Apapun Acaranya, Hiburannya : ORGAN TUNGGAL


Pamor organ tunggal kini tengah di puncaknya. Kesenian tradisional yang semula menjadi ciri khas acara-acara penting perlahan namun pasti tenggelam. Para sinden pun banyak yang memilih pindah jalur musik menjadi penyanyi organ tunggal. Kebaya yang biasa mereka kenakan, mungkin sudah dipensiunkan, dan kalau bisa, disumbangkan ke museum. Kini kostum mereka serba mini dan ketat. Dengan warna-warna genjreng dan kadang menerawang, buatku bisa dibilang seronok.

Nayaga pun menggantungkan goong, mengkandangkan kendang, boning,dan saron. Pertunjukkan kecapi disebut langka. Peniup pet punah. Penggesekrebab semakin sulit ditemukan. Keberadaannya tergantikan. Mau itu acaranya pernikahan, pelantikan pejabat, syukuran, musyawarah partai politik, hiburan utamanya, selalu : ORGAN TUNGGAL.

Padahal waktu aku masih sekolah dasar, hiburan di kampung nenekku, Lembur Suuk, Cangkuang Kabupaten Bandung, ketika ada hajatan belum ada, tuh, yang namanya organ tunggal yang penyanyinya meliuk-liuk seperti ular. Hiburan masih sebatas wayang golek, calung, reog. Agak megah sedikit, digelar acara nonton bareng layar tancep. Filmnya selalu sama di tiap hajatan, Warkop (Dono Kasino Indro), Barry Prima, dan Sally Marcelina atau Suzanna (spesialis film horror), he he !

Berbondong-bondong warga mendatangi acara tersebut. Buat kami, warga desa, hiburan seperti itu mahal, maka ketika ada yang menyelenggarakannya, tidak ada seorang pun yang menyia-nyiakannya. Ketika ada layar tancep, kami sekeluarga sengaja membawa tikar ukuran besar yang bisa menampung lebih dari sepuluh orang. Kadang untuk melawan dingin dan nyamuk, dibawa pula selimut dan bantal untuk alas kepala. Asyik, kan, nonton bareng ratusan orang sambil tiduran. Nyantei di pantei, bo!

Kalau menyaksikan calung dan reog, jarang sambil tiduran. Tidak ajiptertawa karena guyonannya sambil tiduran. Meskipun lawakannya sudah dapat ditebak (karena sama setiap manggung), tapi kami tetap tertawa. Di dua kesenian daerah itu, setiap orang memiliki peran masing-masing, jadi tidak boleh ada yang ingin tampak “paling”. Ada yang memang bagian jadi orang pinter dan orang yang teraniaya. Model seperti itulah yang kini di adopsi oleh berbagai acara televisi di antaranya Opera Van Java.

Tapi buatku, yang lebih mengasyikan itu menonton wayang. Aku sering berimajinasi tentang cerita pewayangan yang lebih sering didengar di radio atau didongengkan oleh nenekku. Aku paling suka lakon “Perang Bharatayudha”, meski sekarang sudah agak lupa. Menonton langsung seakan membuktikan kedekatan imajinasiku dengan tampilan “asli” sang wayang. Selain itu, aku bisa menyaksikan atraksi dari kekreatifan pembuat wayang seperti wayang yang bisa muntah dan merokok. Sayangnya, aku lebih sering menonton sebagian pertunjukkan karena harus pulang sebelum tengah malam. Ada pula mitos, kalau pulang setelah tengah malam, dan pertunjukkan belum selesai, maka kita akan dicegat di tengah jalan dan dibawa ke dunia pewayangan.

Entah kapan mulainya, tapi kesenian saat hajatan itu mulai sirna. Hajatan yang nilainya “wah” (karena terkadang ada yang menggelar hiburan hajatan sampai tujuh hari tujuh malam) yang tidak memperhitungkan isi gentong angpau bergeser menjadi hajatan ekonomis. Prinsipnya, dengan modal sekecil-kecilnya tapi bisa mendapatkan hasil yang besar. Salah satu cara memangkasnya, ya, dari anggaran hiburan. Tidak ada lagi acara upacara adat dengan syarat tetek bengek dan acara salam-salaman diiringi suara gamelan. Semuanya digantikan organ tunggal.

Tidak hanya di hajatan, organ tunggal pun didaulat mengisi acara hiburan usai pelantikan. Menu lagunya tidak jauh dari dangdut koplo plus goyang patah-patah, ngebor, ngecor, goyang gergaji. Semuanya dilakukan oleh penyanyi yang dibalut pakaian seronok tadi. Kalaupun ada lagu-lagu nostalgia, atau lagu barat ala Frank Sinatra, hanya dinyanyikan oleh sang pejabat. Sisanya, yang lebih banyak dinyanyikan oleh sang biduan. Dimana sang pejabat? Sebagian duduk, yang lainnya turut berjoged sambil menyelipkan uang saweran ke sang biduan.

Bukannya sinis dengan kenyataan itu, tapi alangkah baiknya kalau dalam acara resmi, hiburan yang dipertontonkan itu dengan pakaian yang “patut”. Sehingga kesan “norak” itu tidak perlu ada. Diskriminasi terhadap aliran musik itu ada karena penampilan mereka di panggung.*

Advertisements

2 thoughts on “Apapun Acaranya, Hiburannya : ORGAN TUNGGAL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s