On Love, In Sadness


On love, in sadness. Ada cinta, ada duka. Mungkin ini sebagian dari gambaran keterpaksaan sebagian orang dalam ihwal poligami. Dikelilingi banyak cinta sekaligus kesedihan. Ada yang beranggapan, poligami itu menyiksa istri yang dimadu. Jangan salah, si madu dan sang suami juga sama-sama tersiksa. Anak-anak hasil pernikahan pun merasakan hal yang sama.

Oh ya, di awal tulisan ini aku perlu bilang, aku bukanlah orang yang benci dengan poligami. Aku hanya mengumpulkan cerita-cerita itu dalam tulisan ini. Tulisanku ini semua bercerita tentang poligami dari sudut pandang lelaki. Ada cerita dari lelaki  yang enggan berpoligami padahal ada kesempatan, lelaki yang poligami akhirnya ketahuan, lelaki yang rukun berpoligami tapi anaknya selalu berkelahi, dan lelaki yang disangka berpoligami.

Dia adalah lelaki yang enggan berpoligami padahal punya kesempatan dan memang diberikan kewenangan untuk itu. Dia adalah Sri Sultan Hamengku Buwono. Aku memang tidak pernah mewawancarainya. Aku hanya menontonnya ketika dia diwawancarai Andy F. Noya di acara “Kick Andy”. Saat itu, Andy bertanya mengenai keistimewaan istrinya sehingga Sultan tidak pernah berniat untuk memiliki istri lebih dari satu. Padahal dalam kesultanan, bukan suatu pelanggaran jika seorang Sultan beristri dari satu orang. Bahkan Sultan diimbau pula memiliki banyak selir.

Namun apa jawaban Sultan atas pertanyaan itu? Dia bilang bahwa dia adalah “produk” poligami. Dia tahu rasanya menjadi “produk” poligami. Dan tanpa memperpanjang jawabannya, Sultan bilang bahwa dia tidak ingin anak-anaknya merasakan apa yang dia rasakan.

Kesedihan menjadi “produk” poligami juga diceritakan oleh rekan kerjaku di lapangan. Sebut saja namanya Baba. Dia mengaku menikah dengan empat orang wanita, satu di antaranya telah meninggal dunia. Beberapa istrinya tidak tinggal bersamanya karena mereka menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Timur Tengah, sehingga tidak pernah ada pertengkaran antar istri. Namun anak-anak mereka tinggal bersama Baba. Dan istri-istrinya mengirim uang dari Timur Tengah untuk membantu Baba menghidupi anak-anaknya.

Satu hari, ketika Baba tengah bekerja, salah seorang istrinya menelefonnya. Dia meminta Baba segera pulang karena ada masalah yang mendesak. Ketika Baba tiba di rumahnya, ternyata dua anak dari istri yang berbeda dalam keadaan babak belur. Baba pun menanyakan penyebab kedua anaknya itu babak belur. Istri kedua Baba mengatakan bahwa kedua anak itu berkelahi di lapangan, tapi ketika ditanya tidak mau menjawab.

Baba pun lalu mengulangi pertanyaan istri keduanya kepada anak-anaknya itu. Kepada Baba mereka mengatakan perkelahian itu disebabkan ada rasa tidak adil dirasakan salah satu anak Baba. Anak Baba dari istri pertama mengaku dia jarang sekali bertemu Baba karena Baba lebih sering berada di rumah istri keduanya sehingga anak-anak dari istri kedua Baba lebih sering bermain dengan Baba. Dia juga ingin merasakan hal serupa, memiliki ayahnya dengan utuh.

Mungkin perasaan seperti anak Baba itulah yang pernah dirasakan Sultan ketika dia masih kecil. Dia mesti membagi ayahnya dengan saudara-saudara sebapak di tempat tinggal yang berbeda. Sang ayah seperti Baba juga merasa sedih ketika menyaksikan anak-anaknya berkelahi hingga babak belur karena memperebutkan perhatiannya. Baba sendiri mengakui bahwa konsekuensi seperti itulah yang harus dialami ketika dia memutuskan berpoligami.

Cerita selanjutnya mengupas kepedihan seorang lelaki yang berpoligami. Namanya Junior, dia memiliki dua istri. Dari istri pertamanya, Celine (bukan sebenarnya) dia dikaruniai tiga orang anak, sedangkan dari istri keduanya, Olive (juga bukan sebenarnya) belum dikaruniai anak. Selama lima tahun Junior menikahi Olive, tidak pernah diketahui Celine. Setiap hendak mengunjungi Olive, Junior selalu mengaku ada dinas luar dari kantor tempat ia bekerja.

