Tak Ada Toilet Sempurna …


Buat saya, yang namanya toilet itu penting. Saya sering punya penyakit kambuhan, jeungjeuriheun, semacam penyakit sakit buang air kecil. Gejalanya, selalu ingin buang air kecil, tapi setiap ke toilet, air seni yang keluar hanya sedikit. Dan, di akhir tarikan buang air kecil, terasa sakit yang menyayat pada kemaluan. Kadang saya merasa malu, he he, rasanya kok enggak elit penyakitnya. Kebayang kan, ketika ditanya, “Kamu sakit apa?”, jawabnya, “Jeungjeuriheun”. Semua orang tertawa campur kasihan. Saya tidak tahu mesti menahan sakit berapa lama kalau tidak menemukan toilet. Ha ha!

Biasanya, kalau sudah begitu, bermacam cara penyembuhan tradisional saya lakukan. Seingat saya, pertama kali terjangkit jeungjeuriheun itu waktu kelas satu sekolah dasar. Saat itu, tiba-tiba saya merasa sakit buang air kecil disusul hasrat ingin pipis yang bertubi-tubi. Namun, pas ke kamar kecil, hanya berapa tetes yang keluar dibarengi rasa sakit. Saya yang ketika itu tinggal bersama nenek disuruh meminum sebuah pil seperti biji semangka berwarna merah. Tidak lama, saya bisa buang air kecil dengan lancar dan air kencingnya berwarna biru. Nah, ketika sakit lagi, entah saya memang punya kekebalan tubuh abnormal, obat itu sudah tidak ampuh lagi. Yang mujarab malah obat tradisional, mengencingi genteng atau sabut kelapa yang baru saja dibakar. Wes ewes ewes ilang jeungjeuriheunne, he he ..

Mungkin karena kekebalan abnormal, resep itu tak lagi mujarab. Sesuai resep terbaru Bapak, coba saat cebok, pakai air hangat. Lalu, ketika tidur, badan dibalut dengan selimut dan kaki dipasangi kaus kaki. Saat itu, pertimbangan logis Bapak, jeungjeuriheun itu dikarenakan kaceos, setelah kena panas langsung kena dingin. Jujur, sampai sekarang masih belum menemukan korelasi ilmiah jawaban Bapak itu.

Saya jadi cape mencari obat yang ampuh setiap sakit itu kembali datang. Lelah dengan cara-cara tradisional, mulailah saya beli obat yang berkaitan dengan sakit ginjal. Saya membeli Batugin sampai Urixin yang harganya buat saya, muaaahhhhaaalll bennneerrr!. Dan, tidak lupa membawa air minum seliter dalam ransel karena tidak boleh minum kurang dari dua liter sehari. Tapi kondisi jeungjeuriheun terparah, saya masih ingat pada November 2006, air seni saya bercampur darah. Setiap ke kamar kecil, saya selalu berpegangan pada bak mandi karena tidak tahan dengan sakitnya. Sakit semakin parah karena ditambah demam. Saya pun memutuskan pulang ke Bandung, karena saat itu saya dinas di Kota Bekasi dan tinggal di kamar sewaan.

Di Bandung, saya berobat pada seorang dokter yang kebetulan etnis Tionghoa. Dia memberikan tiga jenis obat yang harus saya habiskan. Ada obat untuk melancarkan buang air kecil dan meredakan nyeri ketika buang air kecil. Namun, ada nasihat dokter yang paling saya ingat, jangan gunakan pembersih vagina karena itu bisa membunuh bakteri baik dan usahakan cari toilet yang bersih.

Nah, saran terakhir itulah yang saya ingat. Setiap saya bekerja lapangan, saya selalu menghafal keadaan toiletnya, dengan pertimbangan, jika suatu hari saya tidak tahan ingin buang air kecil, saya tahu harus ke toilet mana. Karena, kebanyakan tempat-tempat yang saya kunjungi berkaitan dengan instansi pemerintah, maka saat pertama kali datang, saya cek dulu keadaan toiletnya. Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Dan dari keadaan toiletnya, setidaknya kita bisa menilai sedikit perilaku orang-orang yang bekerja di instansi tersebut.

Menurut saya, peringkat pertama toilet bersih itu ada di markas besar Pemerintah Daerah Karawang. Lebih spesifiknya, di lantai dua kantor bupati. Mungkin karena itu di kantor bupati, makanya dijaga he he. Toiletnya memang benar-benar bersih. Air untuk cebok pun tersedia di kloset duduk dan di ember. Tapi, sayangnya, saya tidak terlalu suka kloset duduk, karena riskan air semprotan cebok kena celana. Malu kan, kalau abis buang air kecil, celana malah jemblong. Oh ya, kalau sempat mampir ke sana, untuk toilet wanita, lebih baik pilih pintu toilet yang lebih dekat pintu masuk. Soalnya, pintu toilet satu lagi susah ditutup secara paten.

Toilet selanjutnya yang terbilang bersih adalah toilet Kejaksaan Negeri Karawang. Tadinya saya kategorikan toiletnya kurang bersih, karena terakhir saya menumpang di toilet itu, bau pesing cukup terasa, bak kamar mandi kotor, dan minim air bersih. Tapi saya agak takjub juga ketika tadi siang saya kesana. Pintu depan kamar mandi dipasangi pintu seperti pintu bar, pintu yang menggantung.

