“My Name is Khan”: Tanpa Khas Film India


Selama perjalanan, dua jam plus berteduh di Hoka Hoka Bento Sentra Grosir Cikarang, Kabupaten Bekasi, aku membayangkan puluhan lagu India beserta adegan saling mengejar dalam film yang akan aku tonton, My Name is Khan. Aktor Shah Rukh Khan dan aktris Kajol dipertemukan lagi dalam film itu. Tentunya adegan romantis bak di film Kuch Kuch Hota Hai bakalan mewarnai film itu. Tapi, aku salah.
Justru aku disuguhi adegan tragedi romantis yang jauh dari adegan menyanyi di bawah derasnya hujan, berlarian di sabana, lalu saling mencuri pandang di pepohonan. Rasanya tidak sia-sia menempuh perjalanan dua jam diguyur hujan, dari Karawang yang tidak ada bioskop 21 menuju Bekasi yang penuh bioskop dengan film-film terbaru.
Karena hujan pula, aku baru bisa mendapat tiket nonton di studio 5 Mega Bekasi XXI untuk penayangan pukul 18.45 WIB. Masih ada waktu setengah jam, dihabiskan menyeruput coffee cream untuk mengusir dingin yang menyelimutiku dua jam sebelumnya. Pesanan yang lama datang—ternyata menguntungkan—membuatku masuk ke studio 5 tepat saat film dimulai. Aku pun tak perlu duduk terlalu lama menyaksikan iklan bergantian di layar bioskop.
Di awal film tampak Shah Rukh Khan yang memerankan Rizvan Khan tengah berada di bandara di sebuah negara bagian Amerika Serikat. Tangan kanannya menggenggam sejumlah batu kerikil yang ia putar-putar laksana sedang berdzikir menggunakan tasbih. Dengan ransel ukuran jumbo, di tengah antrean dia tampak linglung hingga menarik perhatian petugas pengamanan bandara. Dia pun ditangkap dan dikarantina. Ketika ditanya petugas bandara, dia bilang ingin bertemu presiden untuk bilang, “My Name is Khan and I’m not a terrorist.” Kalimat itulah yang menjadi inti cerita dan menjadi alasan Rizvan Khan meninggalkan istrinya, Mandira yang diperankan oleh Kajol.
Kasih sayang Ibu
Potongan film selanjutnya memperlihatkan perjuangan seorang ibu memahami kelainan anaknya, Rizvan yang justru dicemburui adik Rizvan, Zahir yang terlahir normal. Rizvan terlahir sebagai penderita Sindrom Asperger, yang takut dengan kebisingan dan warna kuning. Dia pun tidak bisa mengungkapkan emosinya saat sedih maupun bahagia. Tapi dia pandai. Ucapan orang-orang yang didengarnya bisa dengan mudah dia ingat.
Kepintarannya itu mulai disadari banyak orang ketika Ibu Rizvan menitipkan Rizvan pada guru Wada untuk diajari secara privat. Suatu hari sekolah Wada kebanjiran dan air pun menggenangi sekolah. Rizvan yang disuruh pulang oleh gurunya malah membantu sekolahnya itu. Gaya khas berpikirnya menarik rambutnya itu menghasilkan ide menyedot air dengan menggunakan pipa panjang dan sepeda bekas. Hingga malam, Rizvan mengayuh sepeda itu untuk menyedot air yang akhirnya kering pada malam hari.
Debutnya itu pun menarik perhatian tetangganya. Mereka mengantre dengan membawa alat-alat eletronik rusak yang diyakini bisa diperbaiki Rizvan. Rizvan pun meyakini mampu memperbaikinya. Bahkan suatu saat nanti kemampuannya itu menjadi andalannya mendapatkan uang ketika tabungannya di bank habis selama perjalanan mengejar presiden.
Belahan jiwa, Mandira
Setelah ibunya meninggal dunia, Rizvan disponsori adiknya Zahir tinggal di Amerika Serikat dan bekerja di perusahaan Zahir sebagai sales kosmetik herbal. Di Amerika pula, adik ipar Rizvan, Hasina menyadari penyakit kakaknya itu. Ia pun membekali Rizvan DVD recorder untuk mengalihkan ketakutannya pada kebisingan dan berkonsentrasi dengan gambar di DVD recordernya.
