Kawanan Pencopet Bajingan


Di depanku, duduk seorang penyidik berkumis. Tangannya tidak lepas dari keyboard. Jari telunjuknya ibarat alat pencari ranjau darat yang berputar mencari letak huruf-huruf yang dia cari. Setelah ketemu, dipencetlah sekeras yang dia bisa, padahal itu adalah keyboard computer bukan mesin tik. Sementara aku, dengan dua tangan saling menggenggam berusaha menghilangkan rasa takut, memberikan jawaban atas pertanyaan penyidik.

Tidak lama, penyidik berkumis pergi. Tak lama datang penyidik Robert Irsham (*Rontok Berat Irit Shampo) menyodorkan segelas teh manis panas. Dia duduk di kursi bekas penyidik berkumis. Dia  menanyaiku dengan pertanyaan yang sama diajukan penyidik berkumis. Aku jawab dengan jawaban yang sama. Lalu, penyidik Robert irsham pun pergi. Setelah dia, datang delapan penyidik menanyakan hal yang sama hingga aku lelah dan menangis.

Aku tidak akan duduk di kursi itu dan menangis kalau bukan karena copet bajingan. Saat itu aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas tiga. Aku masih ingat, ketika itu Jumat siang, aku pulang sekolah menumpang bus damri Cicaheum-Cibeureum. Seperti biasanya. Aku yang tidak kebagian tempat duduk memilih berdiri di bagian depan bus. Biar gampang turun, pikirku.

Ternyata di tengah himpitan itu ada sejumlah orang yang mengambil kesempatan. Mereka, kawanan pencopet bajingan. Tas ransel yang ku gendong itu pun jadi korban. Dompet berisi uang saku selama dua minggu itu yang besarnya Rp 20 ribu dicuri mereka. Aku baru tahu ketika ada seorang penumpang yang mengatakan, “De, tasnya kebuka tuh, tadi ada yang ambil dompetnya,” sambil menunjuk seorang lelaki berkemeja kotak-kotak itu.

Tanpa pikir panjang, aku terobos penumpang yang akan turun dari bus karena kebetulan bus sudah tiba di perhentian terakhir. Aku berlari sambil berteriak copet. Dan si copet pun ikut lari melihatku mengejarnya. Sekitar lima menit aku mengejarnya. Aku lempar sepatuku dan kena kepalanya. Dia ditangkap orang-orang yang berkumpul karena mendengar teriakanku.

Pencopet itu diringkus. Aku dan pencopet itu pun naik mobil polisi menuju pos polisi di Saritem. Di tempat itu aku dicecar pertanyaan yang kadang bikin kesal. Aku malah menjadi korban yang kedua kali. Ada satu pertanyaan yang buatku terbengong-bengong. “Dik, coba tolong sebutkan berapa nomer seri uang adik yang dicopet?” !?!?!$%&@*

Alamakkkkk….sejak kapan aku menilik-nilik nomer seri uang yang kupunya. Mereka bilang mereka menemukan uang Rp 20 ribu di saku pencopet, tapi untuk membuktikan kalau itu uangku mereka butuh nomer seri uangku yang nantinya dijadikan barang bukti. Walaupun akhirnya perkara itu tidak pernah naik ke persidangan karena tidak ada bukti yang cukup kuat untuk itu.®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s