Pekerja Infotainment, Sudahlah


*dikutip dari Majalah Tempo Edisi 28 Desember 2009-3 Januari 2010

Luna Maya diadukan pekerja infotainment. Ibarat ular mencari gebuk.

Tentu ada sesuatu yang salah jika seorang karyawati dan seorang artis cantik–yang tak punya catatan criminal–tiba-tiba terancam kurungan penjara maksimal enam tahun dan denda Rp 1 miliar. Prita Mulyasari, Luna Maya, atau masyarakat pers dan penggiat demokrasi berhadap-hadapan dengan Pasal 27 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik, pasal yang siap mengganjar pelanggarnya dengan hukuman ekstrakeras.

Bayangkanlah, di kala Perserikatan Bangsa-Bangsa mengimbau negara anggotanya membuang pasal pidana pencemaran nama baik dari system hukum masing-masing, Indonesia malah meningkatkan ancaman hukuman perkara ini hampir empat kali lipat. Bahkan Pasal 311 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, yang dibuat oleh penjajah Belanda itu, hanya memberikan ancaman paling tinggi 16 bulan penjara bagi pelaku pencemaran nama baik melalui tulisan.

Tak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perkembangan ini selain setback, kemunduran semenjak reformasi digulirkan pada 1998. Tidak ada proteksi khusus bagi warga negara yang kebetulan berada dalam posisi seperti Prita atau Luna.

Ancaman hukuman di atas lima tahun itu memudahkan polisi dan kejaksaan melakukan penahanan terhadap terlapor. Ini terbukti ketika Prita Mulyasari, yang mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit Omni Internasional melalu Internet, ditahan kejaksaan di awal tahun ini. Hanya berkat dukungan besar masyarakat dan media, ibu dua anak itu dibebaskan. Dukungan yang kemudian bergulir menjadi aksi pengumpulan “koin untuk keadilan” hingga hampir Rp 1 miliar dari puluhan ribu warga di berbagai penjuru republic ini menunjukkan protes masyarakat atas penerapan hukum yang dianggap tidak adil itu.

Besarnya protes masyarakat ini, untungnya, bisa “dibaca” pemerintah. Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar telah menyatakan niat mengajukan revisi atas undang-undang yang rancangan awalnya hanya mengatur soal transaksi bisnis di ranah elektronik ini. Itu sebabnya dirasakan amat ironis bila sekarang pasal bermasalah ini justru digunakan oleh pengurus pekerja infotainment nasional.

Apalagi pelaporan mereka tak memiliki dasar hukum. Luna Maya tak menulis secara spesifik siapa pekerja infotainment yang dianggapnya (maaf) lebih kejam dan hina dari pada pembunuh dan pelacur itu. Ini berarti tak ada subjek hukum yang terkena pencemaran nama baik dan, karena itu, tak ada pelanggaran pidana. Luna Maya pun telah mengajukan permintaan maaf secara tertulis di jejaring Twitter yang sama begitu menyadari ungkapannya menyinggung perasaan beberapa pembacanya.

Permintaan maaf itu, yang kemudian diikuti penutupan akses public pada jalur Twitter-nya, menunjukkan indikasi Luna Maya sadar harus lebih berhati-hati dalam mengungkapkan ekspresi di tempat terbuka. Kesadaran ini akan membuatnya lebih aman dari kemungkinan dilaporkan melakukan pidana pencemaran nama baik lagi, tapi merugikan penggemar dan pengamat perilakunya – seperti para pekerja infotainment – yang kehilangan akses pada ekspresi spontan artis itu.

Ini mungkin akan menggoda para pengamat itu untuk mengakses Twitter tertutup Luna Maya secara tidak legal. Jika ini dilakukan, para pengakses itu malah akan terancam masuk penjara karena melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Walhasil, upaya pengurus pekerja infotainment melaporkan Luna Maya tak hanya membuat anggota merak tidak popular di masyarakat, tapi juga terancam oleh undang-undang ini. Bak kata peribahasa, upaya mereka ibarat ular mencari gebuk.

