Pesan ABG via Facebook? Bisa!


Facebook dijadikan ajang prostitusi? Itu bukan cerita baru bagiku. Dalam jejaring pertemanan yang ada sebelum Facebook, Friendster juga kerap dijadikan sebagai jaringan prostitusi. Dalam Friendster, pekerja seks komersial (PSK) itu malah lebih terang-terangan menyebutkan profesi mereka. Mungkin di Facebook-karena aku belum menemukannya-sama terang-terangannya.

Di Friendster mudah sekali menemukan PSK menjajakan dirinya karena foto yang mereka pasang itu lumayan syur sehingga membuat calon pelanggan penasaran, lalu menambahkan mereka sebagai teman. Apalagi Friendster pada awalnya sifatnya terbuka. Walaupun kita tidak terdaftar sebagai teman, tapi kita bisa membuka galeri fotonya. Bisa ditebak, foto di galeri lebih syur. Bahkan, nomor kontak sang PSK dipajang di muka halaman.

Kalau soal prostitusi di Facebook, aku belum menemukannya. Tapi menurut seorang teman yang menjadi konselor HIV AIDS tidak sulit untuk menemukan mereka. Tawar-menawar dilakukan di dalam pesan yang tidak mungkin terlihat oleh orang lain. Di pesan juga, tempat pertemuan dan eksekusi ditentukan. Temanku juga mengatakan ada juga PSK yang mengajak komunikasi lebih lanjut di Yahoo! Messengger. Dilanjutkan komunikasi melalui telefon genggam. Setelah diisikan pulsa beberapa kali pada nomor telefon mereka, biasanya mereka mengajak kopi darat. Tempat pertemuan pun justru di pusat keramaian.

Temanku juga bilang kalau para PSK itu justru lebih banyak kalangan Anak Baru Gede (ABG). Sebagian besar dari mereka masih duduk di bangku SMA. Kalau sudah pernah berhubungan, biasanya mereka terang-terangan meminta dijemput di depan sekolah untuk diajak “jalan”, lalu diantar pulang sebelum pukul 18.00 WIB.

Jadi wajar jika sekelompok orang menganggap Facebook itu berdampak negatif. Seperti yang dilakukan Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur yang mengharamkan jejaring sosial seperti Friendster dan Facebook yang berlebihan. Berlebihan itu artinya jika penggunaannya menjurus pada perbuatan mesum dan yang tidak bermanfaat.

Di negara lain, usul “pengharaman” Facebook sempat dilontarkan Badan Intelijen Israel. Mereka menemukan sejumlah teroris memanfaatkan situs jejaring sosial popular untuk merekrut anggota teroris baru. Hasil penyelidikan BIS, anggota terror itu pun menggunakan situs jejaring sosial untuk mengadakan pertemuan. Pertemuan itu kemudian dimanfaatkan untuk menculik warga Israel.

Awalnya Badan Keamanan itu menemukan seorang yang mengaku sebagai pedagang Lebanon baru-baru ini menghubungi seorang Israel di Facebook dan menawarkan pembayaran bagi pemberian informasi rahasia. Sebelumnya, dikatakan Israel, Al-Qaeda diduga kuat merekrut warga Arab-Israel lewat internet guna membantu mereka merencanakan serangan di Israel. Keduanya pun ditangkap. Akhirnya Israel mengimbau warganya agar waspada terhadap pesan-pesan internet yang tidak dikenal dan jangan member nomor telefon serta informasi pribadi lainnya.

Namun, pada dasarnya Facebook itu dibuat untuk sebuah kebaikan. Pada 2004, Mark Zuckerberg, mahasiswa Universitas Harvard dibantu mahasiswa lainnya Andre McCollum,   teman sekamar Mark Dustin Moskovitz dan Crish Hughes membuat suatu sistem jejaring sosial untuk kelasnya. Setelah sistem itu terbentuk, ternyata semakin banyak orang yang bergabung di dalamnya. Dalam perjalanannya, sistem jejaring sosial itu pun menjaring universitas terdekat dari tempat kuliahnya. Mark yang seorang programmer pun mengembangkan sistem jejaring itu dengan sebutan Facebook.

Dampak positif dari Facebook pula dipetik oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Beijing. Mereka memanfaatkan internet untuk menjaring calon pemilih pada pemilihan calon presiden dan wakil presiden di Cina. Facebook itu digunakan untuk mengundang masyarakat Indonesia di Cina yang ingin masuk dalam daftar pemilih sementara (DPS).

Dipergunakannya Facebook dalam mengumumkan pendaftaran DPS dilakukan mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia yang ada di Cina adalah mahasiswa. Umumnya masing-masing sudah memiliki internet. Sehingga adanya internet memudahkan proses penjaringan,

Lalu jika dihubungkan dengan ramainya pelaporan dampak negatif dari Facebook, aku setuju jika Facebook dikenakan tariff. Pasalnya memberi batasan usia 13 tahun bagi anggota dan pelarangan memasang foto porno tidak menjamin dipatuhi. Tapi lain halnya dengan dikenakan tariff. Calon anggota Facebook akan berpikir berkali-kali sebelum mendaftar menjadi anggota karena ogah membayar hanya untuk (sebagian besar) ber-having fun. So, segeralah Facebook ditarif daripada dilabeli “haram”!®

Advertisements

2 thoughts on “Pesan ABG via Facebook? Bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s