Sang Penonton


Tepat 1,5 tahun menjadi warga musiman (*karena penugasan nich!) di Karawang, sedikitnya membuatku mengerti kondisi perpolitikan di sini. Padahal aku tidak begitu tertarik dengan masalah politik, tapi aku harus suka rela mengikutinya. Suka rela, suka tidak suka harus rela! Dan kesimpulan sementara saudara-saudara, politik itu memang kejam dan menjijikkan.

Kejam. Karena segala cara mereka gunakan untuk mendapatkan kekuasaan dan pengaruh di wilayah. Partai politik itu hanya kendaraan. Mereka rela berbuih-buih “menipu” orang agar dapat dipercaya, lalu ketika “buihan” itu tidak ditepati, tanpa rasa dosa, mereka cuek aja. Innocent! (*Silakan nilai aku sebagai orang yang apatis). Tapi ini kenyataan.

Sebuah contoh kecil di Karawang, sebuah skenario disusun untuk menciptakan perkara pidana bagi sang lawan yang dianggap mampu menjatuhkannya dari tampuk kekuasaan. Dengan terkungkung dalam kasus hukum, diharapkan sang lawan akan diam dan tak perlu lagi menggoyang kursi kekuasaannya. Benar seperti kata Antasari, Tuhan itu tidak tidur. Dia punya cara sendiri membukakan mata manusia tentang sebuah kebenaran. Sang lawan malah mampu keluar dari belenggu dan membuat orang-orang lebih bersimpati padanya. Dan karirnya malah semakin mempertemukan mereka dalam “ring tinju” itu, pertarungan sebenarnya.

Sang penguasa pun berusaha meredam potensi-potensi yang bisa mengalahkannya, bahkan anak didik, sekalipun anak kesayangannya. Jika dia anak kesayangannya, maka sumpah serapah ala ibu Malin Kundang pun terlontar. Bukan kutukan yang keluar tapi sel penjara telah menunggu. Jika itu adalah anak didik sekaligus bawahannya, maka bersiaplah karena ia akan dipurukkan pada posisi yang tidak pernah ia duga. Posisi yang menempatkannya pada posisi yang bisa membuat pendukung meragukan kemampuannya memimpin di masa depan. Posisi yang membuat dia ditinggalkan pendukungnya yang semula dianggap loyal. Tapi, sekali lagi, itulah politik.

Tapi dasar politik itu menjijikkan, setelah saling berhadapan padahal sudah saling menekuk, perang terbuka tidak juga terjadi. Yang ada malah saling rayu, yang mendoakan semoga salah satu dapat mengalah dan berkoalisi. Istilah menjilat ludah sendiri itu bukan lagi hal tabu bagi mereka. Kawan jadi lawan, lawan jadi kawan sudah biasa. Karena itulah politik saudara-saudara.

Pandanganku melihat konstelasi politik yang tidak hanya ku baca di media massa atau buku-buku wajib saat kuliah kini terlihat nyata. Aku semakin mengerti menempatkan pada posisi netral dan tidak memihak. Aku pun bisa sedikit membaca peta politik. Nah akan ku bicarakan hal itu di tulisan selanjutnya. (*tiba-tiba ada gangguan, telfon teror)…®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s