Mudarat Celana Ketat


*Dari Majalah Tempo Edisi 15-21 Februari 2010

Celana panjang ketat atau yang sering disebut celana pensil, ternyata bisa menimbulkan gangguan pada saraf tepi, yang bisa mengakibatkan kelumpuhan. Celana yang menjadi tren sekitar dua tahun belakangan ini dapat mengganggu sirkulasi pembuluh darah, yang menyebabkan fungsi sistem saraf di luar saraf otak menurun. Pasien, terutama remaja dan perempuan muda, dengan keluhan kesemutan hingga baal mulai bermunculan.

Kebiasaan Shandy, 18 tahun, mengenakan celana ketat tak berubah. Namun mahasiswi semester dua universitas di Bandung itu mengubah bahan celana ketat dengan bahan jins campuran karet agar lebih lentur di lekuk pinggul hingga mata kaki. “Sekarang enak, enggak kesemutan lagi,” ujarnya Senin pekan lalu, saat ditemui di sebuah mal di kawasan Dago, Bandung.

Rasa nyaman tersebut tak dirasakan penggemar celana ketat sejak kelas dua SMA itu beberapa bulan sebelumnya. “Kaki susah ditekuk, kesemutan, terasa kebas, aku hampir lumpuh,” ujarnya. Saat itu Shandi mengikuti mode, celana ketat model pensil. Potongannya pas tubuh dari panggul dan tetap menyempit hingga melekat ke betis sampai pergelangan kaki.

Nyeri yang sama dirasakan Marwah, 17 tahun. Penggemar Britney Spears, J-Lo, dan Shakira ini juga awalnya merasa kesemutan, baal, dan kaki kanannya tak bisa digerakkan. Dokter yang memeriksanya menyatakan ada tekanan dalam waktu yang lama di sekitar pinggulnya. “Aku memang senang pakai celana ketat sepinggul, hip style. Membuat tubuhku tampak lebih ramping dan seksi,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

Korban mode berakibat pada penyakit bukan hanya terjadi pada kedua belia itu. Menurut Ahmad Rizal, dokter di Bagian Ilmu Penyakit Saraf Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, rata-rata datang dua orang per minggu dengan keluhan itu. “Gejala seperti itu, walau sering terjadi dan mudah diatasi, tak boleh dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Itulah yang disebut parestesia. Menurut Kamus Kedokteran Dortland, parestesia berarti perasaan sakit atau abnormal seperti kesemutan, rasa panas seperti terbakar, dan sejenisnya.

Gangguang saraf parestesia gampang dikenali. Gejalanya berupa kesemutan yang lama-kelamaan berubah menjadi mati rasa. Kesemutan terjadi lantaran terganggunya saraf tepi, saraf yang berada di luar jaringan otak di sekujur tubuh. Hal itu terjadi umumnya karena ada tekanan, infeksi, ataupun gangguan metabolism. Gangguan saraf itu menyebar ke sekujur tubuh hingga ke permukaan kulit.

Secara medis, saraf manusia terbagi dua. Saraf pusat  berada di otak dan tulang belakang. Di luar itu dengan ukuran hingga serabut kecil disebut saraf tepi. Jenisnya terbagi tiga: saraf sensorik yang membuat manusia bisa merasakan sesuatu, saraf motorik sebagai penggerak otot, dan saraf yang menghasilkan kelenjar seperti kelenjar keringat.

Dalam jangka panjang, menurut dokter Rizal, gangguan seperti itu bisa menyebabkan kelumpuhan, terutama di kalangan penderita kencing manis. “Jika kelumpuhan terlalu lama, komplikasinya bisa berakibat pada kerusakan sendi,” katanya wanti-wanti.

Menurut dokter ahli saraf Departemen Neurologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Silvia F. Lumempouw, parestesia terjadi karena fungsi sistem saraf yang menurun. “Saraf ini kan memerlukan makanan juga,” ujarnya. Jika pembuluh darah yang mengalirkan makanan ke saraf itu terhambat, sistem saraf jadi terganggu.

Sistem saraf biasanya mendapat perintah dari pusat ke otot, supaya bergerak. Sebaliknya, pada gangguan saraf tepi tersebut, menurut Silvia, yang terjadi kebalikannya, otot yang terganggu membawa pesan ke pusat saraf. “Mirip kabel listrik yang tertekan, aliran setrumnya tidak lancar,” katanya.

Nah, sehubungan dengan celana ketat sepinggul, menurut lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, itu adalah akibat sirkulasi pembuluh darah di lipat paha yang mengalirkan darah ke kaki tertekan. “Padahal di lipat paha itu ada arteri, pembuluh darah besar yang biasanya dipakai memasukkan kateter oleh ahli jantung,” kata Silvia.

Di Kanada, Malvinder Parmar dari Timmins & District Hospital, Ontario, meneliti penggunaan celana ketat yang menyebabkan penyakit saraf tepi ini. Dalam Canadian Medical Association Journal, dokter Parmar mengaku kedatangan cukup banyak pasien korban parestesia dalam setahun belakangan ini. Kebanyakan perempuan berusia 22-35 tahun yang mengeluhkan rasa panas dan gatal di sekitar paha.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan kelainan itu terjadi permanen selama celana ketat sepinggul melilit di tubuh. Itu sebabnya dokter Parmar menyarankan supaya menjauhi segala macam pakaian ketat selamai terapi. Hasilnya langsung tampak. Di Jakarta, dokter Silvia memberikan petunjuk yang sama pada pasiennya. “Jika kami tahu karena penggunaan celana ketat, kami minta mereka menggunakan celana lebih longgar,” katanya.

Dokter Rizal menyarankan supaya menghindari celana ketat dari bahan kulit atau jins. “Celana ketat dari bahan karet  yang lentur lebih aman,” katanya. Selain di bokong dan paha, daerah rawan parestesia adalah di kawasan ketiak dan betis.

Selain penggunaan celana ketat, parestesia, menurut dokter Rizal, bisa muncul karena pekerjaan atau kegiatan seseorang. Tentara, pendaki gunung, juga anak-anak sekolah yang memasang tali tas ransel ketat, rawan mengalami kesemutan di bagian pangkal lengan dan sekitarnya. Saraf pemakai sepatu sempit, jaket, dan celana tebal ketat pun bisa mudah terjepit. “Sekretaris dan wartawan yang sering mengetik kalau posisi tangannya kurang betul juga bisa kena,” ujarnya.

Cara mencegahnya, menurut Rizal, mudah saja. Hindari posisi yang membuat saraf terjepit. Pada saat duduk lama menunggu khotbah salat Jumat, misalnya, cari posisi yang enak supaya kaki atau tangan tidak kebas. Jangan duduk bersila jika posisi itu mudah membuat kesemutan. Bagi para penggendong tas ransel, dosen tidak tetap di Fakultas Kedokteran Unpad itu menyarankan talinya dilonggarkan.

Jika telanjur sakit hingga kaku dan tangannya tak bisa mengangkat benda, pasien biasanya diminta beristirahat sambil minum obat saraf. “Umumnya diberi vitamin B untuk memberikan nutrisi serabut saraf,” tuturnya. Pasalnya, bisa jadi rasa kesemutan itu akibat kekurangan vitamin B. Selain itu, mungkin aktivitas mereka banyak menjepit saraf tepi, atau bisa pula karena penyakit kencing manis.®

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s