Selalu Beli Kucing dalam Karung


Tulisan yang kubuat sepekan lalu kembali membuat iba sebagian orang sehingga mereka dengan ikhlas memberikan sebagian harta mereka kepada orang yang menjadi bahan tulisanku. Bahagia? Pastinya, karena yang kubisa untuk menolong mereka hanya dengan tulisanku itu. Tulisan yang mewartakan ada seseorang yang membutuhkan bantuan.

Beberapa hari setelah tulisan itu dimuat, aku terima dering telefon dari kantor. Mereka mengutus seorang petugas untuk mengantarkan sejumlah uang yang akan disumbangkan bagi orang yang membutuhkan itu. Nilainya cukup besar dan aku berterima kasih pada pemberinya.

Di hari yang dijanjikan, kami mengantar uang itu ke tempat orang tersebut dirawat. Singkat kata, kami memberikan sumbangan tersebut (*tapi tidak seluruhnya dengan alasan keamanan dan dia mengerti). Penerima pun menandatangani sebuah surat yang dilengkapi persyaratan administrasi agar menjadi sah. Namun, yang mengejutkan, tepat seperti dugaanku, salah satu orang kepercayaan yang dirawat yang mengantar mewanti-wanti agar uang itu dijaga dan jangan sampai bocor pada aparat desa. “Saya khawatir uang itu akan kena sunat,” kata dia saat itu.

Aku tidak habis pikir, pemimpin macam apa yang tega menyunat hak rakyatnya seperti itu. Bukannya aku mendiskreditkan para kepala desa, tapi kenyataannya memang demikian. Di saat mereka membutuhkan suara dari rakyatnya saat pilkades, tidak kenal waktu, pagi, siang, dan malam. Rakyat didekati dengan iming-iming pembangunan dan kesejahteraan jikalau memilihnya. Tapi saat terpilih, ada warganya yang sakit pun, tampaknya ogah mengurusinya. Benar-benar ibarat “Beli Kucing dalam Karung”.

Tidak perlu melihat pemimpin yang di atas dengan ruwetnya kasus Century, tengok rakyat yang di bawah yang masih bergumul dengan sulitnya mendapatkan akses kesehatan yang memadai walaupun minim keuangan. Toh, pemerintah sudah menjanjikan pemeliharaan kesehatan murah, bahkan gratis. Tapi ada yang lupa disematkan dalam slogan itu, “tidak pakai lama”.

Banyak rakyat miskin yang mengeluh lebih baik berobat ke rumah sakit swasta yang mahal sekalian. Pelayanan di sana lebih maksimal. Uang pun tidak menjadi soal kendati sulit mencarinya, toh uang dapat dicari. Dibandingkan, harus berjuang desak-desakan membuat berbagai macam surat demi stempel “miskin”, lalu harus antri hingga berjam-jam tapi setelah datang berkali-kali, tidak ada kesimpulan soal penyakit yang diderita.

Rasanya memang tidak adil!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s