Gadis Berkawat Gigi


Mungkin baru dua minggu lebih kawat gigi itu terpasang di bagian atas dan bawah giginya. Baru dua minggu lebih juga dia menjadi “pemakan ala siput” yaitu makan yang super lama. Kawat giginya itu membuat dia tidak nyaman mengunyah makanan. Sederhananya, harus serba hati-hati. Serba Hati-Hati (EsHaHa)…

Masih ingat cerita si Gadis Berkawat Gigi tapi bukan Bety La Fea, melainkan Bety Cap Nona ini, ketika awal-awal berkonsultasi dengan dokter gigi. Dia malah dibilang kasus unik, padahal pemasangan kawat gigi itu benar-benar dia lakukan dengan sadar untuk merapikan giginya yang tidak pernah mau berbaris rapi.

Kenapa unik?

Menurut si dokter, kebanyakan pasien yang pasang kawat gigi kepada dia berasal dari kalangan berduit dan giginya rapi. Alasan mereka memasang kawat gigi, yang pertama untuk gaya. Warna penahan giginya saja bisa ganti-ganti, padahal harga pasangnya saja cukup mahal bagiku. Tapi, buat mereka mungkin sanggup membayar sekaligus membeli dokter giginya.

Yang kedua, untuk menguruskan badan. Bila melihat efek yang ditimbulkan pada Bety Cap Nona setelah kawat itu dipasang aku mengerti. Kawat gigi yang ada itu malah “mengagoki” mengunyah makanan. Malah di awal pemasangan sangat terasa sakit di gusi. Selama sepekan, Bety Cap Nona hanya sanggup meneguk bubur. Giginya terasa linu ketika beradu dengan gigi lainnya. Bety juga mengeluhkan rasa nyeri dan tak nyaman. Wajar, karena ada benda asing di dalam mulut. Ada juga pasien yang mengeluhkan datangnya seriawan, pascadesakan kawat gigi ke selaput lendir.

Minggu selanjutnya pun, makanan yang masuk dikunyah seperti cara mengunyah nenek-nenek. Bety pernah bercerita bahwa untuk memakan kerupuk favoritnya saja, dia harus merenangkan si kerupuk di dalam air sup baru bisa dikunyah. Bahkan ketika temannya sudah sanggup menghabiskan satu dus snack, Bety masih berkutat dengan kue keju yang diemut di bagian depan mulutnya. Terakhir, Bety baru menghabiskan satu bungkus kecil snack yang dia sukai setelah menempuh jarak lima kilometer.

Tapi, Bety dipuji oleh sang dokter karena giginya dipagari bukan karena dua alasan tadi, tapi untuk merapikan giginya. Padahal dulu (entah kapan, hehe!) memagari gigi itu dianggap kelainan. Namun setelah si aktor ganteng nan seksi, Tom Cruise mengenakan kawat gigi pada 2002, maka kawat gigi atau behel menjadi gaya hidup.

Aku menemukan beberapa data dari intisari, bahwa jauh sebelum itu, bangsa Mesir Kuno (3.000 – 2.200 SM) sudah mengaitkan geligi dengan kawat emas. Pierre Fauchard pun sudah membahas cara merapikan gigi dalam buku The Surgeon Dentist pada 1728. Disusul Edward Hartley Angle, yang pada 1887 memperkenalkan alat perapi gigi dan tata penggolongan sederhana untukmalocclusion (ketakteraturan letak gigi), yang masih dipakai sampai sekarang. Berikutnya, Bourdet mengupas baris geligi dan penggunaan alat perapi dalam mulut dalam buku The Dentists Art(1957).

Saat ini, kawat gigi telah mengalami perkembangan berarti. Bentuknya pun beragam. Dari yang lepasan sampai cekat (tetap). Dari yang berbahan kawat sederhana, besi, sampai yang terbuat dari emas berhiaskan berlian. Apa pun jenis, model, dan bahannya, prinsip kerjanya sama saja. Fungsinya juga tak berbeda, yaitu sebagai pegas pendorong atau penarik gigi. Terkadang juga sekadar dijadikan sebagai penghias gigi. Maraknya jenis, model, dan bahan itu dimaksudkan agar terapi menjadi lebih efektif, nyaman, dan makin enak dipandang! Kawat gigi cekat mulai muncul di Amerika Serikat sejak 1970-an. Sedangkan di Indonesia baru mulai 1980-an dan kian populer pada awal tahun 2000-an.

Menurut drg. Maria P Indratoto, Sp.Ort. dari Rumah Sakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia (FKG UI), jika susunannya normal, geligi berbaris rapi atau antara gigi atas dan bawah bisa tepat mengatup, sebenarnya tak perlu dipagari. Begitu pula kalau sudah simetris – garis tengah dua gigi depan atas sejajar dengan garis tengah dua gigi depan bawah, sedangkan letaknya persis di bagian tengah wajah.

