No Sherlock Holmes Here


Seandainya Sherlock Holmes itu ada di sini, tentunya dengan mudah berbagai kasus yang sulit bisa terungkap. Dan, penjara pun pastinya penuh. Mungkin negara akan menyiapkan penjara dengan pengamanan ekstra. Tapi, Sherlock hanya ada di novel-novel yang berjejer di rak bukuku. Sherlock hanya ada di imajinasiku yang kini diwujudkan oleh Guy Ritchie dalam diri Robert Downey Jr. Sherlock tidak ada. Tapi, dia mungkin ada dalam wujud yang lain.

Dan lagi-lagi kudengar ada mutilasi. Lagi. Rasanya sudah lama aku tak pernah mendengar riuhnya berita soal mutilasi terhadap anak kecil. Seingatku, saat dinas di Bekasi, tidak ada kasus mutilasi yang terungkap setelah Robot Gedek. Semua hilang bak ditelan bumi.

Pembunuhan mutilasi dengan penyebab kelainan seksual lainnya yang tak kalah fenomenal adalah Siswanto alias Robot Gedhek. Hingga kasus Babeh ini terungkap, kasus Robot Gedhek masih merupakan kasus mutilasi pada anak jalanan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Bayangkan, dalam kasus yang terungkap pada periode 1996 ini, setidaknya Robot Gedhek telah membunuh 12 anak jalanan. Sama seperti Babeh, Robot Gedhek pun mengidap kelainan phaedophilia sekaligus menyukai sesama jenis. Ia senang pada anak kecil dan mendapat kepuasan seks dengan melakukan sodomi pada korbannya. Usai melakukan sodomi, pria bertubuh besar ini dengan dingin tak segan membunuh dan memutilasi korbannya.

Lantaran itulah julukan fenomenal dan mengerikan “Robot Gedhek” disematkan pada Siswanto. Ia pun dijatuhi hukuman mati. Belum sampai dieksekusi, Robot Gedhek keburu meninggal di RSUD Cilacap, saat menjalani hukuman di LP Batu, Nusakambangan.

Masih banyak kasus-kasus mutilasi lainnya yang terjadi di Indonesia. Meski banyak motif-motif lain, seperti motif ekonomi, dendam, hingga motif ilmu hitam, namun kasus mutilasi dengan motif perilaku seks menyimpang hampir selalu menjadi yang paling fenomenal. Hal ini bisa terjadi lantaran mutilasi dengan motif kelainan seksual ini selalu memakan korban lebih dari satu. Selama korban masih mengidap perilaku menyimpang itu dan belum tertangkap, bisa jadi mutilasi itu akan terus dan kembali dilakukannya lagi.

Pada tahun 2008 lalu, kita dikejutkan dengan aksi mutilasi keji yang dilakukan pria gemulai asal Jombang, Jawa Timur. Siapa tak ingat Verry Idham Hernansyah alias Ryan, pelaku mutilasi yang sangat fenomenal lantaran membunuh setidaknya 10 orang manusia, mulai dari laki-laki dewasa, wanita dan anak-anak.

Tindakan mutilasi yang dilakukan pada kekasihnya Heri Santoso pada Juli 2008 lalu menjadi karir membunuhnya yang terakhir lantaran terungkap polisi. Sama seperti Babeh, Ryan diketahui mengidap kelainan seksual, ia hanya menyukai sesama pria. Menurut penuturannya, ia kerap membunuh lantaran dibakar api cemburu manakala kekasihnya berdekatan dengan pria lain. Sebagai seorang pria Ryan hanya menyukai sesama jenisnya. Ia pun kerap berhubungan intim dengan para kekasihnya sebelum pada akhirnya ia membunuh dan memutilasinya jika terbakar cemburu.

Ryan pun dijatuhi hukuman mati dalam persidangan di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Namun hingga kini eksekusi masih belum juga dilakukan. Ryan masih mendekam di Rutan Pondok Rajeg, Cibinong.

Namun, kasus penyimpangan seksual bawaan Baekuni atau Babe (48) justru terungkap cepat. Tidak kurang dari 24 jam, polisi berhasil meringkus Babe di rumah kontrakannya. Babe mendapatkan kenikmatan yang berlipat-lipat ketika memotong-motong korbannya yang seluruhnya anak kecil. Ia pun tidak kalah asyik ketika menyodomi korban yang tak bernyawa.

Babe tergolong pelaku pembunuhan dengan perilaku seks menyimpang. Ia mengidap kelainan seks karena menyukai bocah laki-laki dan kerap melakukan tindakan kekerasan seksual pada anak jalanan yang diasuhnya. Perilaku Babe ini tentu menimbulkan rasa jijik bagi orang normal. Namun demikian fakta menunjukkan, justru perilaku menyimpang seperti ini banyak diidap oleh orang-orang yang mungkin berkeliaran di sekitar kita.