Lalu apa kata perancang UU ITE itu?

“UU ITE  merupakan Undang-Undang yang monumental. UU ini membentuk rezim hukum baru. Dengan hadirnya UU ITE, data elektronik dan informasi elektronik yang sebelumnya tidak dapat menjadi alat bukti yang sah di pengadilan, kini telah diakui sebagai alat bukti sah,” jelas Danrivanto Budhijanto, SH., LLM in IT Law, dosen Fakultas Hukum (FH) Unpad.

Kasus Prita mirip dengan kasus Erick Jazier Adriansyah. Sebelumnya pada November 2008, kasus hampir serupa juga pernah mengangkat UU ITE diperbincangkan publik. Erick Jazier Adriansyah, seorang pialang dijerat pasal 27 ayat 3 dan 28 ayat 1 UU ITE karena memforward e-mail berisi rumor sejumlah bank sedang menghadapi masalah likuiditas kepada kliennya.

Lebih lanjut Danrivanto memaparkan, dahulu rekaman suara tidak bisa menjadi alat bukti sah di pengadilan. Kini, rekaman suara telah diakui sebagai alat bukti sah. Sekarang, transaksi elektronik dengan menggunakan internet dan media elektronik lainnya pun telah memperoleh kepastian hukum sehingga kita tidak perlu ragu lagi dengan perlindungan hukum terhadap transaksi e-banking dan sejenisnya.

Tanpa bermaksud mendukung salah satu pihak dari kasus di atas, Danrivanto mengatakan pasal-pasal dalam UU ITE terutama dalam Bab VII tentang Perbuatan Yang Dilarang, harus dipahami secara baik  ”Kita harus mencermati, apa itu informasi elektronik, apa itu dokumen elektronik, juga bagaimana itu perbuatan yang disengaja, serta seperti apa perbuatan tanpa hak? Pasal 27 dalam UU ITE bukanlah pasal yang mandiri, harus dilihat juga pasal-pasal lain dan aturan hukum lain,” tuturnya.

Secara sederhana Danrivanto menjelaskan, e-mail yang masih dalam posisi draft dan belum terkirim adalah sebuah ”informasi elektronik”. Ketika e-mail itu terkirim kepada pihak lain maka statusnya menjadi ”dokumen elektronik”. Keduanya, baik informasi elektronik maupun dokumen elektronik merupakan alat bukti hukum yang sah.

”Perlu dicermati juga ’perbuatan dengan sengaja’ itu, apakah memang terkandung niat jahat dalam perbuatan itu. Periksa juga apakah perbuatan itu dilakukan tanpa hak? Kalau pers yang melakukannya tentu mereka punya hak. Namun bila ada sengketa dengan pers, UU Pers yang jadi acuannya,” ujar Danrivanto.

Pasal 27 UU ITE pun, tidak serta merta bisa langsung dikenakan pada orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan informasi dan dokumen elektronik. Orang yang mengirimkan e-mail dengan alamat tujuan closed recipients berbeda dengan orang yang mengirimkan e-mail dengan alamat tujuan yang open.

”Contoh sederhananya begini. Kalau kita menulis pesan dalam wall di Facebook, itu terbuka. Tetapi kalau kita menulis pesan dan mengirimkannya lewat fasilitas message di Facebook, itu pesan tertutup. Jadi, kita memang harus berhati-hati dalam bertindak. Jika mengirimkan e-mail kepada seseorang dan tidak ingin orang itu memforward lagi ke pihak lain, ada baiknya kita tegaskan seperti itu,” papar dia.

Luna Maya : Saya Jauh Lebih Dirugikan

Galibnya acara seperti ini diserbu para “wartawan” infotainment. Ya, Rabu pekan lalu itu, Luna Maya tengah merayakan pembukaan kafenya. Tapi, hingga acara itu berakhir, tak terlihat kamera infotainment menyorot acara tersebut. “Saya rada trauma,”ujar Luna. Ia mengaku sengaja tak mengundang pekerja infotainment. Berikut ini wawancara Tempo dengan Luna Maya seputar kasus hukum yang menimpanya.