Hingga satu hari, saat ayah Junior meninggal dunia, saat itulah status poligaminya terbongkar. Celine mengetahui perihal pernikahan kedua Junior dari kerabat yang dikenalkan pada Olive oleh Junior. Kerabat Junior mengira Celine telah mengetahuinya. Kontan Celine naik pitam. Dia meminta penjelasan Junior. Begini pengakuan Junior:

Pernikahan dengan Olive berlangsung sejak lima tahun lalu. Pernikahan itu dilakukan karena Junior tidak ingin berbuat zina dengan Olive yang masih gadis. Junior telah meminta Olive menjadi istri kedua dan Olive menerimanya. Keluarga Olive pun mengetahui status pernikahan Junior sebelumnya. Namun, Junior mengaku belum siap untuk terbuka pada istri pertamanya. Dia khawatir akan terjadi perang terbuka.

Celine hancur hatinya. Dia tidak pernah menduga Junior akan berbuat demikian. Selama lima tahun Junior mendua, Celine tidak pernah curiga suaminya selingkuh. Perhatian lahir dan bathin Junior pada dia dan anak-anaknya tidak berubah. Dia pun meminta Junior untuk menelfon Olive.

Junior   : Halo..Olive, ini Abang. Ada yang mau ngomong nih (sambil menyerahkan ponsel ke Celine)

Celine    : Halo. Ini Celine istri Bang Junior. Kamu istrinya yang keberapa?

Olive      :Halo juga Mba. Apa kabar?

Celine    : Udah deh, enggak usah basa-basi. Kamu kok mau nikah sama laki yang udah punya anak bini? Kamu juga perempuan kan. Masak enggak punya perasaan sih sebagai sesama perempuan.

Olive      : Saya tahu Mba, kalau Bang Junior sudah punya istri dan anak. Tapi, saya mencintai Bang Junior dan Bang Junior pun mencintai saya. Saya juga enggak bisa menolak perasaan saya sama Bang Junior. Mba, saya dan perempuan-perempuan seperti saya tidak pernah mimpi jadi istri kedua, jadi madu. Tapi ini jodoh kami, menjadi madu. Saya terima ini. Dan apa pun keputusan Bang Junior ke depan, mau tetap menikahi atau menceraikan saya, akan saya terima.

Di akhir pembicaraan, Celine meminta Olive bertemu muka. Karena permintaan itu, Junior sempat dimarahi oleh ibunya Olive. Dia meminta Junior membatalkan pertemuan itu. “Pokoknya kalau mereka mau ketemuan, enggak boleh berdua. Gue enggak mau anak gue dimutilasi ama bini pertama elu Junior,” kata sang mertua.

Setelah menelfon Olive, Celine lemas. Dia tidak mau bicara dengan Junior. Dia masih belum bisa menerima kenyataan itu. Celine baru mau berbicara beberapa hari kemudian. Itupun perkataan pedas dan menyindir Junior sehingga Junior tak sanggup untuk menatap mata istri pertamanya itu. Junior tidak menyangka akibat kebohongan dan kecurangan pada istrinya itu dibayar dengan kepedihan seperti itu. “Gue berusaha bersikap adil pada keduanya karena gue sayang sama mereka,” ucap Junior.

Lebih pedih lagi, jika lelaki yang tidak berpoligami dituduh berpoligami. Inilah yang menimpa Dudung, seorang pejabat di sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dudung sebenarnya tahu tentang gosip yang menyebar bahwa ia telah menikah lagi. Gosip itu menyebar ketika Dudung ditempatkan di Indramayu, jauh dari istrinya yang tinggal di Jakarta.

Dudung tak ambil pusing hingga suatu hari atasannya yang di Jakarta memanggilnya. Tanpa bertanya apakah Dudung sudah menikah lagi atau belum, sang atasan menceramahi panjang lebar tentang mudharatnya menduakan cinta sang istri. Dudung hanya diam, karena apa pun pernyataan dia akan dianggap atasannya sebagai pembelaan. Sebab sejak awal atasannya itu telah berpikir bahwa Dudung memang telah menikah lagi. Dudung hanya meminta dimutasi untuk membuktikan kalau dia memang telah menikah lagi. “Kalau saya pindah, pasti perempuan yang saya nikahi itu akan mencari alamat saya yang baru hingga ke kantor pusat di Jakarta,” ucap Dudung.

Ceramah atasannya oleh Dudung disampaikan pada istrinya. Eh, sang istri juga ternyata telah lama berpikir bahwa Dudung telah menikah lagi. Hanya, dia tidak berani menanyakannya pada Dudung karena takut terluka dengan jawaban Dudung. Akhirnya Dudung menceritakan kebenarannya pada istrinya. Dan istrinya, tetap tak percaya.

Memang benar ucapan Aa Gym, kalau belum siap dengan segala konsekuensinya, jangan berpoligami dulu karena aka nada banyak hati yang dilukai.®

Advertisements

2 thoughts on “On Love, In Sadness

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s