Yang Tak Pernah Usai


Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Citaliktik Kecamatan Ciendog, Popong Karmun, pagi itu datang tergopoh-gopoh ke rumah Kades Ginanjar. Setelah mengetuk pintu, tanpa menunggu dibukakan oleh si empunya rumah yang juga kakaknya itu, Popong masuk. Dadanya naik turun seperti pasien sakit asma yang terlambat diberikan obat. Itu sebabnya, dia tak sanggup memanggil kakaknya. Popong lalu ke dapur, menuangkan air di kendi dan meneguknya.

Popong, adalah adik kesayangan Kades Ginanjar. Hampir semua rahasia Kades Ginanjar ada di tangan Popong. Selama di kantor, Popong-lah yang sering melihatnya. Malam hari, ketika diajak jalan, selalu bersama Popong. Hanya ketika dengan istrinya, Nengsih saja, Popong tidak ada bersama Kades Ginanjar.

Ketika Kades Ginanjar keluar dari kamarnya dan melihat Popong, dia pun menghampirinya. Dia datang ke rumah kakaknya itu, bukan untuk mengajak jalan kakaknya, tapi ingin membicarakan sesuatu yang disebutnya sebagai : keadaan genting darurat yang bisa menghancurkan kharisma sang kades di depan warganya.

Begitulah, Pemirsa, jika tidak dramatis, bukanlah Popong namanya. Popong tahu hanya dengan mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan “kharisma sang kades” bisa membuat Kades Ginanjar langsung melakukan apa yang dia inginkan tanpa berpikir panjang. Apalagi kalau ditambah lagi dengan sebutan “genting darurat”. Kades Ginanjar bisa saja menduga “kegentingan” itu bisa membuatnya terjungkal dari kedudukannya yang seharusnya bisa dilalui selama delapan tahun dengan aman dan tentram.

Dulu, waktu berkampanye sebagai calon kades Citaliktik, Kades Ginanjar begitu bersemangat dan dia suka berteriak : Saya Putra Daerah! Sambil jarinya menunjuk ke langit. Sampai sekarang tidak jelas tentang alasan teriakannya itu. Yang pasti, rakyat sepakat memilihnya untuk menjadi Kepala Desa Citaliktik 2008-2016.

“Ayo Kang, kita mesti segera kantor desa. Gawat Kang. Ini sangat gawat. Kalau Akang tidak bisa menyelesaikan ini, bisa gawat Kang. Musuh-musuh politik Akang bisa menjatuhkan Akang. Ini DARURAT, Kang!”

Kades Ginanjar mengerenyitkan keningnya. Dia yang baru bangun tidur ternyata tidak bisa mencerna apa yang dibicarakan Popong. Tapi, kalimat terakhir itu yang langsung menancap di otak Kades Ginanjar. Dia pun beringsut bangun, seluruh nyawanya yang sempat terpencar itu dipanggil secara ekspres. Ditariknya Popong berjalan dengan cepat menuju kantor desa.

Di kantor desa, tampak ada dua keluarga yang saling memalingkan muka. Mereka duduk berjauhan. Keluarga pertama, Iroh dan Adang bersama anak bungsunya, Ajang. Mulut Ajang dibalut perban. Keluarga kedua, Amih dan Otong membawa anak ketiganya, Romlah yang hiperaktif.

“Mana yang DARURAT, teh, Pong?”

“Ini Kang,” sambil menunjuk dua keluarga yang tengah duduk di ruang kepala desa itu.

“Ini Pong?” Kades Ginanjar menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dua jam yang lalu

Setengah menyeret, Iroh menuntun Ajang ke rumah Amih. Dia ingin menunjukkan luka yang diderita Ajang kepada keluarga Amih. Semua itu disebabkan oleh kelakuan Romlah di TK. Iroh menyangka Romlah dididik keluarganya untuk bermusuhan dengan Ajang karena orang tua mereka pun saling bermusuhan. Permusuhan itu tidak jauh dari masalah persaingan dagang.

