Ponakan 12 Tahun


Kakak sepupuku yang sudah punya dua anak perempuan bingung ketika anak ketiganya laki-laki. Kata dia saat itu, kalau bayi perempuan pup itu enggak susah untuk dibersihkan. Nah, bayi laki-laki itu ribet dibersihkan terutama di bagian yang banyak kerutannya itu (*cek coba dimana kerutan itu ada dan banyak he he !). Tapi sejak anak perempuan sulungnya mulai masuk sekolah pertama, kayaknya kalimat tadi mesti dia ubah.

Beberapa bulan ke belakang, di pagi hari, aku terima sebuah pesan singkat dari dia: Khansa kabur dari pesantren di Garut. Sementara waktu dia bingung kemana anaknya itu lari. Sejak masuk pesantren anak itu memang tidak dibekali telefon genggam karena dilarang oleh pengurus pesantren.

Sebenarnya perkara kaburnya keponakanku itu sudah bisa diduga sebelumnya. Khansa tidak pernah sepakat untuk masuk pesantren. Selain jauh dari orang tua, seperti kebanyakan anak baru gede (ABG), dia masih senang dengan ramainya kota. Kalau sore dia bisa main ke mall atau pusat kota. Berbeda dengan pesantren, yang usai sekolah mesti diam di pondokan untuk pelajaran lanjutan. Khansa merasa terkekang.

Bulan pertama, Khansa masih berusaha beradaptasi dengan lingkungan barunya. Saat dia mulai kerasan, di akhir pekan orang tuanya menjemput mudik ke Bandung. Iklim Bandung membuat dia lupa kalau dia harus kembali ke Garut. Minggu-minggu selanjutnya dia mulai berpikir keras mencari cara agar dia bisa bertahan di Bandung untuk sementara waktu. Muncullah ide-ide yang dia pikir bisa melepaskan dia dari belenggu di pesantren yang sebenarnya merupakan cara dia merusak badannya.

Suatu sore dia sengaja memesan semangkuk bakso dengan dicampur sambal sebanyak delapan sendok. Dia berharap dengan cara itu dia akan sakit diare.Tapi, dia malah sehat. Dia pun nekad datang ke dokter. Khansa minta si dokter memberinya surat sakit. Dia pun menawarkan uang tabungannya sebesar Rp 100 ribu agar si dokter mau mengabulkan permintaannya itu.

Bayangkan anak yang usianya baru 12 tahun itu sudah berbuat demikian…

Bagi kakak sepupuku, pesantren adalah pilihan terbaik untuk Khansa. Sejak sekolah dasar, anak yang terbilang jenius itu memang susah diatur. Dia selalu berontak. Satu kali aku pernah mengajak dia nonton film, dan menanyai banyak hal kepada dia. Dia mengaku kasih sayang orang tuanya tidak merata.

Kedua orang tuanya bekerja. Ayahnya bekerja di luar kota dan ibunya seorang guru. Dia memiliki tiga adik, satu perempuan dan dua lelaki. Sejak dilahirkan dia tinggal di tengah keluarga besar. Khansa tinggal serumah dengan Mbah Kakung dan Mbah Putri (dari pihak ibu) dan tiga adik lelaki ibunya. Badannya yang bongsor (di usia 12 tahun, dia melampaui tinggi badanku), sering jadi olokan paman-pamannya. Begitu pun di sekolah, dia sering ditempatkan paling belakang barisan. Khansa yang jenius itu pun menjadi minder. Dia tidak pernah mau berpenampilan bak perempuan.

Saat kelas tiga, dia mulai meminta kepada ibunya untuk home schooling. Dia ogah sekelas dengan teman-teman yang sering mencemoohnya. Dia pun menjadi posesif. Teman yang dia anggap sahabat harus selalu ada ketika dia membutuhkannya. Dia pun rela membayar temannya itu asalkan mau menemaninya.

Di rumahnya, dia menjadi anak yang rewel dan pemberontak. Dia mencari perhatian dari orang tuanya. Khansa sering menganggap, ayahnya lebih sayang pada adik perempuannya dan ibunya lebih sayang pada dua anak laki-lakinya. Dan dia merasa sebagai anak yang tak dianggap. Ketika dia menginap di rumahku, tak ada Khansa yang rewel dan pemberontak. Dia makan dengan makanan yang ada di meja. Dia tidak pernah merengek meminta sesuatu. “Di sini enak, masakannya enggak hambar dan boleh nonton tv apa saja,” kata dia yang di rumahnya selalu diatur itu.

