No Stopping Them


Saat adzan subuh berkumandang, saat itulah aktivitas rumah tangga dimulai. Eram (50), warga Dusun Pacing Utara RT 08 RW 03 Desa Dewisari Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang bersama ibu rumah tangga lainnya pun telah bersiap memulai aktivitasnya. Cucian pakaian yang menumpuk ia wadahi pada sebuah baskom besar dan menuju satu titik di saluran irigasi. Ia simpan cuciannya di situ, lalu kembali ke rumah membawa bahan masakannya. Cucian itu seolah-olah pertanda bahwa tempat itu adalah miliknya sementara karena ia datang lebih dulu.

Setelah “pekerjaan rumah” diangkut ke “jamban”-nya itu, Eram meneruskan tugas kerumahtanggaannya itu. Ia mencuci dan membersihkan pakaian kotor sekeluarganya. Pakaian dan sayuran itu dibilas air saluran irigasi yang berwarna krem itu. “Lupa sejak kapan mulai mencuci di sini, pokoknya keluarga orang tua saya juga sama,” ucap Eram ketika ditanya sejarah air saluran irigasi itu digunakan olehnya.

Tidak jauh dari posisi Eram, berjejer kaum laki-laki dan wanita, anak, remaja, dan dewasa, mengguyurkan air saluran irigasi itu ke badannya. Mereka merendamkan bagian tubuhnya hingga pinggang dan hanya mengenakan kain untuk menutupi sebagian badannya. Lalu, mandi.

Ironisnya, saluran irigasi pun dijadikan tempat buang air besar. Aktivitas itu dilakukan warga tanpa kenal waktu baik ketika air itu dipakai untuk mencuci dan mandi. Di saluran irigasi itu jarak antar “jamban nyemplung” sekitar 200 meter dibangun dari tripleks bekas atau karung plastic. Sehingga, tidak aneh ketika anggota masyarakat lain sedang mandi, tiba-tiba ada kotoran manusia yang melintas.

Bagi warga yang tinggal di pinggiran saluran irigasi, pemandangan itu tidak lagi mengagetkan. Mereka menganggap itu lebih praktis ketimbang membangun jamban di rumahnya. Aktivitas mereka di saluran irigasi itu bukan karena ketiadaan jamban di rumah, melainkan sudah menjadi kebiasaan. “Air bersih sih, ada di sumur. Namun itu hanya untuk air minum,” ucap Eram.

Air bersih yang dipergunakan untuk minum itu bersumber dari sumur warga. Air ini berhak diambil siapa saja meskipun berada di salah satu rumah warga. Sedangkan aktivitas lainnya dilakukan di saluran irigasi.  Aku pernah tak sengaja melihat, tukang pecel ayam tengah mencuci daging ayam yang akan dijualnya di saluran irigasi tersebut. Dengan demikian wajar jika disebut “saluran irigasi paling porno”.

Di Kabupaten Karawang,  berdasarkan Survey Sosial dan Ekonomi Daerah (Suseda) Jawa Barat sebanyak 233.983 rumah tangga atau setara dengan 41 persen rumah tangga tidak memiliki jamban. Angka tersebut tergolong tinggi dibandingkan kota/kabupaten lainnya di Jawa Barat. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kab. Karawang, Rokim Hamdani menyebutkan rumah tangga yang tidak memiliki jamban itu sebagian besar tersebar di wilayah bagian utara Kab. Karawang seperti di Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Jayakerta, Tirtajaya, Pedes, dan Tempuran. ”Mereka masih memanfaatkan saluran irigasi primer dan sekunder untuk mandi, mencuci, serta buang air kecil dan besar,” ucap dia.

Tampaknya itu dilakukan bukan karena tidak adanya air bersih, melainkan karena kebiasaan mereka. Bupati Karawang Dadang S. Muchtar pernah membangunkan jamban untuk warga Desa Mekarbuana agar tidak buang hajat sembarangan. Itu hanya digunakan warga beberapa hari dan mereka kembali lagi buang hajat di sawah, kebun, saluran irigasi hingga rel kereta api.

Lebih lanjut, Rokim mengasumsikan setiap jamban itu dipakai oleh 20 orang per harinya. Jika disaluran irigasi berjejer 100 jamban nyemplung, dan kotoran manusia per orangnya 5 ons. Bisa dibayangkan berapa banyak kotoran manusia yang mencemari saluran irigasi yang juga digunakan untuk mencuci dan mandi itu.

Kepala Dinas Kesehatan Kab. Karawang Asep Lukman Hidayat menyebutkan masalah untuk sementara dengan meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat Kab. Karawang. Hal itu akan membuat mereka menjadi malu dan berhenti berperilaku hidup tidak sehat. “Kalau mahasiswa atau siswa SMA pastinya malu buang air besar kelihatan pantat kemana-mana,” ucap dia.

Kalau tidak demikian, akan sia-sia pemerintah menganggarkan Rp9,25 Miliar untuk penyediaan air bersih dan jamban jika warga tetap kembali pada kebiasaannya itu. Mungkin label “Saluran irigasi paling porno” tidak akan pernah hilang.

Wajar jika akhirnya saluran irigasi itu disebut saluran terporno di seluruh dunia, karena mereka sudah tidak memiliki rasa malu melihat satu sama lain. Sebenarnya ingin aku jajarkan bagaimana mereka memanfaatkan air sungai itu biar yang lain tahu bahwa sejorok apa mereka. Yang pasti, aku akan memilih menahan lapar ketimbang makan di warung yang berdekatan dengan saluran irigasi.®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s