Penjara Bukan Sekolah dan Rumah Buat Anak


Mungkin aku enggak akan bisa seperti ini kalau perkara seperti pelajar kelas tiga Sekolah Dasar Dr. Soetomo Surabaya berinisial DY. Dia mesti menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Surabaya. Usianya baru sembilan tahun, tapi dia dipaksa masuk ke ruangan yang bisa membuat pejabat terkencing-kencing. Titik kehidupan yang dia tempuh itu lantaran dia menyengatkan lebah ke pipi Dian, teman sekolahnya, beberapa waktu lalu.

Mengutip http://www.okezone.com, awalnya, dia cuma bermaksud bercanda dengan menyengatkan lebah ke Dian. Namun, orangtua Dian yang berdinas di Kepolisian Daerah Jawa Timur tak terima dan mempersoalkan kasus ini secara hukum. Peristiwa tersebut berlangsung pada 3 Maret 2009 lalu. Seusai pulang sekolah pukul 12.30 WIB, DY bersama temannya sedang menunggu kendaraan jemputan yang akan mengangkut siswa pulang. Di kala menanti mobil jemputan, DY bersama teman-temannya bermain sambil berlari-lari. Di tengah bermain, muncul ide nakal dari DY. Ia berinisiatif mengambil seekor lebah yang hinggap di gerobak penjual es kelapa muda. Lebah yang biasa beterbangan di halaman sekolah itu lantas didekatkan ke temannya. Tak disangka, seekor lebah di tangan DY tiba-tiba menyengat pipi Dian. Dian pun langsung menangis karena menahan sakit di pipinya yang mulai bengkak akibat disengat. Usai diobati dan tangisan Dian reda, DY dan temannya akhirnya pulang setelah kendaraan jemputan datang. Selang empat bulan usai peristiwa sengatan lebah, ayah Dian, Komisaris Supardi Astiko, melaporkan masalah itu ke Polres Surabaya Selatan. Oleh petugas kepolisian, kasus ini mulai ditindaklanjuti dan berlanjut ke persidangan.

Aku pernah meliput perkara anak di Pengadilan Negeri Bandung. Saat itu ada seorang yang disidangkan karena mencuri sebelah sandal di mesjid. Sempat dipukuli, ia pun diproses di pengadilan. Ketika itu, memang kasus anak yang disidangkan ramai dibicarakan setelah kasus Raju di Medan, Sumatera Utara mencuat.

Di sebuah ruangan yang disulap seperti ruang pengadilan-pengadilanan, anak disidang secara tertutup. Hakim dan jaksa dilarang memakai seragam karena khawatir si anak trauma. Padahal trauma si anak sudah tertanam sejak dia dipukul massa, dibawa ke kantor polisi, diinterogasi lalu yang terburuk ditahan. Jarang sekali, dulu, rutan memiliki sel khusus anak sehingga mau tidak mau mereka memang dicampur dengan orang dewasa.

Sejak saat itu mereka trauma. Mereka menilai hidupnya berakhir sampai di situ. Putusan bebas tidak ada artinya karena tidak dapat menghapus mereka dari perjalanan waktu mereka hingga duduk menjadi pesakitan. Putusan bebas tidak membuatnya amnesia. Bahkan kepingan-kepingan bagian hidup yang menakutkan itu akan terekam jelas. Dan semakin diulang rekaman itu semakin jelas. Mereka pun memutuskan hidup dalam kekosongan karena keceriaan kanak-kanak telah hanyut ketika nama mereka tercatat sebagai mantan tahanan.

Aku lebih beruntung dari mereka. Entah berapa banyak teman main yang kulukai saat bermain. Namun, orang tua temanku tidak pernah marah kendati anaknya pulang berdarah-darah dan mengadukan bahwa itu perbuatanku. Aku masih ingat, ketika itu aku seumur DY ana Surabaya itu. Sepulang sekolah anak lelaki tetangga Siswanto, mengajakku bermain “perang gobang”. Aku memang terlalu tomboy untuk level anak perempuan. Penampilan dari mulai rambut hingga pakaian lebih mirip anak laki-laki.

Aku tak ingin kalah dari anak lelaki. Strategi “perang gobang” pun ku persiapkan. Aku tahu kalau soal tenaga, pasti kalah. Satu-satunya cara agar menang adalah modifikasi pedang. Sehari sebelumnya, aku mencari gantar (bambu panjang). Aku mendapati gantar di halaman tetangga. Ketika ku minta, pemiliknya langsung memberikan. “Buat ngambil layangan, Om.”

Bagian ujung gantar ku runcingkan tapi tidak terlalu tajam. Ujung satunya, diikatkan kain agar nyaman saat ku pegang. Untung enggak terlalu panjang, jadi badanku tidak kalah berat.

Hari pertarungan tiba. Setelan terbaik ku pilih: kaos singlet dan celana pendek. Sandal jepit ku desain khusus agar tak mudah lepas: dipasangi karet gelang pada bagian tumit. Dengan gagah gempita aku pun melenggang menuju medan pertarungan. Siswanto pun telah menunggu di sana.

Cicis-biasa Siswanto disapa-sepertinya tidak mempersiapkan apa-apa untuk pertarungan itu. Sebuah pedang yang panjangnya setengah dari tinggi badannya. Pedangnya lebih mirip salib yang diikat dengan tali ikatan silang.

Aku berdiri berhadap-hadapan dengan Cicis. Meskipun tak ada wasit di antara kami, tapi kami merasa ruh wasit itu ada. Lapangan badminton itu, dalam imajinasiku, ibarat sebuah ring tinju.

Sayup-sayup terdengar seperti suara lonceng dipukul pertanda ronde pertama dimulai. Dengan sigap ku ayunkan pedangku ke arah kiri tubuh Cicis. Dia tidak sempat menangkisnya sehingga pedangku mengenai daun telinga kirinya. Seketika darah mengucur dari bagian atas telinga kirinya. Tanpa sadar aku menjatuhkan pedang dan Cicis menangis meraung-raung karena rasa sakitnya. Tak perlu pikir panjang, aku ambil jurus langkah seribu.

Tiga bulan sejak peristiwa itu, aku selalu menghindari bertemu Cicis. Ketika pamanku menyuruhku membeli rokok, aku menolak. Satu-satunya rute menuju warung adalah melewati rumah Cicis. Masalahku itu selesai hanya sampai mediasi dua keluarga yang menganggap itu hanyalah kenakalan anak.

Bahkan waktu SD dan SMP pun kalau aku berkelahi sehingga melukai temanku, masalah selesai sampai di guru BP. Tapi sekarang lain. Semua masalah dipaksa diselesaikan di ranah hukum. Mereka lupa bahwa ada yang namanya musyawarah. Mereka berharap keadilan di Pengadilan. Ingat, keadilan untukmu sama saja ketidakadilan untuk orang lain. 03

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s