Facebook


Di Rumah Makan Padang Pagi Siang Malam, tiga orang teman yang dipertemukan “masalah” berkumpul. Mereka adalah Kades Ginanjar, Jaksa Karta, dan sang Tengkulak Ijon. Mereka kenal satu sama lain karena “masalah” yang tak sengaja membuat mereka saling berhubungan. Awalnya pertemuan-pertemuan mereka karena “kewajiban”, tapi lama kelamaan bisa dibilang pertemuan itu sebagai bagian perkawanan jenis simbiosis mutualisme.

Kades Ginanjar bertemu Jaksa Karta saat sang kades dimintai keterangan terkait penyunatan dana oleh Camat Ciendog. Jaksa Karta memerlukan sejumlah keterangan dari sejumlah kades yang uang operasionalnya disunat oleh camat. Di antara empat kades yang diperiksa, semuanya berkilah potongan itu tidak ada. Usut punya usut ternyata mereka telah “di-briefing” oleh camat agar memberi keterangan serupa: bahwa pemotongan itu tidak pernah ada. Namun, Kades Ginanjar emoh manut pada camat karena dia merasa hak dia terus dirampas oleh camat. Dia pun memberikan keterangan yang melawan camat. Sejak saat itulah “pertemanan KUHP” itu terjalin.

Dengan sang Tengkulak Ijon, pertemuan Kades Ginanjar di luar jabatannya sebagai Kepala Desa Citaliktik. Kebetulan, Kades Ginanjar memiliki usaha penggilingan beras sejak dia belum menjadi kades. Bisa dibilang usaha penggilingan itu merupakan usaha keluarga. Bahkan untuk memodalinya mengikuti pemilihan kepala desa, berasal dari usaha penggilingan itu. Sejak usaha penggilingan itu ada, sejak itulah dia mengenal Ijon. Ijon adalah tengkulak gabah kawakan yang bisa mendapatkan gabah untuk penggilingan keluarga Kades Ginanjar kendati di musim paceklik. Bagi Kades Ginanjar, Ijon adalah tengkulak andalan yang selalu memberikan keuntungan dan membuat mesin penggilingannya tak pernah berhenti bekerja.

Sedangkan, perkenalan Ijon dengan Jaksa Karta tidak jauh berbeda dengan Kades Ginanjar. Kala itu Jaksa Karta tengah menangani kasus pungutan liar (*premanisme) terhadap petani di masa panen. Saat panen, para petani dipungut Rp 50.- per kilogram. Bahkan para tengkulak pun kena jatprem (*jatah preman) pula, termasuk Ijon. Polisi yang akhirnya menangkap para preman lalu melimpahkan perkaranya ke Kejaksaan Negeri Singadeupa. Temans, pertemanan itu laksana cinta ya, ketemu dimana saja dan kadang di saat-saat tak diinginkan.

Dalam jalinan pertemanan, mereka tidak punya jadwal tetap untuk bertemu. Hanya jika kebetulan ada waktu untuk bertemu di kota, pasti RM. Padang Pagi Siang Malam, menjadi meeting point. Waktu tiga jam serasa kurang bagi mereka untuk bertukar cerita. Seperti saat itu, Ijon membuka pembicaraan perihal berita yang dia baca tentang upaya pemerintah daerah Bantul yang hendak memblokir Facebook pada pukul 8.00 WIB hingga 13.30 WIB.

“Kalian tahu tidak, gara-gara PNS pada make facebook di jam kerja pake komputer kantor, jaringan internet jadi lemot. Kerjaan pada enggak beres. Pantes aja ya, ada orang yang bikin KTP ama KK, tiga bulan belum beres-beres. Komputernya pada dipake pesbukan. Untung saya mah enggak punya pesbuk,” kata Ijon.

Facebook Kang, bukan pesbuk,” koreksi Jaksa Karta sambil menyuapkan nasi plus rendang ke mulutnya sampai kuah rendang belepotan di bawah bibirnya.

Ijon memang kurang terbiasa dengan teknologi semacam internet. Untuk mengecek harga gabah kan, tidak usah pakai internet. Dia hanya pakai telefon genggam untuk mengecek harga di pasar. Lagipula kalau telefon genggamnya dipakai untuk update status di facebook, bisa habis pulsanya. Lebih baik pulsanya dipakai untuk urusan bisnis. “Malas saya keluar uang untuk pulsa pesbuk mah. Belum lagi nanti istri pasti marah kalau unggal usik yang saya perhatiin cuma ganti status mah. Nanti teh bisa-bisa status saya: dimarahin istri gara2 pesbuk, ha ha.”

“Jadi Kang Ijon enggak punya facebook atuh..Banyak yang cakep Kang, ABG wungkul. Kalau Kang Karta gimana?” Kades Ginanjar menoleh ke Jaksa Karta.

Kades Ginanjar yakin kalau untuk level Jaksa Karta yang menenteng dua telefon genggam, yang satu jenis Blackberry dan Nokia pasti punya akun facebook. Soal pulsa pun bukan masalah, karena Kades Ginanjar tahu di media cetak, gaji dan tunjangan jaksa besar, belum lagi kalau jaksanya punya usaha di luar jabatan. Jaksa Karta tiba-tiba sibuk mencari air minum. Dia tersedak.

“Apa Kang?” tanyanya setelah meneguk air minum.

“Akang Karta punya facebook kan, add atuh saya,” Kades Ginanjar mengulangi pertanyaannya.