Mereka berdua sering saling menjatuhkan harga demi meraih konsumen. Keduanya tidak peduli akan kata RUGI, asalkan dapat mengumpulkan pelanggan lebih baik. Bahkan pada waktu Lebaran tiba, keduanya mempromosikan membagikan paket dengan isi yang “wah” dengan syarat konsumen menjadi pelanggan mereka sejak puasa.

Ketika musim pembagian THR, demi rekor jumlah pelanggan, Iroh dan Amih rela berutang ke rentenir dengan menggadaikan surat tanahnya. Nah, yang susah itu adalah suami mereka yang tidak terkait permusuhan mereka. Para suami itu harus membayar utang istri-istri mereka. Namun, istri-istri mereka tidak kapok dan memperpanjang masa permusuhan mereka dengan alasan apa pun. Seperti hari ini.

“Ceu Amih, coba lihat kelakuan anak kamu teh. Emang enggak pernah diajarin etika?” kata Iroh penuh amarah sambil menunjukkan bagian bibir Ajang yang robek.

“Emang si Ajang kenapa? Naha menyalahkan si Romlah? Budak saya mah baik Ceu Iroh,” jawab Amih tidak mau kalah.

Amih tidak sudi Romlah dianggap sebagai anak yang tidak berpendidikan. Susah payah Amih mengajari Romlah menjadi anak perempuan yang seperempuan-perempuannya sejak di kandungan. Tiap hari, Amih dandan dengan make up yang sempurna, lalu memperdengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan artis wanita agar Romlah menjadi wanita yang lemah lembut. Makanannya pun dijaga. Begitu juga perkataannya. Jadi, tidak mungkin Romlah menjadi anak yang sangar bak preman yang tega merobek bibir Ajang.

Iroh tidak mau tahu dengan alasan itu. Bagi Iroh, apa pun yang dilakukan keluarga Amih terhadap keluarganya itu adalah bentuk kebencian Amih padanya. Iroh menyebut Amih tidak pernah terima kalau Adang lebih memilih Iroh menjadi istrinya ketimbang Amih. Itu sebabnya, Amih dianggap Iroh bersumpah seumur hidupnya untuk mengganggu rumah tangga Iroh.

“Mih, ngaca atuh. Enggak mungkin Kang Adang mau sama kamu. Kang Adang mah sukanya sama perempuan yang seksi dan senang dandan kayak Iroh. Amih terima aja Kang Otong. Enggak usah ngejar-ngejar Kang Adang lagi,” pertengkaran antara Iroh dan Amih itu semakin tidak jelas ujungnya.

Amih yang tidak terima dikatakan seperti itu enggan menjawab omongan Iroh. Amih lalu menghampiri Iroh, dan menampar pipi Iroh. Tidak cukup, Amih lalu menjambak rambut Iroh yang sebahu dan baru saja diblow itu. Iroh yang kaget dengan pergerakan Amih tidak mau kalah. Iroh menarik kaus yang dikenakan Amih hingga robek.

Para tetangga yang melihat pertengkaran mereka berdua lalu memanggil Adang dan Otong. Sebagian berusaha menahan keduanya agar tidak berkelahi. Tapi, dasar sedang emosi, tenaga Amih dan Iroh bisa mengalahkan tenaga para lelaki yang menahannya. Sumpah serapah pun keluar dari bibir Amih dan Iroh. Tidak ada yang dominan dalam perkelahian itu.

Amih tampak gesit menarik rambut Iroh. Sedangkan Iroh sibuk mencakari tangan Amih agar melepaskan genggaman di rambutnya. Iroh pun berusaha menarik badan Amih hingga bergumul di tanah. Mereka pun berguling-guling. Lalu, byurrrrrrrrrrr. Mereka pun terdiam. Ternyata Otong, suami Amih yang jarang bicara mengguyurkan air bekas cucian piring ke badan keduanya.

Sekarang

“Kenapa lagi? Bukankah dulu sudah menandatangani surat bermaterai kalau kalian tidak akan berkelahi lagi?” Tanya Kades Ginanjar.

