, para pengguna jalan dibiarkan menikmati kemacetan, karena sang wapres akan melintas. Benar kata Jusuf Kalla, Lima Tahun Tanpa Macet!

Yang tampak kurang “senang” sepertinya Wagub Jabar Dede Yusuf. Rasa “senang” itu sedikit demi sedikit hilang ketika bupati Karawang melontarkan kata-kata yang memang, sih, kurang enak didengar. Dia mengkritik ketidakmampuan Pemprov Jabar mengelola anggaran. Alasannya, karena kepala daerahnya tidak berpengalaman. Bupati Karawang malah mengelu-elukan kemampuan wilayahnya yang mampu mengelola APBD yang nilainya Rp 1,5 Triliun. Kata Dadang, tidak pernah ada reward dari Pemprov bagi daerah yang mampu mengelola keuangan lebih baik.

Wajah Dede yang semula dipenuhi senyum karena jeritan histeris warga terutama ibu-ibu berubah sedikit masam. Tapi, Dede tampak berusaha menahan rasa kesalnya. Beberapa kali, Dede mengubah posisi duduknya sebagai tanda “comfort zone”-nya sudah terganggu. Bahkan di akhir acara, Dede-lah yang menghampiri Dadang dan menyalaminya.

Menurutku, seburuk-buruknya atasan, rasanya tidak beretika dijelek-jelekkan seperti itu. Apalagi di depan masyarakat dan dibandingkan dengan pembangunan yang telah dilakukan Karawang. Memang keduanya lebih muda dan belum berpengalaman, tapi secara hierarki, Gubernur dan Wakil Gubernur masih atasan Bupati.

Aku malah menjadi kecewa dengan perilaku bupati. Tidak pantas demikian. Bagaimana kalau pertanyaan dibalikkan, kenapa yang berpengalaman walaupun posisinya lebih rendah tidak membagi ilmunya? Dan bukan malah menginjaknya ketika ada atasan yang lebih tinggi.*

Advertisements

One thought on “ABeEs, Asal Bapak Senang

  1. uina says:

    wahhhh mbak dewi yang mana ya kemarin? daku ada disana loh.. daku tidak setuju dengan perilaku yang ajaib pak Bupati, amat tidak etis perkataannya.. membuat pendengarnya menjadi merah kuping.. mudah2an kita tidak seperti beliau. Mungkin harus belajar table manner lagi kali ya.. biar santun walau tidak menjilat.

    Kalau masalah steril, memang standarnya begitu saya rasa.. daerah yang akan dilalui orang nomer 1 dan 2 harus steril. Jadi supaya nggak nyusahin rakyat banyak, lebih baik Polri mengatur lalu lintas lah… dialihkan misalnya. jangan distop. Oke mbak Dewi semoga kita tidak termasuk orang2 yang suka menyakiti perasaan orang lain ya… salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s