Berhentilah Serakah, Bung!


Aku akan berpikir seperti kalian berpikir. Menempatkan kesimpulan di awal, baru mencari premis-premis yang mendukung munculnya kesimpulan itu, walau kenyataannya premis itu baik mayor ataupun minor tak lagi menjadi dukungan kuat konklusi kalian. Konklusiku: Kalian memang serakah, bahkan terlalu serakah!

Tampak emosional? Benar!

Mari kita kembali ke percakapan Jumat (28/1) malam. Di sebuah warung kopi, aku berbincang dengan orang yang mengaku dekat dengan sang penguasa daerah ini dan orang yang separtai dengan sang penguasa daerah. Perbincangan tidak jauh dari peluang sang penguasa daerah kembali berlaga dan menang dalam pemilihan kepala daerah 2010. Padahal seperti yang telah ku kupas sebelumnya, sangat kecil peluang dia untuk lolos sebagai calon bupati.

Si orang yang mengaku dekat dengan sang penguasa itu sebut saja Kumis dan orang yang separtai itu Kurus. Kumis mengaku telah menghimpun pihak-pihak yang loyal dengan sang penguasa itu. Mereka tidak akan dapat menerima kalau sang penguasa dihalangi untuk mencalonkan diri. Padahal jelas-jelas KPU tidak melarang siapa pun untuk mencalonkan diri. Soal berhak atau tidaknya sang calon itu akan ditentukan oleh aturan yang memuat persyaratan untuk ditetapkan menjadi calon kepala daerah dan calon wakil kepala daerah. Menurut Kumis, para loyalis itu tidak peduli dengan undang-undang yang membatasi sang penguasa karena telah dua kali menjabat. “Bisa-bisa ribuan pendukung bapak menyerbu ke Mahkamah Konstitusi gara-gara bapak tidak bisa menjadi calon,” kata Kumis.

Si Kurus yang semula hanya manggut-manggut pun turut bicara. Dia mengatakan partainya akan berupaya sekuat-kuatnya untuk mengusung penguasa. Menurut dia, figur sang penguasa masih “kuat” di benak masyarakat, sehingga masih berdaya jual tinggi dalam pilkada mendatang. Bakal calon lain pun tahu itu. By the way, aku juga tahu itu. Sang penguasa memiliki imej yang kuat di masyarakat. Dia adalah kepala daerah selama dua periode meskipun itu tidak berturut-turut, tapi itu ganjalan buat dia. Pembangunannya bisa dianggap lebih baik dari kepala daerah sebelumnya. Menurutku, dia pemimpin yang bagus, hanya terlalu emosional dan terlalu percaya dengan pembisiknya, tanpa cek dan ricek. Seringkali keputusan yang dia ambil pun serba premature dan malahan menyudutkan dirinya sendiri.

Sejak putusan Mahkamah Konstitusi itu soal jabatan selama dua periode, emosinya semakin tak karuan. Dia mendepak sekretaris KPU karena dianggap bersebrangan dengan dia. Sekretaris KPU direcall dengan cara yang tidak sesuai mekanisme. Tidak hanya sekretaris, hampir semua staf yang berasal dari PNS yang berada di KPU turut ditarik selama sebulan. Lalu, besaran anggaran pilkada ditarik ulur dengan dalih penghematan. Terakhir, berkoar-koarlah sang penguasa dalam setiap sambutannya bahwa ia tidak bermasalah dengan KPU. Orang yang tidak tahu ada kisruh itu pun pasti akan tahu dan semakin banyak yang tahu.

Kini para pendukung atau mungkin lebih tepatnya, orang-orang yang menggantungkan hidup padanya (terlalu kasar kalau ku sebut mereka penjilat) mencari celah agar sang penguasa bisa kembali bertahta. Sejumlah scenario yang mereka susun di antaranya:

  1. 1. Meminta fatwa pada Mahkamah Agung
  2. 2. Mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi dengan alasan bahwa sang penguasa itu adalah TNI bukan sipil
  3. 3. Sang penguasa kembali maju dalam pilkada namun bukan sebagai calon kepala daerah, melainkan calon wakil kepala daerah
  4. 4. Mengerahkan massa dengan putusan akhir pilkada ditunda

Untuk poin (1) dan (2), mungkin lebih elegan karena yang ditempuh cara-cara konstitusional. Tapi poin (3) dan (4), masya Allah….

Menurut para pendukung, scenario poin (3) ditempuh dengan terpaksa dan menurunkan harga diri sang penguasa. Sang penguasa rela berada di posisi kedua dengan jalan cerita, jika pasangan itu terpilih, maka setelah beberapa waktu sang kepala daerah terpilih mundur dan sang penguasa yang berada di posisi kedua akan naik menjadi kepala daerah. Semudah itukah?

Tidak juga. Seorang kepala daerah tidak bisa mundur begitu saja. Ada pasal-pasal yang mengatur hal itu, yaitu Pasal 49 UU No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah, bahwa kepala daerah berhenti atau diberhentikan karena; meninggal dunia, mengajukan berhenti atas permintaan sendiri, berakhirnya masa jabatan dan telah dilantik pejabat baru, tidak lagi memenuhi syarat, melanggar sumpah, serta mengalami krisis kepercayaan public atas kasus yang menimpanya. Alasan tadi baru bisa dianggap sah setelah disetujui DPRD. Tidak mudah kan, mau berhenti dengan mudah sebagai kepala daerah.

Rencana itu mungkin berhasil jika sang kepala daerah terpilih mau mengikuti scenario tersebut. Bagaimana kalau dia ogah? Iya atau tidak jawabannya, tetap saja rencana itu memperlihatkan betapa serakahnya keinginan seseorang untuk berkuasa. Dan lebih menjijikkan lagi ketika kekuasaan itu diraih dengan mempergunakan massa yang telah dipengaruhi. Pengerahan massa disadari atau tidak pasti menjatuhkan korban baik harta atau nyawa. Betapa mahalnya harga sebuah kekuasaan itu kan…

Dimana posisiku saat itu?

Aku akan menjadi penonton dan menyaksikan kepingan-kepingan rencana mereka. Saat ini, dalam sudut pandangku sebagai penonton, aku seperti menyaksikan negeri yang modern ini mengalami kemunduran. Siklus Polybieus itu benar, setelah demokrasi dianggap kebablasan maka akan terjadi pergeseran. Setelah demokrasi, titik selanjutnya adalah otokrasi, seorang pemimpin itu dipilih Tuhan. Benarkah? maka kita akan kembali mengecap masa sebuah kabupaten yang berusaha kembali ke masa kerajaan….

Advertisements

2 thoughts on “Berhentilah Serakah, Bung!

  1. ian says:

    knp ya banyak org yg haus akan kekuasaan? ga tau apa jabatan itu amanah yg akan dmintai prtanggungjwbannya di akhirat nanti?

  2. dewi153 says:

    Kekuasaan = uang, menyetir orang lain semau dia…wi lagi jadi penonton sekarang dan berbicara ketika ditanya saja hehehe…Maret nih Teh, baru prung tahapan Pilkada-nya Karawang…(*Kalo jadi..xixixi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s