Psikolog Reza Indragiri Amriel mengatakan, perilaku bejat mutilasi seperti yang ditunjukan oleh pelaku seperti Babe tidak hanya muncul lantaran hasrat seksualnya, namun juga bisa jadi diiringi oleh watak amoral. Ia mengatakan kombinasi dari kedua hal ini bisa menimbulkan kekejian seperti yang dilakukan Babe.

Namun demikian, kata dia manifestasi dari tindakan kekerasan seksual pada masa lalu yang diterima pelaku, biasanya menjadi hasrat utama untuk mengulanginya kembali kepada korbannya. “Jika ini yang terjadi, lewat mensodomi anak-anak lain, si pelaku sesungguhnya merupakan pantulan betapa ia tengah menghukum atau menumpahkan kebencian terhadap dirinya sendiri. Dan manakala sodomi diteruskan dengan membunuh dan memutilasi si anak, “sempurna”-lah prosesi pembunuhan terhadap dirinya sendiri, setidaknya secara psikis,” kata Reza kepada Kompas.com.

Lantaran itu, kata Reza, kondisi kejiwaan dan perilaku yang menyimpang dari pelaku seperti Babeh, akan sangat sulit disembuhkan. “Dari sekian banyak kelainan psikologis, sampai sekarang belum ada pendekatan efektif untuk memodifikasi perilaku si pelaku. Alhasil, yang perlu dilakukan adalah melindungi korban potensial, yakni mempersempit ruang gerak pelaku,” ujar lulusan Psikologi Forensik Universitas Melbourne ini.

Lebih dari separuh kasus pembunuhan yang melibatkan kaum homoseksual, dimutilasi. Pelaku umumnya menusuk korban lebih dari 10 kali tikaman. Kasus dilakukan secara spontan, terkait pasangan seks dan dilakukan secara spontan. Apakah ini menunjukkan, perilaku sosial kaum homoseksual lebih kejam dari perilaku masyarakat heteroseksual?

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro, Komisaris Besar Carlo Brix Tewu, Rabu mengatakan kasus umumnya dilakukan secara spontan dan terkait dengan persoalan pasangan seks. Kepala Satuan Kejahatan dengan Kekerasan, Ajun Komisaris Besar Fadhil Imran menambahkan, korban sekurangnya ditikam dalam 10 kali tikaman. Korban tewas Heri Santoso (40) misalnya, ia ditikam tersangka Ryan (Verry Idham Henyaksyah, 30) dengan sebelas kali tikaman. Juga pelaku dewasa dalam kasus sodomi anak-anak di bawah lima tahun yang pernah ditanganinya. Tersangka, tega menikam korbannya yang masih kecil dengan 10 kali tikaman, hanya karena si anak yang sudah lama disodomi, hari itu menolak disodomi.

Pelaku seolah ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa ia benar-benar marah, lanjutnya. Menurut Fadhil, dalam kasus pembunuhan yang dilakukan masyarakat heteroseksual, pelaku cukup menikam korban sekali dua kali saja, tanpa atau dengan mutilasi.

Heri dibunuh Ryan di kamar 309A, Blok C Margonda Garden Residence, Depok, Jum’at (11/7) pukul 20.00. Ryan membunuh Heri setelah Heri menawar Noval (Novel Andrias) pacar Ryan. Ryan tersinggung. Heri ditikam dengan 11 kali tikaman. Mayatnya dipotong tujuh bagian, disimpan dalam travel bag, koper, dan sebuah tas plastik, lalu di buang ke dua lokasi di tepi Jalan Kebagusan Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (12/7) subuh.

Crime of Passion

Prof Dr Marjono Reksodipuro, mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), mengatakan identifikasi kasus dan pelaku yang disampaikan Carlo dan Fadhil belum menunjukkan kaum homoseksual lebih kejam dari masyarakat yang heteroseksual. Terkesan menjadi lebih kejam karena umumnya, kalangan homoseks meledak dalam basis crime of passion dengan latar belakang yang sama, soal pasangan seks.

Marjono mengatakan, basis kejahatan masyarakat heteroseksual lebih beragam dan latar belakang atau motifnya pun bermacam-macam. Itu sebabnya, prosentase rangkaian kejahatan keji yang dilakukan masyarakat heteroseksal, lebih kecil berbanding total kejahatan yang mereka lakukan.

Kejahatan homoseks yang muncul ke publik hanya rangkaian kejahatan keji, yang nyaris melulu menyangkut pasangan seks. Timbul kemudian citra, kaum homoseks itu umumnya keji. Padahal, kekejian itu hanya sebatas menyangkut persoalan pasangan seks, kilah Marjono. Menurut dia, Crime of passion adalah ledakan kemarahan yang membabi buta karena merasa terhina, dan cemburu, yang membuat pelaku membunuh atau menganiaya berat. Biasanya berlangsung secara spontan, tidak terorganisir dan terencana.