Keduanya berlomba untuk saling menyalahkan, tapi Kades Ginanjar berusaha menyetopnya. Kades Ginanjar akhirnya mengerti maksud Popong yang menyebutkan keadaan DARURAT itu. Kedua keluarga itu memang musuh bebuyutan. Sejak Iroh menikahi Adang lima tahun yang lalu, permusuhan antara Amih dan Iroh semakin memanas. Bahkan kades sebelumnya tidak bisa mendamaikan keduanya. Dengan konflik Amih-Iroh, kades sebelumnya bisa dikalahkan Kades Ginanjar. Dan Kades Ginanjar tidak mau mengalami hal serupa, jatuh dari kursinya karena konflik Amih-Iroh yang tak pernah selesai.

Kades Ginanjar lalu meminta keduanya menceritakan masalah awal yang membuat Amih-Iroh berseteru. Secara bergantian Amih dan Iroh menceritakannya. Keduanya mendramatisir cerita agar Kades Ginanjar berpihak pada mereka. Dari cerita mereka Kades Ginanjar menyadari bahwa kunci cerita itu adalah Romlah dan Ajang.

“Nah Ajang, coba cerita apa yang Romlah lakukan di sekolah waktu upacara? Bener Romlah yang pukul Ajang?” Kades Ginanjar secara bijak dan santun menanyai Ajang. Dia tahu kalau anak-anak itu pasti tidak pernah bohong.

Ajang tidak menjawab. Dia hanya menangis. Rupanya tiap dia menggerakan bibirnya, rasa sakit pada bagian yang robek menyerang. Ajang hanya sanggup mengangguk dan menggeleng menjawab pertanyaan Kades Ginanjar. Sambil menarik nafas panjang, Kades Ginanjar lalu berpindah ke Romlah. Anak itu langsung menebar senyum ketika Kades Ginanjar memandangnya.

“Romlah, cerita ya sama pa Kades, kenapa sampai mulut Ajang berdarah.”

Anak yang hiperaktif itu langsung bercerita panjang lebar. Romlah yang tubuhnya paling besar di TK berbaris di bagian tengah. Dia pun mengaku merasa terlalu berdesak-desakkan di barisan sehingga dia merenggangkan tangannya agar teman-temannya di barisan member ruang. Ternyata peregangan yang diklaim Romlah sebagai yang biasa saja mengenai Ajang yang tubuhnya jauh lebih kecil. Bibir Ajang dikenai sikut Romlah yang ditekuk ke belakang karena Ajang yang lebih tinggi berbaris di belakang Romlah. Sikut Romlah pun bersarang di bibir Ajang. Berdarah. Ajang menangis.

Meskipun Romlah telah panjang bercerita Iroh tetap tidak mau terima. Demikian pula Amih. Kedua suami mereka akhirnya turut campur. Mereka berusaha menghentikan kedua istri mereka yang nyerocos enggak karuan. Kades Ginanjar pun naik pitam. Dia berteriak.

“Diammmmmmmmmm. Popong, ambilkan kertas dan materai!”®

Advertisements

7 thoughts on “Yang Tak Pernah Usai

  1. apoy siganteng kalem says:

    hahhahaa…. awalna mah reuwas meuni sarua pisan… ngan akhirna lieur pabeulit teuing…. lumayan obat manyun dirumah euweuh batur cuang cieung, neangan simbut bisa hitut ge euweuh…. wkwkwkkk………

  2. dewi153 says:

    hatur nuhun Ciem, resep weh ngagabungkeun carita nu aya na otak jeung carita katukang dihijikeun jeung pangalaman anu didangukeun ti batur..Eta teh kadesna mah aya nyaan,, ngan dongengna dihijikeun tina carita manehna jeung nu lian,, engke aya carita lain anu pasti dikenal-lah ku Uciem hehe

  3. dewi153 says:

    kadesna aya..carita paseana aya ngan beda setting, eta mah tina pangalaman batur,, intina mah ieu teh dongeng tilu jelema anu dihijikeun jadi hiji carita,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s