Sejarah Macan di Ruang Bupati


Lebih dari satu tahun, pemeriksaan perkara pengadaan offset macan berlangsung. Dua terdakwa yaitu mantan Kepala Bagian Perlengkapan Pemerintah Kabupaten Karawang Didin Abidin dan Sekretaris Pribadi Bupati Didi Mukhlis masih menjalani persidangan. Mereka didakwa telah melakukan tindak pidana korupsi.
Ringkas cerita, pada Februari 2008 Didi Mukhlis meminta Didin Abidin mengusahakan adanya anggaran untuk mengganti biaya pembelian offset macan yang sebenarnya sudah dibayar bupati. Dalam persidangan agenda pemeriksaan keterangan terdakwa, Didi menjelaskan bahwa itu inisiatif dia untuk meringankan beban keuangan bupati. Didi pun mengirimkan pesan singkat dari telefon genggamnya kepada Didin yang isi meminta dana sebesar Rp 30 juta untuk dua ekor macan kering. Permintaan disanggupi lalu disusul permintaan selanjutnya untuk benda serupa, Rp 15 juta.
Uang itu diserahkan pada Didi. Padahal, uang itu berasal dari pinjaman Irfan Sungkar, pemborong CV Arti Teknik. Perbuatan itu berlanjut, kata Bobby, dengan diupayakan adanya nota dinas untuk pengadaan hiasan di ruang dinas bupati kepada Bagian Umum. Kemudian, nota dinas tersebut didisposisikan oleh Sekda Kabupaten Karawang, Arifin H. Kertasaputra. Untuk menyempurnakan perbuatannya, terdakwa meminta panitia pengadaan seolah-olah menyelenggarakan lelang atas pengadaan itu yang besaran Rp. 65.670.000,00 yang dimenangkan oleh CV Arti Teknik.
Akhirnya Bupati Karawang mengetahui perkara itu dari nota dinas. Ia pun mengirim disposisi yang menyatakan bahwa offset macan itu dibeli dari uang pribadinya. Kemudian, dia meminta agar uang tersebut dikembalikan ke kas daerah. CV Arti Teknik pun sepakat untuk membatalkan kontrak dan mengembalikan uang itu.
Sidang terus bergulir tapi baru kali ini sejarah offset macan itu dibeberkan. Menurut Didi, pada 8 Januari 2008, Bupati Karawang Dadang S. Muchtar memerintahkan dia untuk membayarkan uang sebesar Rp 30 juta kepada kenalannya. Uang itu berasal dari kocek bupati sendiri.
Dia adalah Faturahman, seorang penjual offset macan dari Jakarta. Belum jelas bagaimana Faturahman terhubung dengan bupati. Dia datang pada 8 Januari itu untuk mengambil uang pembayaran dua ekor offset macan. “Saat itu saya langsung menyerahkannya pada dia. Saya pun membuatkan kuitansi tanda terima buat dia,” ungkap Didi dalam keterangannya.
Sekitar sepekan setelah pembayaran, datanglah dua ekor offset macan. Satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna kuning kecokelat-cokelatan. Dalam pertemuan pengiriman barang itu, Faturahman kembali menawarkan offset macan dan disetujui bupati. Didi pun kembali diperintahkan bupati memberikan uang kepada Faturahman sebesar Rp 15 juta. Dan, baru pada Februari 2008, offset macan ketiga berwarna kuning kecokelat-cokelatan itu masuk ke ruang bupati.
Ketiga ekor offset macan itu disimpan rapi di ruang bupati paling dalam. Untuk bisa melihatnya langsung, kita harus melewati empat pintu dari pintu utama kantor bupati. Pintu pertama yang dilewati adalah pintu utama gedung bupati. Setelah menaiki dua tangga seperti di rumah-rumah dalam film India, aka nada tiga pintu. Sebelah kanan, pintu ruang staf bupati yang di dalamnya ada tangga menuju pintu belakang di lantai satu. Pintu itu biasanya dijadikan pintu “pelarian” bupati jika di ruang depan terlalu banyak orang yang ingin dia hindari.
Di bagian tengah, ada pintu ke ruang tunggu tamu bupati. Di dalam ruangan itu terdapat sejumlah kursi dan toilet. Nah, yang di sebelah kiri baru pintu kedua menuju ruang tempat macan itu dipajang. Masuk ke pintu itu terdapat sebuah ruang bagi bupati menerima tamu “biasa”. Dari ruang itu ada pintu lagi menuju ruang makan bupati. Di ruang itu pun ada sofa untuk menerima tamu “agak luar biasa”. Dari ruang itu tampak sebuah pintu menuju ruang kerja bupati. Mungkin tidak sembarang orang yang bisa masuk ke sana. Aku pun baru bisa masuk karena dibawa majelis hakim yang ingin melihat kebenaran fisik offset macan itu.
Di ruangan itu memang ditemukan macan, tapi jumlahnya justru ada empat. Sedangkan, yang dipermasalahkan adalah tiga macan. Macan-macan itu berpose di atas dahan pohon. Ada yang disimpan di belakang sofa, ada pula yang mengapit meja kerja bupati. Saat sidang lokasi, hakim hanya mengkonfirmasi keberadaan tiga offset macan itu kepada para saksi. Lalu, bagaimana macan hitam keempat yang berada di belakang sofa? Mungkin tidak ada yang menyadarinya karena warnanya sama dengan warna perabotan di belakangnya. Hitam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s