Pada kaum homoseksual, lanjut Kriminolog UI lainnya, Prof Dr Ronny Niti Baskoro, crime of passion bisa dipicu unsur lain, yaitu unsur ketakutan kehilangan peran karena pasangannya terancam hilang. Guru Besar Fakultas Psikologi UI, Prof Dr Sarlito Wirawan, Adrianus, dan Marjono mengakui, rendahnya populasi kaum homoseksual menyebabkan kalangan ini mudah mengalami distres, mudah panik. Crime of passion diantara homoseks terjadi lebih keras karena berlangsung di antara para pria.

Menurut mereka, asmara yang tumbuh di antara mereka adalah cinta Platonis, mencinta untuk menguasai dengan pendekatan, loose-loose solution, dan bukan win-win solution. Dengan kata lain, dalam kasus-kasus perebutan, perselingkuhan dan pertengkaran asmara, kaum homoseks umumnya berprinsip, Kalau saya tidak dapat, makan kamu pun tidak akan mendapat dia. Interaksi berlangsung agresif saling menghancurkan.

Peran permanen

Menurut dia dan Adrianus, dalam menjalin asmara, kaum homoseks tidak mengenal konsep belahan jiwa. Mereka hanya mengenal konsep pembagian peran yang permanen antara perempuan dan pria . Peran tersebut mereka jalankan sampai mereka ajal.

Fungsi-fungsi dalam organ tubuh pria dan perempuan tidak penting bagi mereka. Yang mereka utamakan pembagian peran pria dan perempuan. Itu bedanya homoseks dengan waria. Waria adalah pria yang ingin menjadi perempuan dengan mengubah keadaan tubuhnya. Dari tubuh pria, menjadi tubuh yang mirip perempuan. Dia lantas membesarkan dada menjadi payudara, dan mengubah alat kelaminnya.

Sepengamatan Fadhil, di kalangan kaum homoseksual, peran itu cukup ditandai dengan ada tidaknya bulu-bulu di sekitar genital mereka. Yang berperan perempuan mencukur habis bulu-bulu mereka, sedang yang berperan pria tidak. Saya melihat itu pada jenazah mereka. Yang berperan perempuan melakukan oral, sedang yang berperan pria melakukan sodomi,ungkapnya. Fadhil sependapat dengan Sarlito dan Adrianus, pembagian peran itu bersifat permanen.

Pengakuan itu ketika menyidik para tersangka pembunuh yang homoseks. Tersangka Ryan pun mengaku, sudah lima tahun ia mengenal dekat Heri. Tetapi selama itu, keduanya tidak berhubungan intim karena keduanya berperan sebagai perempuan.

Pembagian peran ini kata Adrianus dan Sarlito, menentukan eksistensi setiap homoseks. Jika salah seorang dari pasangan homoseks hilang (lari, selingkuh, kembali menjadi pria sesuai fungsi tubuhnya, atau meninggal), maka homoseks lainnya mengalami krisis peran, krisis eksistensi. Itulah yang membuat tersangka Ryan memutilasi Heri. Ryan tidak ragu menghabisi Heri karena Ryan merasa perannya sebagai perempuan terancam oleh ucapan Heri.

Sarlito mengatakan, sebagai kelompok minoritas yang terus merasa terancam, kaum homoseks bisa cepat mengatasi berbagai persoalan eksternal mereka karena ada perasaan senasib yang harus mereka tanggung bersama. Oleh karena itu, jarang muncul kejahatan yang melibatkan homoseks karena motif ekonomi, atau motif eksternal lainnya. Lebih keji

Kriminolog UI lainnya, Prof Dr Ronny Niti Baskoro, mengutip sejumlah hasil riset internasional mengakui, kaum homoseks lebih keji ketika meledak ketimbang kaum lesbian. Bukan hanya karena yang satu pria dan yang lain perempuan, tetapi juga karena pasangan homoseks lebih terbuka, lebih loyal dan setia, serta berbasis pada kasih sayang pasangan ketimbang kebutuhan seksual mereka. Bisa dimaklumi bila kemarahan mereka menjadi seperti amuk bila dikhianati pasangannya, atau pasangannya direndahkan.

Kaum lesbian umumnya, lanjut Ronny, berbanding sebaliknya. Mereka lebih sebagai pasangan yang tertutup, lebih mengutamakan kepuasan seksual ketimbang kesetiaan, dan lebih mudah kembali menjadi perempuan sesuai organ tubuhnya, atau kembali lagi menjadi lesbian ketika menemukan pasangan yang cocok.

Karena sifat komunitasnya itu, kaum lesbian lebih mudah menjadi biseks ketimbang kaum homoseks. Kaum homoseks yang menikah lain jenis, ia menikah hanya sebagai kedok saja. Dia tetap homoseks dan bukan biseks.®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s