“Oh, facebook. Ada Kang, tapi saya lebih senang baca status orang. Jarang update status,” Jaksa Karta lalu berhenti makan.

Bahkan Jaksa Karta pernah berniat untuk menghapus akun facebook-nya. Suatu hari, ada sebuah permintaan pertemanan yang masuk ke akunnya, disisipi pesan: Masih ingat saya kan? Saya masih ingat waktu kita di pantai dulu. Kontan, Jaksa Karta kaget. Apalagi ketika melihat nama pengirim pesan yang sudah tidak asing lagi. Dia adalah mantan kekasihnya ketika kuliah. Jaksa Karta pun seakan melihat potongan film-nya di masa lalu kembali menyeruak. Saat-saat mesra dengan mantan kekasihnya itu.

Jaksa Karta pun berada dalam dilemma. Jika pertemanan itu diterima, dia khawatir akan menjadi sumber petaka rumah tangganya. Sang istri adalah wanita yang rajin membuka akun facebook-nya karena dia mengetahui kata kuncinya, sehingga dengan memudah memeriksa kapan pun dan bagian mana pun dari akun suaminya. Namun, jika tidak diterima, ada sedikit penyesalan dalam diri Jaksa Karta. Apalagi melihat wajah sang mantan malah tambah cantik walau sudah memiliki dua anak.

“Itulah hebatnya facebook, Kang. Bisa mempertemukan kita dengan masa lalu sekaligus menjadi sumber malapetaka,” Jaksa Karta menutup ceritanya.

Tanpa diminta Kades Ginanjar juga menceritakan pengalamannya dengan facebook. Dia bilang pertama kali akrab dengan internet ketika memiliki akun yahoo messenger (*ym). Karena belum ada modem yang murah meriah seperti sekarang, telefon genggam-lah yang dia jadikan modem. Sejak memiliki banyak teman di ym, Kades Ginanjar sangat rajin berada di kantor. Di ruangannya dia asyik bercengkrama dengan teman-teman dunia mayanya yang kebanyakan anak baru gede itu. Keasyikan itu berlanjut hingga ke rumah. Panggilan mesra istrinya dia abaikan. Tak sanggup menahan kesal, istrinya lalu menyidangkan Kades Ginanjar seperti yang sudah-sudah. Kali ini vonis yang dijatuhkan: mengganti telefon genggam Kades Ginanjar ke tipe yang tidak bisa dipasangi GPRS alias handphone Jheboth…Telefon genggam heubeul tea..hi hi!

Sesaat penyakit “online” itu sempat tersingkir hingga kemudian muncullah facebook.

“Untung ada telefon genggam murah kang. Yang sejutaan tapi bisa facebook-an,” kata Kades Ginanjar bangga.

Dengan telefon genggam itu, dia juga bisa kembali menekuni penyakit lamanya, “online” di ym. Istrinya yang sempat mengajukan protes sehubungan keberadaan facebook, sempat menyidangkannya kembali dengan dakwaan: menelantarkan istri demi facebook dan melakukan korupsi terhadap anggaran bulan rumah tangga Ginanjar-Nengsih. Namun, kali ini dakwaan Nengsih bisa dipatahkan oleh Kades Ginanjar. Dia, dalam pembelaannya, beralasan dengan facebook, Nengsih bisa mengontrol aktivitasnya. “Lagi pula enggak setiap menit Akang updates status, kan,” bela Kades Ginanjar.

Nengsih pun lalu membatalkan tuntutannya dengan syarat, Kades Ginanjar mesti membelikannya mobil yang dia inginkan. Kades Ginanjar pun sepakat. Alhasil, online-lah dia setiap saat. Bahkan rekan-rekan yang awalnya sulit menghubunginya, kini menjadi mudah berkat facebook.

“Pokoknya kalau Akang susah mencari atau menghubungi saya, tinggalin aja pesan di Facebook, pasti saya telfon balik deh.”

Kalau menilik-nilik Ijon dan Jaksa Karta, tampaknya mereka tidak akan meninggalkan pesan di Facebook. Mereka akan menunggu Kades Ginanjar yang menghubungi mereka jika ingin bertemu di meeting point. Bagi mereka, facebook adalah sumber malapetaka.®

Advertisements

3 thoughts on “Facebook

  1. ian says:

    virus FB skrg lg menyerang berbagai kalangan mulai dari ABG sampe nenek2 & kakek2 pokona mah sagala dtulis dr mulai urusan cinta sampe menu makanan, narsis nampilin foto brbagai pose sampe pamer harta or kesuksesan.
    baca tulisan dewi jd ktw sdr inget pengalaman pribadi, FB bs jd malapetaka or berkah trgantung qta yg memanfaatknnya. digunakan dsaat luang’ ga pake fasilitas negara/perusahaan, ga pas jam kerja, & jgn sampe lupa sm kluarga.
    oh… ya tulisannya bagus2 terus berkarya & statusnya srg mhibur he3 msh tetep bodor kya waktu kuliah

  2. dewi153 says:

    Begitulah ceu, nge-blog mah buat ngilangin jenuh tiap hari liputan. Kalo berita-berita yang dimuat di PR mah pastinya kaku karena enggak boleh berimajinasi. Nah kalo di blog mah terasa lebih bebas, bahkan boleh cerita di balik suatu berita itulah yang wi bikin di blog. Oh ya, tetep pantau PR ya ceu. Kode wi mah A-153, tugas di karawang..he5 (promo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s