Kematianku


Ibarat slide, kepingan gambar-gambar duka itu kembali berkejaran di benakku.

Ada seorang yang terbaring di sebuah ranjang. Wajahnya tak tampak, ditutupi kain putih. Puluhan orang mengelilingi ranjang itu. Tangis terdengar keras. Satu dua orang yang baru masuk ruangan pun meledakkan tangisnya. Seakan tak percaya dengan pemandangan yang mereka lihat. Seorang wanita paruh baya, memeluk tubuh yang terbaring itu. Tak ada suara tangisan. Degupan nafasnya saja yang naik turun. Hanya itu yang tersisa. Air matanya telah habis. Ketika ia buka kain penutup itu, seolah menghabiskan tenaga terakhirnya, tangisan meledak. Ia melihat jenasahku terbaring kaku dengan wajah pucat pasi dan senyum tersungging.

Aku. Aku yang terbaring menjadi mayat di ranjang itu. Dalam mimpiku yang kesekian kali itu, aku melihat orang-orang yang sama. Orang-orang yang datang saat kematianku dalam mimpi-mimpiku terdahulu. Tangis mereka sama. Beberapa di antaranya, mengucap rasa penyesalan. Beberapa kali mimpi itu datang, aku masih bertanya, janji apa yang pernah kalian ucapkan padaku, sampai kalian begitu menyesali kepergianku?

Jangankan kalian, aku pun akan menyesal karena aku tidak bisa menepati janji-janji pada orang-orang yang kucintai. Kematian lebih dulu menjemputku. Aku tidak bisa menawarnya. Aku tidak bisa menunda malaikat maut menunda tugasnya. Demi aku. Demi janji-janjiku.

Dalam mimpi itu, aku seakan ditunjukkan rupa orang-orang yang menyayangiku ketika aku mati. Rupa yang tak dibuat-buat sedemikian rupa. Aku menyaksikan seorang yang tidak mampu menahan air matanya, padahal aku tahu, air matanya terlalu “mahal”. Lidahnya terlalu kaku untuk mengucap maaf. Tapi, saat itu, kematianku menerabas mahalnya harga air mata. Dia menangis seraya mengucap maaf. Maaf atas apa, Sayang?

Dari bibirnya, terucap maaf atas pengabaiannya terhadap diriku. Dari bibirnya, ia katakan betapa menyesalnya ia tak pernah menghargai perbuatanku. Dari bibirnya, ia tuturkan tak dapat membalas dengan setimpal kasih sayangku. Dia menyesal telah mengataiku dengan kata-kata yang menyayat. Dia katakan, aku terlalu berharga untuk pergi dari hidupnya. Aku semakin tidak mengerti. Aku tak mengenal rupamu. Siapa kamu?

Ada pula seorang lelaki paruh baya yang jongkok di sudut ruangan. Kedua tangannya menarik-narik rambutnya. Matanya merah bergelimang air mata. Tak banyak kata yang keluar dari mulutnya selain, “Kenapa tidak aku saja yang mati lebih dulu?” Dia ayahku?

Seorang wanita berperawakan tinggi dan berkulit putih, tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuhku yang tak bernyawa itu. Pelukannya kian erat ketika sejumlah orang berpakaian serba putih hendak memindahkan jasadku. Ketika tubuhku berhasil dibawa, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Ia terjatuh, seakan kekuatannya telah hilang.

Aku melihat, dalam mimpiku, banyak rupa yang menangisi kematianku, tapi aku tak mengenalnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s