Di kamar mandi wanita itu, ada dua toilet yang lantainya dilapisi keramik merah. Di dalamnya, ada bak mandi, gayung, dan kloset favorit saya, kloset jongkok. Untuk mengharumkan toilet digantung pewangi ruangan. Namun, sayangnya di dalam toilet tidak ada tempat sampah, sehingga bagi kaum hawa yang hendak mengganti pembalut wanita mungkin tidak nyaman, karena tempat sampah berada di luar dua toilet itu tapi masih satu ruangan kamar mandi. Satu lagi kelemahannya, meskipun pintu toilet bisa ditutup, tapi tak ada kunci. Yang ada hanya paku yang diikat tali yang berfungsi sebagai kunci selot.

Lokasi selanjutnya, Kepolisian Resor Karawang. Kalau saya merasakan hasrat tak tertahankan untuk ke kamar kecil di Polres Karawang, saya pilih kamar mandi kantin Ibu Sudar. Kamar mandinya dipastikan bersih karena memang dipakai untuk aktivitas kantin. Saya memang sengaja tidak mencari kamar mandi di Polres Karawang, karena ribet mencarinya padahal ternyata lokasinya dekat, tapi dalamnya sempit dan saya tidak nyaman. Namun, saya pernah merasakan kamar mandi yang “wah” tapi saya tidak nyaman karena kédér. Padahal mungkin saya satu-satunya orang luar yang memakai kamar mandi itu.

Itu adalah kamar mandi pribadi milik Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Karawang, Ajun Komisaris Sandy Hermawan. Pintu masuk ke kamar mandinya dikamuflasekan dalam pintu lemari yang tembus ke ruang rahasia. Kamar mandinya terbilang sempit. Ada kloset duduknya dan ruang untuk mandi (karena ada shower). Saya dipaksa menggunakan kamar mandi itu karena saya memang benar-benar tidak dapat menahan rasa mulas di perut. Ketika saya minta ijin ke kamar mandi Kantin Ibu Sudar, Sandy menyuruh saya menggunakan kloset miliknya.

Tapi, saya benar-benar kédér ketika akan menyiram kloset. Bentuk klosetnya aneh dan panel penyiramnya pun tidak saya temukan di tempat bias"Toilet Eksentrik"a. Daripada saya malu karena tidak menyiram kloset, saya pakai cara manual. Saya isi gayung dengan air lalu menyiramnya. Namun, berkali-kali menyiramnya, tidak selesai juga. Keringat saya yang semula karena menahan mulas kini tambah deras karena stress tidak dapat menyiram kloset. Saya tidak mau reputasi saya selama ini hancur karena saya tidak bisa menyiram dengan kloset yang “tidak lazim”, setidaknya itu bagi saya. Saya berusaha minta tolong dengan kirim pesan lewat ponsel. Jawabannya, disiram manual. Ketika saya benar-benar putus asa dan hendak menyerah, tangan saya malah tak sengaja menyentuh panel yang letaknya di bawah kloset sebelah kanan. Sejujurnya, panel itu sempat saya putar-putar karena saya kira itu caranya. Ternyata cara menyiramnya benar-benar mudah. Tinggal pencet, weeeerrrrr, air berputar dan membawa serta “aib” saya yang hampir saja meruntuhkan reputasi saya. Sejak saat itu, saya berprinsip kalau ke Polres Karawang, buang air kecil dulu di rumah atau di tempat lain yang nyaman dan jangan terlalu banyak makan.

Nah, yang dua yang terakhir ini, adalah kantor pemerintahan yang pernah saya kunjungi dan masuk kategori TERKOTOR. Kenapa begitu?

Pertama, Pengadilan Negeri Karawang. Ada dua toilet yang letaknya di bagian belakang pengadilan. Dua-duanya, bau. Yang satu tidak dapat digunakan karena dikunci terus. Sedangkan yang satu yang dimanfaatkan umum, tidak ada kuncinya. Selain itu daun pintunya bolong. Daripada saya harus ke toilet di PN Karawang, lebih baik saya tahan sampai temukan yang lebih nyaman.

Kedua, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kab. Karawang. Saya pun tidak berani memakainya karena ingat pesan sang dokter. Lebih baik saya berjalan agak jauh menuju gedung bupati, karena masih satu kompleks dari pada harus buang air di situ. Kotor, gelap, banyak sisa tisu, bau, sempit, dan wastafel tampak tak pernah dibersihkan. Saya jadi berpikir, kalau para anggota dewan yang terhormat tidak tahan ingin buang air kecil atau besar, mereka lari kemana ya. Apa mencari ke tempat lain seperti saya atau memaksakan memakainya? Brrrrrr….wekssss!

Jadi saya tidak heran kalau banyak anggota dewan yang “bermain” dengan kekuasaaan dan wewenangnya, karena mereka juga tidak menjaga tempat mereka bernaung. Bukankah kebersihan toilet itu adalah cermin dari perilaku mereka? Saya samakan saja toilet dengan manusia, yang sama-sama TIDAK SEMPURNA…*

Advertisements

2 thoughts on “Tak Ada Toilet Sempurna …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s