Drop Out By Wives


Istilah “di balik lelaki sukses itu ada wanita hebat” sama artinya dengan “di balik kenakalan lelaki itu pasti ketahuan oleh wanita hebat”.  Cerita yang ada dalam Situasi Komedi (Sitkom) Suami-suami Takut Istri itu pun, pasti memang ada dalam kehidupan nyata. Ketua RT yang galak pada warganya, suami yang berbadan kekar, suami yang super pelit, dan suami mata keranjang, semua takluk bertekuk lutut di hadapan istrinya. Di kehidupan nyata, beberapa hari lalu aku baru saja menyaksikan bagaimana tergopoh-gopohnya seorang pejabat di tengah jam kerja pergi meninggalkan kantor demi mengantar nyonya ke salon.

Beda lagi dengan cerita dua orang kepala desa yang bersahabat. Mereka adalah Kades Ginanjar dan Kades Komar. Saking kuatnya persahabatan mereka, mulai dari main hingga sekolah pun selalu bersama-sama. Hingga suatu hari pada awal 2008, keduanya berniat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Mereka memilih jurusan Ilmu Hukum di Unsing.

Niatan mereka itu disampaikan pada istri masing-masing. Mereka mengajukan proposal untuk itu karena pembiayaan perkuliahan pasti diambil dari anggaran pendapatan dan biaya rumah tangga kades. Sang Nyonya Kades pasti memerlukan argumentasi yang kuat dari sang kades untuk meloloskan keinginan mereka, memiliki gelar tambahan di belakang nama mereka. Argumen mereka, meneruskan pendidikan di bidang hukum itu mendukung jabatan yang mereka emban sebagai kepala desa. Mereka, sebagai kepala desa, tentunya, mesti melek dengan hukum. Terbayang, sang Nyonya Kades manggut-manggut saat sang Kades memaparkan visi dan misinya untuk melanjutkan pendidikan.

Singkat kata, permohonan mereka dikabulkan. Mereka pun memulai perkuliahannya di Unsing. Sebagai mahasiswa baru, semangat mereka masih setinggi gunung. Dalam benak mereka, beberapa tahun ke depan, di belakang nama mereka akan tersemat gelar, S.H. alias Sarjana Hukum. Warga mereka pun pasti bangga memiliki kepala desa yang jago tentang hukum. Minimal kalau terjerat hukum bisa meminta bantuan dari sang Kades untuk mendapat pendapat hukum (legal opinion).

Di masa depan, sang Kades pun bisa menyelipkan pendidikan hukum dalam rapat-rapat minggon, sehingga warganya tidak akan mudah dibodohi hukum. Betapa bangganya sang Kades, ketika warganya bisa mengerti hukum dan saat menyatakan argumentasinya akan diawali dengan kalimat, “Seperti yang dikatakan pak Kades…”. Rasanya waktu lima tahun itu tak percuma bagi sang Kades ketika itu terucap dari warganya.

Untuk memuluskan masa depannya itu, pembelajaran pun, dalam pikirannya duo Kades itu, haruslah lebih intensif. Kalau perlu setiap hari agar ia bisa lulus lebih cepat dan warganya pun segera dicerahkan oleh sang Kades. Namun, di perguruan tinggi, bukan mahasiswa yang menentukan jadwal kuliah. Ada Bagian Tata Usaha yang menjadwalkan perkuliahan. Namun mereka tidak mempedulikan hal itu. Kepada keluarga terutama sang Nyonya Kades, setiap hari akan keluar rumah selalu mengatakan ada perkuliahan. Setiap hari.

Nyonya Kades tidak marah tapi bangga bahwa suami mereka rajin sekali demi masa depan mereka dan keluarganya. Saking bangganya, perbuatan mulia suaminya itu diceritakan pada tetangga-tetangganya. Dia berkata bahwa suaminya itu terlalu rajin pergi kuliah. Kecuali hari Minggu, duo Kades itu tidak berangkat. Sampai suatu saat, ada seorang tetangga yang juga bekerja di Unsing menyampaikan bahwa tidak ada jadwal perkuliahan di Unsing pada hari Jumat.

Sang Nyonya Kades mulai meragukan suaminya itu. Di satu Jumat, dia datang ke Unsing untuk membuktikan ucapan suaminya itu, kalau setiap hari ada jadwal kuliah. Sang Nyonya Kades mulai percaya ucapan tetangganya, ketika mendapati tidak ada mobil suaminya di lapangan parkir Fakultas Hukum Unsing. Agar lebih afdol, dia mengecek hingga ke Bagian Tata Usaha Unsing. Dan memang benar, tidak ada jadwal perkuliahan di hari Jumat. Lalu kemana duo kades itu selama tiga bulan perkuliahan?

Sang Nyonya Kades tidak mempermasalahkan itu. Jumat malam dia menunggui kedatangan suaminya di ruang tamu. Laksana Hakim yang akan menyidangkan seorang tersangka koruptor, wajahnya tampak dingin. Dia tidak menyambut sang Kades dengan senyuman. Begitu suaminya duduk, sang Nyonya Kades langsung memutuskan. Dia tak perlu lagi pertimbangan dan pembelaan dari sang Kades. Hanya satu kalimat yang keluar, “KAMU DI DROP OUT!!!”

Advertisements

5 thoughts on “Drop Out By Wives

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s