Bukan Atlit, Hanya Penonton


“Resep olah raga naon?”
“Catur,” tiga penanya yang juga seniorku di Lingkung Seni Sunda (Lises) Unpad saling pandang. Tampaknya mereka tidak suka dengan jawaban itu. “Olah raga nu lainna?”
“Voli, tapi teu tiasa maenna mah da ukur resep nongton,” kataku.
Mereka tersenyum. Sepertinya puas, aku pun bangga. Puasnya mereka itu dalam artian bisa “mengerjaiku”. Bener, bener, bener, saat itu aku seperti orang gila, he he! :p
Mereka memaksaku memperagakan gerakan dalam voli seperti pasing atas, pasing bawah, mengumpan, dan smash diiringi musik Sunda. Gerakannya pun harus selaras dengan musik.
Olah raga, memang aktivitas yang tidak ku sukai. Setiap ada ujian lari 12 menit keliling Gasibu, rasanya sebuah beban berat. Aku sudah tidak mempedulikan nilai yang dituliskan guru. Cukuplah nilai kehadiran pun, karena aku tidak berharap lebih.
Pertama kali kena batunya saat kelas 2 SMP ada kegiatan berenang di kolam renang Karang Setra, aku tidak hadir. Ku pikir tidak akan kena sanksi karena waktu kelas satu pun hanya dibebankan membuat tulisan. Tapi kali itu aku salah.
Ketika pelajaran olah raga minggu berikutnya, kami-kami yang tidak hadir saat berenang dikumpulkan. Kami dibariskan. Tiba-tiba disuruh telungkup. “‘Kepak-kepakkan kaki kalian seperti orang berenang,” kata guru olah raga.
Ah, kalau seperti ini, sih, enteng. Pikirku saat itu. Hanya telungkup dan gerak-gerakkan kaki. “Nah biar adil, sekarang kalian berenang sampai ke tiang bendera itu seperti apa yang teman-teman kalian lakukan di kolam renang Karang Setra,” perintah guruku.
Kontan, kami yang sedang asyik tengkurap di darat kaget. Masak, harus berenang di darat. Terbayang kami harus merangkak di lapangan sepanjang 50 meter saat terik matahari. Di sekolahku, siswa kelas 1 dan 2 memang dapat shift siang karena berbagi ruang dengan murid sekolah dasar.
Kami-kami, siswa terhukum saling pandang. Tanpa kata, kami mengerti arti saling pandangan itu. “Mari kita lobi guru kita supaya meringankan hukuman itu.”
Aku pun mengacungkan jari, mohon izin bangkit untuk melobi. Aku pikir, aku memang harus bertanggung jawab karena akulah ketua kelas, maka harus berani mengupayakan itu demi teman sekelas. Aku meminta keringanan hukuman. Lobiku berhasil. Setiap dua terhukum wajib menyediakan sebuah pelampung dan buku tentang renang yang judulnya ditentukan guru olah raga. Pelampung itu dipergunakan untuk latihan berenang, sedangkan buku akan disumbangkan ke perpustakaan.
Tidak lama setelah kejadian itu, guru olah raga membuat kartu kehadiran renang yang harus dicap petugas loket kolam renang. Jadi, kalau latihan renang biasa boleh asal hadir, tapi saat tes, harus turun ke kolam. Aku turun? Tidak, alasannya sedang datang bulan dan minta ujian pengganti, ha ha! :p
Dan, dampaknya, aku akan super was-was kalau liputan banjir karena tidak bisa berenang. Makanya, aku berdoa, tinggi air jangan melebihi leherku. Biar aku bisa jalan dan memotret, tapi kalau tinggi, aku pilih nebeng perahu SAR lengkap dengan pelampung. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s