All That Lies Begin In Friday


Pagi buta Kades Ginanjar sudah memanaskan sedannya di halaman. Nengsih, istri sang kades Citaliktik Kecamatan Ciendog Kabupaten Singadeupa itu pun ikut sibuk. Usai solat subuh, Nengsih langsung membenamkan diri di dapur. Membuatkan sarapan nasi goreng plus ceplok telor untuk Pa Kades.

“Hari ini, kuliah sampai sore lagi Pah?”, Nengsih agak berteriak karena jarak antara ruang dapur dengan  ruang keluarga cukup jauh.

Kades Ginanjar mengiyakan sambil merapikan rambutnya. Rambutnya dipolesi minyak Tancho agak banyak. Sepertinya kalau lalat parkir di rambut Pa Kades Ginanjar pasti terpeleset saking licinnya. Nengsih meruncingkan hidungnya saat melintasi Pa Kades Ginanjar dan meletakkan piring di meja makan. Tidak biasanya, aroma parfum Pa Kades Ginanjar lebih menyengat.

“Ini kan, Jumat, Mah. Papah musti harum karena mau Jumaatan. Itu kan, sunnah Rosul. Masak Mamah lupa. Pa Ustadz Apid ajarin Mamah soal itu kan?” ucapnya tidak mau kalah.

Tanpa banyak bicara Nengsih langsung memberikan jatah sarapan suaminya. Alasan pertama, Nengsih tidak ingin suaminya itu terlambat masuk kuliah di Universitas Singadeupa (Unsing) hanya karena berdebat dengannya tentang adab hari Jumat. Nengsih hafal benar tabiat suaminya jika didebat. Segala macam dalil pasti dikeluarkan. Dan tidak cukup waktu sejam mendengarkan dakwahnya.

Alasan kedua, Nengsih akan disalahkan habis-habisan karena meminta suaminya tampil tidak sempurna. Padahal sebagai kepala desa, apalagi di tempat umum seperti mesjid, imejnya itu harus dijaga. Kades Ginanjar amat menjaga penampilannya di depan umum.

“Aku tidak mau Mah, kalau lalai menjaga penampilan malah dijadikan alat bagi lawan politikku untuk menjatuhkanku. Masih ingat kan, Mah, banyak kades yang terjungkal oleh lawan politik karena hal sepele. Dan aku tidak mau jadi korban selanjutnya,” papar Kades Ginanjar.

Seketika nafsu sarapan Nengsih hilang. Dia pun meninggalkan suaminya ke kamar. Keluar kamar dia sudah membawa tas bahu yang isinya bahan-bahan perkuliahan Kades Ginanjar di Fakultas Hukum Unsing. Kades Ginanjar pun tersenyum melihat pengertian istrinya itu. Sesaat dia merasa amat beruntung mempunyai istri seperti Nengsih yang tak banyak melarang. Walau pun Nengsih pintar, tapi mudah dibodohi Kades Ginanjar. Seperti hari itu.

“Oh ya, Mah, aku pulang agak malam nanti. Enggak usah dicari ya. Mau kerja kelompok. Ada tugas buat makalah nih, harus dikumpulkan besok,” kata Kades Ginanjar sambil mencium dahi Nengsih dan dibalas ciuman Nengsih di punggung tangan Kades Ginanjar. Ke depan, hingga tiga bulan selanjutnya, alasan itulah yang dipakai Kades Ginanjar tiap hari Jumat hingga ia dinyatakan di-drop out oleh istrinya.

***

Kades Ginanjar tidak langsung pergi ke kampus Unsing. Karena memang tiap Jumat tidak ada perkuliahan bagi mahasiswa semester satu. Kades Ginanjar langsung menuju rumah Kades Komar di Desa Cihayam Kec. Ciendog. Di rumah Kades Komar, telah tampak Kades Eman dari Desa Cisoang Kec. Ciendog. Tiga orang kepala desa itu sepertinya telah berjanji bertemu di rumah Kades Komar. Raut wajah Kades Komar tampak berubah ketika Kades Ginanjar datang.

“Wah .. tadinya ku pikir tidak akan datang,” ucap Kades Komar sambil melambai pada istrinya sebagai tanda minta dibuatkan air kopi hitam untuk Kades Ginanjar.

“Gimana? Jadi kan?” Kades Ginanjar seakan memastikan perjanjian mereka.

Kades Komar dan Kades Eman mengangguk. Kades Ginanjar masih teringat ajakan Kades Eman beberapa hari sebelumnya. Kades Eman mengajak mereka agar refreshing sekali dalam seminggu ke sebuah tempat hiburan. Dia yakin aktivitas sebagai kepala desa itu sangat melelahkan. Ditambah lagi, pulang ngantor, mereka harus menghadapi “sambutan hangat” keluarga di rumah. Dia pun menjamin, sepulang dari tempat hiburan itu, semua penat akan hilang. Dan yang terpenting, tidak akan bertemu orang yang dikenal, sehingga tidak ada kabar burung pada istri-istrinya.

Kades Komar dan Kades Ginanjar tergiur dengan ajakan Kades Eman. Terlebih Kades Eman menjanjikan duo kades itu tidak perlu keluar uang. “Saya saja yang bayar. Anggap saja, bagian promosi. Kalau puas, selanjutnya patungan ya,” duo kades itu pun sepakat dengan tawaran itu.

Pendek kata mereka pun berangkat. Tujuannya : WARUNG REMANG-REMANG PANTURA.

Tiba di Pantura, mereka disuguhkan pemandangan yang sebenarnya kumuh. Tapi itu dari luar. Ketika masuk ke dalam, mereka menyaksikan begitu banyak wanita muda nan seksi dengan balutan pakaian yang mencetak lekukan tubuh mereka. Sesekali pusar wanita itu kelihatan karena pakaian yang dipakainya sepertinya lebih pantas digunakan adik kecilnya.

Di tempat itu, Kades Komar dan Kades Ginanjar tampak lupa kalau di rumah sudah ada istri dan anak. Apalagi ketika beberapa wanita seksi itu menghampirinya. Tanpa diperintah, duo kades itu digandeng masing-masing dua wanita. Mereka diseret ke sebuah ruangan yang remang-remang sesuai namanya. Di dalam disediakan sofa kulit yang sebagian telah robek terkoyak serta satu set perangkat karaoke.

Kades Eman lalu memerintahkan wanita-wanita itu menyiapkan minuman keras untuk sang kades, sebangsa bir hitam. Alunan musik dari perangkat karaoke itu dinyalakan. Keluarlah hentakan musik koplok, musik Cirebonan digabung musik disko plus dugem. Duo kades itu diserahi mikropon agar mereka menyanyi. Dan sang wanita baru mau menyanyi dan menari setelah diselipkan lembaran uang ribuan pada bagian dadanya.

Entah berapa botol bir itu mereka habiskan. Tapi mereka puas. Merasa terhibur dan tak perlu mengeluarkan uang untuk itu karena ada Kades Eman. ®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s