Namun, tak semua orang bagus susunan giginya. Prevalensi (angka kejadian) kelainan susunan geligi dan pengatupan rahang di Indonesia konon mencapai 80%. Kelainan ini menjadi masalah terbesar ketiga setelah gigi berlubang dan penyakit gusi. Jika gigi-geligi terlalu berjejal, maju-mundur, gingsul, atau sebaliknya terlalu jarang, kawat gigi diperlukan untuk meluruskan. Juga pada kondisi rahang bawah normal, rahang atas maju (tonggos), atau sebaliknya, rahang bawah terlalu maju, rahang atas normal (cakil).

Jika tak cepat ditangani, kelainan-kelainan itu akan membuat acara sikat gigi tak maksimal.Akibatnya, gigi jadi gampang berlubang, tumbuh banyak karang gigi, gusi mudah berdarah, dan memun-culkan bau mulut tak Sedap. Pada tahap lebih parah, bahkan dapat menimbulkan gangguan sakit kepala dan otot leher.

Perkawinan campuran

Perkawinan campuran antara pria Batak yang berahang dan bergigi besar dengan wanita Sunda yang berahang dan bergigi kecil, misalnya akan menghasilkan perpaduan rahang besar dan gigi kecil (pada anak keturunannya), hingga jarak gigi menjadi renggang. Atau sebaliknya, perpaduan rahang kecil dan gigi besar, sehingga gigi berjejalan,

Begitu juga dengan pola makan. Seperti diketahui, benih gigi mulai tumbuh saat janin berusia tiga bulan. Jika si ibu hamil suka makan ikan (kaya kalsium, vitamin A, dan D), rahang si calon bayi akan ikut menguat. Sebaliknya, kalau bayi atau anak terlalu lama dibiasakan makan bubur atau makanan lunak lainnya, rahangnya tak akan berkembang.

Gigi bertumpuk dapat juga dipicu dan seringnya anak mengisap jari atau dot sampai usia di atas enam tahun, sehingga rahang tak berkembang. Bisa juga lantaran gigi susu sebagai penuntun pertumbuhan gigi tetap tanggal terlalu cepat. Akibatnya, ada masa kosong gigi sebelum gigi tetap muncul. Gigi tetap pun jadi tumbuh seenaknya. Mengisap jari dan memainkan lidah pun bisa bikin gigi maju ke depan alias tonggos, karena saat anak-anak, akar giginya masih lemah.

Kapan sebaiknya kawat gigi digunakan ?

Anak akan memasuki tahap gigi campur (pergantian gigi susu ke gigi tetap) pada usia sekitar enam tahun. Tapi saat itu mereka belum perlu kawat gigi, kecuali pada kasus-kasus khusus yang berhubungan dengan bentuk gigi atau rahang yang sangat ekstrem. Misalnya gigi menumpuk dan mengarah pada bibir, atau pertemuan gigi yang amat menyilang hingga gigitan sangat jauh.

Normalnya, orthodontist akan menyarankan pemasangan kawat gigi pada akhir masa gigi campur atau ketika anak memasuki masa pubertas (12 tahun). Walaupun sudah kelihatan berjejalan, sebaiknya biarkan gigi tetap tumbuh dulu sampai sekitar usia 12 tahun, agar perkembangan rahangnya maksimal

Puasa soda

Alat yang sifatnya lepasan hanya boleh dicopot saat makan atau menggosok gigi. Sementara pemakai cekat dengan straight wire (kawat lentur) dan bracket standar perlu teratur memeriksakan diri minimal 3 – 5 minggu sekali, agar orthodontist bisa melihat perkembangannya, sekaligus mengencangkan kawat sesuai pergerakan gigi.

Setelah masa perawatan aktif selesai, pasien masih harus menggunakan retainer selama enam bulan untuk menjaga kestabilan hasil perawatan aktif. Bentuknya berupa seutas kawat di bagian dalam gigi depan, yang lebih mudah berubah letak, bisa berupa lepasan atau cekat pasif.

Selama pemasangan kawat gigi aktif dan retainer, kebersihan dan perilaku makan harus dijaga betul. Sebaiknya, pemakai menggunakan sikat gigi khusus vertikal dan horizontal yang mampu membersihkan kotoran di sela-sela gigi dan kawat.  Namun, yang penting, gigi disikat minimmal dua kali sehari atau tiap kali sesudah makan.

Walau tak ada pantangan, sebaiknya hindari makanan yang manis, lengket, liat, dan bersoda, karena makanan macam itu lebih sulit dibersihkan. Makanan padat dan keras kayak apel, sebaiknya dipotong kecil-kecil. Jangan coba-coba melepas atau menyetel kawat gigi yang sudah dipasang.

Wuih…panjang benar perjalananmu untuk merapikan gigi Bety Cap Nona. Ingat ya, memasang pagar gigi memang tak semudah memagari rumah. Tapi jika sukses, senyum yang dilontar-kannya bisa jauh lebih manis ketimbang senyum dari balik pagar rumah.®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s