Kenapa Anda begitu kesal pada pekerja infotainment?

Ini berawal saat mereka mau mewawancarai saya setelah Gala Premier Film Sang Pemimpi di FX Plaza. Saat itu saya menggendong Alea (putrid Ariel, teman dekatnya). Saya minta wawancaranya di lobi. Namun ada yang memaksa sampai kameranya menyenggol kepala Alea ketika kami turun dari lantai dua melalui escalator. Saya kesal karena tak dihargai. Saya bilang, parah deh, enggak sabaran. Tapi saya tetap meladeni wawancara mereka.

Itu alasan Anda marah di Twitter?

Bukan hanya itu kejadian itu. Ini akumulasi. Mereka sering tidak menghargai nara sumber. Saya punya hak menolak, tapi mereka sering maksa. Kadang pertanyaannya menyulut emosi.

Anda merasa dirugikan pemberitaan mereka?

Ada banyak kasus. Paling paras soal saya disebut artis yang bisa “dibeli” di salah satu tabloid. Ini fitnah menyakitkan. Ada juga wawancara fiktif. Kadang beritanya dipelintir. Saya gemas pada mereka. Banyak artis punya keluhan serupa.

Sejauh ini, berapa porsi berita yang merugikan itu?

Tujuh puluh banding tiga puluh. Tujuh puluh persen agak ngarang, tiga puluh bisa dikatakan baik.

Anda pernah mengajukan keberatan tentang ini?

Secara resmi sudah pernah. Jawabannya hanya kata maaf lisan.

Tidak ada upaya lain, mengadu ke Dewan Pers, misalnya?

Saya anggap semuanya selesai. Saya hanya ingin mereka tidak jadi hakim, bisa menilai saya ini benar atau salah.

Tapi kini Anda justru diadukan ke polisi…

Mereka ini pernah memfitnah saya. Itu saya biarkan. Ketika dikritik balik, mereka tidak terima. Seharusnya kan, siap dikritik.

Menurut Anda, laporan ke polisi itu berlebihan?

Karena tulisannya dii Twitter, seharusnya argumentasinya juga di Twitter, dong. Saya jauh lebih dirugikan. Berita-berita tidak benar tentang saya justru lebih banyak dikonsumsi orang. Kalau di Twitter itu kan terbatas.

Lalu kenapa akun Twitter Anda kini ditutup?

Ini sementara saja, karena ada yang ikut-ikutan berkomentar tidak sehat.

Pernah ada niat minta maaf kepada mereka?

Awalnya saya ingin duduk bareng, menjelaskan alasan menulis di Twitter itu. Mereka jangan hanya bisa menyalahkan. Lalu saya dengar mereka rapat. Saya pikir membahas penyelesaian secara kekeluargaan. Jadi saya tunggu saja. Ternyata ke polisi.

Anda kaget dilaporkan ke polisi?

Awalnya bingung, baru kali ini dilaporkan ke polisi. Setelah saya pelajari, saya santai saja. Di Twitter juga saya tidak menyebut nama yang spesifik.

Anda mau berdamai?

Saya sudah minta maaf lewat Twitter. Kalau mau damai, mereka harus punya itikad baik. Cabut dulu laporan polisi itu. Hentikan juga pemberitaan secara sepihak.

Tidak takut kasus ini berlanjut?

Saya siap menghadapinya. Buktinya Prita bisa. Saya juga korban Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Banyak juga caci maki di internet. Kalau pakai pasal pencemaran itu, bisa banyak yang ke polisi.

Anda setuju pasal itu direvisi?

Setuju. Saya ambil hikmahnya aja. Mungkin harus ada korban dulu, baru direvisi.®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s