Pertemuannya dengan Mandira pun saat ia berusaha setengah mati menghilangkan ketakutannya dengan zebra cross (di San Francisco berwarna kuning) sekaligus kebisingan trem. Mandira yang bekerja di salon membubarkan kerumunan orang yang menyaksikan ketakutan Rizvan. Rizvan merasakan degupan yang berbeda ketika mendengar suara Mandira dan dia pun yakin kalau dia sedang jatuh cinta. Dia pun datang ke salon itu dengan alasan menjual produk kosmetik herbalnya.
Kejujuran Rizvan membuat Mandira bersimpati. Saat berkenalan dia menyebutkan siapa namanya dan penyakit yang dideritanya. Dia pun mengaku tidak bodoh bahkan lebih intelek dari manusia normal. Rizvan bisa dibilang sales yang jujur karena ketika pembeli menanyakan apakah produknya bisa membuat si pembeli tampak cantik, dia menjawab tidak. Menurut Rizvan, setelah dia mencoba produk itu, wajahnya hanya tampak lebih bersinar dan terawat. Kejujurannya itu pun seringkali dianggap candaan oleh orang lain. Dengan cuek Rizvan mengatakan ayamnya tidak enak, ketika ia dan Mandira dijamu oleh tetangganya. Tapi itulah kelebihan Rizvan, yang pada suatu hari justru menyelamatkannya dari label “teroris”.
Untuk Rizvan, Mandira adalah segalanya. Mandira, janda beranak satu yang menikah pada usia 19 tahun dan menyusul tinggal bersama suaminya di Amerika. Namun di usia 22 tahun dia ditinggalkan oleh suaminya yang baru dia sadari ketika menerima surat cerai dari suaminya yang kabur bersama selingkuhannya ke Australia. Bersama Sameer anaknya yang berusia 2 tahun, Mandira berjuang sebagai hair stylist di San Francisco. Untuk mendapatkan hati Mandira, Rizvan ditantang menaklukan hati Sameer dan wajib menemukan tempat indah yang belum pernah dikunjungi Mandira. “Kalau kau berhasil menemukannya, aku mau menikah denganmu,” kata Mandira.
Daftar tempat indah pun dibuat, tapi semua tempat ternyata pernah didatangi Mandira dan Sameer. Rizvan tak hilang akal. Dia meriset selama 6 hari untuk menemukan tempat indah itu. Mandira pun menyerah ketika diajak melihat tempat itu di pagi hari. Sameer yang usianya sudah 6 tahun pun takluk karena ketulusan kasih sayang Rizvan. Bahkan setelah Rizvan menjadi ayah tirinya, dia meminta nama “Khan” disematkan di belakang namanya. Nama itu pula yang membuat Sameer meninggal dunia.
Hanya Zahir yang tak rela kakaknya menikahi seorang Hindustan. Zahir berharap kakaknya bisa menikahi sesama muslim seperti dirinya. Hanya Hasina yang berjilbab yang menghadiri pernikahan Rizvan-Mandira.
Usai menikah, Rizvan-Mandira-Sameer tinggal di Banville. Mandira membuka salon di sana dan Rizvan menjadi kasirnya. Pernikahan mereka harmonis hingga tragedi World Trade Center 9/11. Muslim yang tinggal di Amerika diburu, dikucilkan, dan diintimidasi. Salon Mandira Khan pun ditutup karena sepi pelanggan. Sameer sering diejek di sekolah, terutama usai ayah Reese sahabat karibnya tewas saat meliput perang teroris di Afganistan. Sameer pun tewas dihajar teman sekolahnya karena dianggap bagian dari teroris.
Penuh tangisan
Dari adegan kematian Sameer sampai akhir film, penonton meneteskan air mata. Dari yang memang melankolis sampai yang bertampang sangar, waktu bubaran tampak mengusap pipinya. Setengah durasi film atau satu setengah jam, emosi penonton diaduk dengan suguhan ketakutan kaum muslim usai tragedy WTC 9/11. Ada yang mengubah penampilannya menjadi kebarat-baratan. Bahkan Hasina yang berjilbab dan menjadi dosen psikologi pun terluka setelah ada orang yang menarik kerudungnya.
Emosi semakin memuncak dengan kemarahan Mandira yang mengusir Rizvan. Dia menuding nama “Khan”-lah penyebab kematian Sameer. Mandira mengusir Rizvan dan baru memperbolehkan Rizvan setelah bertemu presiden AS dan mengatakan bahwa klan-nya bukanlah teroris. Bertahun-tahun Rizvan “mengejar” presiden untuk menyampaikan pesannya. Dia selalu terlambat datang ke tempat yang dituju presiden. Belum lagi masalah kehabisan uang sehingga dia baru bisa melanjutkan perjalanan setelah mendapatkan uang.
