Best Seat In Prison


Enggak heran, ya, banyak terpidana yang betah tinggal di Lembaga Pemasyarakatan alias Lapas. Toh, fasilitas yang diberikan kepada mereka tidak berbeda dengan saat mereka berada di luar. Ada yang bilang, meskipun fasilitas mereka “mewah”, tapi mereka tidak merdeka karena tidak sebebas orang yang berada di luar tahanan yang “bebas” kemana-mana.

Hmmm…”bebas”, ya, apa benar mereka tidak bebas? Mereka tetap “sebebas merpati”. Oke, aku ceritakan ini pada bagian selanjutnya.

Coba diingat tayangan semalam dan malam sebelumnya ketika Satgas Mafia Peradilan menginspeksi secara mendadak sejumlah lapas. Satu yang cukup bahkan sangat menarik perhatian, ketika mereka menemukan kemewahan sel yang ditempati Artalita Suryani. Sempat melihat sekilas, tidak beda jauh dari luas kamar kontrakanku. Tapi dia lebih mewah. Mungkin karena aku hanya bayar Rp 400 ribu per bulan, sedang Ayin, walahualam…

Sebenarnya ketakjuban Satgas Mafia Peradilan tidak kalah dengan ketakjubanku. Aku tidak takjub pada fasilitas mewah yang diterima oleh Ayin, tapi aku takjub pada reaksi Satgas. Kemana saja mereka selama ini? Seolah-olah fasilitas “mewah” untuk terpidana macam Ayin itu baru ada sekarang. Dengan begitu, secara langsung diakui bahwa pengawasan terhadap itu pun lemah.

Lalu, membaca komentar Dirjen Lapas, Untung Sugiyono yang menganggap “kemewahan” di sel Ayin itu sebagai sebuah kewajaran, tambah miris. Semua orang sama kedudukan di depan hukum sudah tak ada lagi. Sistem kasta tetap berjalan, dimana yang memiliki uang menempati posisi terhormat dan difasilitasi dengan lengkap. Kasus korupsi pun dianggap sebagai kasus yang “hebat” karena dilakukan oleh orang-orang dari kasta paling atas. Dan, orang-orang yang berada di kasta terendah mesti merasakan “neraka” dunia.

Sepertinya, status mereka sebagai terpidana hanya ada di atas kertas. Karena, hukuman-hukuman yang menyiksa dan menjerakan mereka tidak pernah ada. Bahkan di dalam lapas mereka menjadi ratu yang mempunyai puluhan dayang yang melayaninya. Jika dayang tidak cukup, bisa memanggil dari pihak luar, seperti yang dilakukan Ayin ketika menjalani perawatan kulit oleh dokter spesialis kulit (*yang tidak mungkin tinggal di lapas)

“Pelayanan” istimewa itu tidak hanya diterima oleh Ayin, loh. Terpidana bahkan terdakwa kasus korupsi atau kasus lainnya bisa menerima pelayanan itu, asalkan mereka punya fulus. Misalnya saja, baru dinyatakan terdakwa oleh Kejaksaan Negeri dan dititipkan di lapas, mereka langsung disodori semacam “tariff inap” selama di lapas. Mereka dikenakan “charge” tertentu bila ingin tinggal sendirian di sel. Jika ingin membawa fasilitas tambahan, maka dia mesti memberikan extra charge. Bahkan tidak jarang, disediakan ruangan khusus saat istri atau suami terdakwa atau terpidana berkunjung.

Ada seorang mantan terdakwa yang identitas dan lokasi ditahannya aku rahasiakan bercerita bahwa selama tiga bulan ditahan di lapas, dia sudah tidak bisa menahan rindunya pada istrinya. Kerinduan itu dia sampaikan pada Kalapas, dan dia diberikan solusi. Saat istrinya membesuk, disediakan ruang poliklinik untuk mereka melepas kangen dan tentunya dengan “extra charge” lagi.

Dia juga bercerita, ada seorang terpidana kasus besar yang sering dipindah-pindahkan lapas (seolah pemerataan rejeki) sempat tinggal di lapas tempat dia ditahan. Dia bilang, sudah tidak terhitung uang yang dibagikan pada orang-orang di lapas (baik sipir atau pun tahanan). Bahkan narapidana lainnya rebutan untuk memijat dia karena akan mendapat uang tambahan yang cukup besar. Tidak jarang, terpidana “kakap” itu memanggil narapidana-narapidana wanita ke selnya. Di selnya, wanita-wanita itu ditelanjangi dan ketika ada wanita yang dia suka diberikan uang sebesar puluhan juta tanpa disentuh sedikit pun. Dia pun diperbolehkan keluar untuk menangani bisnisnya dengan kamuflase berobat di rumah sakit luar dan diantar ambulans.

Para terpidana “kakap” itu pun seringkali dibebani untuk membiayai kegiatan lapas. Misalnya ketika ada kegiatan 17 Agustus-an, pasti mereka dimintai sumbangan untuk acara tersebut. Para terpidana itu pun akan merasa senang jika ada orang “kakap” baru yang masuk. Itu artinya beban mereka untuk membiayai kegiatan-kegiatan lapas sedikit berkurang.

Tapi bagaimana dengan terpidana atau terdakwa kelas “teri”?

Mereka mesti tidur berimpit-impitan di ruangan sempit. Mereka juga mesti saling menunggu ketika mandi. Tidak hanya mereka yang tersiksa. Keluarga mereka pun tidak sedikit tersiksa. Mereka mesti memiliki uang yang cukup untuk bisa bertemu dengan anggota keluarga mereka yang ditahan. Kadang-kadang, kalau anggota mereka statusnya masih tahanan, pasti berpesan untuk menemui mereka di tempat sidang, karena tidak perlu mengeluarkan banyak uang kecuali ongkos.

Menilik kehidupan mereka di lapas, tidak ada rasa jera. Narapidana kelas “kakap” tetap merasa nyaman karena berada di lapas layaknya pindah rumah saja. Aktivitas mereka mencari uang bahkan tidak terganggu. Di dalam lapas mereka malah bisa “merger” dengan narapidana kelas “kakap” lainnya. Mungkin saja, saat keluar nanti mereka malah meresmikan usaha bersama yang levelnya lebih tinggi lagi.

Sedangkan, narapidana kelas “teri” malah bisa tumbuh menjadi narapidana kelas “kakap” karena bagi mereka lapas tidak beda dari sekolah criminal. Masuk lapas karena mencuri ayam, keluar lapas sanggup membobol bank. Mereka malah belajar pada ahli-ahlinya di sana. Ahli-ahli criminal yang apes karena tertangkap.

Kemudian, negara ini malah akan jadi sarang penyamun yang maha dahsyat karena para pengelola negeri ini terlalu sibuk dengan kepentingannya sendiri yang mereka sebut “elite’.®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s