Puncak kenakalannya itu saat dia kelas enam. Dia mulai mencari pacar sebagai pelampiasannya karena tidak mendapat perhatian yang cukup dari orang tua. Tidak tanggung-tanggung, dia memacari anak SMA. Ketika ditegur, dia malah meminta orang tuanya menikahkan dia saja dari pada harus meneruskan sekolah. Bahkan dia pernah bercita-cita jadi pembantu karena melihat kerja pembantunya yang dia anggap sederhana (mengurus anak) lalu mendapat uang.

Kakak sepupuku berharap perilaku anaknya itu dapat berubah setelah dia dipesantrenkan. Tapi anak itu tidak pernah berubah. Di bulan ketiga ia memanfaatkan kunjungan adik Mbah Kakung yang menitipkan buku untuknya sebagai jalan untuk lari. Dia bilang pada pengurus pesantren kalau dia tidak akan lagi mondok di pesantren tapi dia akan datang setiap hari pada saat jam sekolah. Adik Mbah Kakung yang tidak tega dengan permintaan Khansa menurutinya. Pengurus pesantren pun melepaskannya.

Kakak sepupuku panik tidak keruan dengan tingkah polah anaknya itu. Dia menghubungiku dan keluargaku untuk mencari solusinya. Dia enggan berdiskusi dengan suaminya yang lebih asik dengan hobinya memancing ketimbang mengurusi keluarga. Aku menghubungi keluarga ibuku yang tinggal di Garut. Pamanku bertugas mengantar jemput Khansa ke pesantren karena selama sepekan dia menumpang angkot padahal jarak rumah adik Mbah Kakung itu ke pesantren cukup jauh, mesti menumpak tiga angkot. Khansa sepakat.

Yang ajaib, anak seumur Khansa, aku anggap terlalu berlebihan menginjak remajanya (puber). Setiap dia melihat lelaki yang dia anggap tampan, dia pasti “tembak langsung”. Itu yang membuat dia betah tinggal di rumah adik Mbah Kakung karena ada tetangga yang tampan menurut dia. “Kalau aku tinggal di sini, kan, tiap hari aku bisa melihat dia. Hidupku jadi bersemangat.”

Negosiasi demi negosiasi ditempuh. Khansa mengajukan penawaran berhenti di pesantren dan bersekolah di smp di Bandung. Ibunya pun mengajukan penawaran, Khansa mesti menuruti aturan yang diterapkan ibunya. Keduanya, akhirnya sepakat. Dengan perjuangan ibunya, masih ada sekolah yang mau menerima Khansa yang terlambat satu semester itu.

Lalu, apa sifat Khansa berubah setelah sekolah di Bandung?

Tidak. Pubernya tidak lagi bisa dikendalikan. Dia tetap menjadi seorang pemberontak. Dia merasa hanya pacarnya-lah yang lebih memperhatikannya dibandingkan dengan keluarganya. Aku benar-benar tidak tahu anak itu akan seperti apa kelak. Semoga dia bisa berubah. Khansa, berhentilah kau sakiti dirimu dan keluargamu, nak. Kami sangat sayang sama kamu.®

Advertisements

One thought on “Ponakan 12 Tahun

  1. Iwan S.Amintapradja says:

    jelas sudah disini letak kesalahan orang tua yg tidak mengerti kondisi psikologis anak,adanya kesan pemaksaan atas keinginan/hasrat dari yg merasa dirinya sebagai orang tua tanpa mengkonsulatasikan dulu/ si anak diajak bicara, cukup banyak hal ini terjadi dimana si orang tua memaksakan keinginan2nya terhadap si anak, dari satu sisi bagus karena ingin si anak berhasil dg baik, satu hal yg disayangkan mereka jarang bahkan seringnya sih tdk pernah diajak bicara si anak sukanya/maunya kemana (tdk melihat /menggunakan penelusuran minat dan bakat si anak) “egoisme para orang tua” yg pada akhirnya malah akan berdampak buruk terhadap perkembangan anaknnya itu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s