Dia pun sempat tak sengaja mendengar upaya jaringan Al-Qaeda yang merencanakan jihad. Rizvan yang jujur mendebat pernyataan DR. Rehman yang berupaya mencuci otak pengikutnya dengan dalil Al-Quran. Rizvan meminta Zahir menyampaikan hal itu ke FBI. Rizvan hampir bertemu dengan presiden di sebuah kampus tapi gagal. Rizvan dituduh sebagai teroris karena teriakannya itu hanya terdengar sebagian. Untung ada jurnalis yang merekam teriakan Rizvan dan menawarkan teka-teki penangkapan Rizvan sebagai liputan menarik ke saluran televisi besar. Mereka ditolak hingga sebuah saluran menyanggupi liputan itu.
Mereka pun mengejar cerita Rizvan yang saat itu ditahan tanpa bukti sebagai bagian dari jaringan Al-Qaeda. Tidak kurang dari setahun dia ditahan, hingga bebas setelah Zahir diwawancarai soal kakaknya. Setelah bebas, Rizvan enggan bertemu Mandira karena dia belum menepati janjinya. Di tengah pengejarannya terhadap Presiden George Bush—saat itu sedang berkampanye melawan Obama—ia malah memutuskan kembali ke Wilhelmina, Georgia karena banjir dan badai. Rizvan tidak rela orang-orang yang pernah menolongnya mati di sana.
Pertolongannya yang kemudian diliput justru mengundang empati warga non-Amerika. Berbondong-bondong mereka membantu, sedangkan orang Amerika lebih sibuk dalam politik jelang pemilihan presiden. Ketulusan Rizvan itu meluluhkan hati Reese yang akhirnya mau membongkar siapa yang membunuh Sameer dan mengembalikan hati Mandira kepada Rizvan. Namun, saat Mandira menemui Rizvan di lokasi banjir, seseorang yang kecewa atas penangkapan DR Rehman menusuk Rizvan.
Momen terlambat
Mungkin momen film ini kurang tepat mengingat peristiwa WTC 9/11 terjadi sepuluh tahun lalu. Dunia pun tampak tidak seantusias dulu mengejar teroris terutama setelah Obama terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-44. Namun, charisma Shah Rukh Khan-Kajol dengan Kuch Kuch Hota Hai mampu menyedot penggemarnya kembali ke bioskop menonton film berdurasi tiga jam tanpa lagu dan tarian khas film India.
Aku masih ingat dengan berita tahun lalu, saat Shah Rukh Khan kesal karena sempat dikarantina di bandara Amerika Serikat karena bernama “Khan” yang dilabeli sebagai teroris oleh negara paman Sam itu. Mungkin film itulah yang menjadi inspirasi Karan Johar membuat film ini. Film ini buatku, mampu mengaduk emosi antara komedi, romantis, sekaligus tragedi.*

Advertisements

5 thoughts on ““My Name is Khan”: Tanpa Khas Film India

  1. pravin irawan says:

    Selain MNIK film Bollywood yang patut ditonton dan sedang hyangat2nya dibicarakan di dunia adalah film
    1.KITES dbintangi Hrithik Roshan & Barbara Mori (Aktris telenovela meksiko yang terkenal lewat telenovela RUBI) genre action romance.

    2. TEEN PATTI dibintangi Amitabh Bachchan & Ben Kingsley (aktor gaek Hollywood)genre thriller.

    3. VEER dibintangi Salman Khan (Collosal love story)

    4. Koochi Koochi Hota Hai = adalah film KKHH versi animasi.

    5. FIRED adalah film horror ( ala korea banget)Bollywood tapi memakai Bahasa Inggris yang di bintangi Rahul Bose.

    Untuk nonton trailernya kunjungi http://www.bollywoodhungama.com atau http://www.youtube.com.

    Saya ingin kenalan dengan anda semua para fans Bollywood, search saya Pravin Irawan di FB.

    Semoga informasinya bermanfaat, shukriya Allah hafiz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s