Kami Negara Miskin


Baru saja aku menemui pasangan kakek-nenek, Ekek dan Rasem yang akan membawa pulang cucunya, Yulia, 6 tahun, penderita kwashiorkor (*jenis gizi buruk) dari RSUD Karawang. Yulia dinyatakan dapat dirawat di rumah, asalkan asupan gizinya cukup. Mungkinkah?

***

Selama menikah dengan Ekek, Rasem tidak dikaruniai anak. Beruntung Ekek yang duda, memiliki anak dari pernikahan sebelumnya, Emar. “Tapi dia tidak tinggal bareng kami,” kata Rasem ketika menunggui Yulia di kamar isolasi ruang Rawamerta RSUD Karawang.

Emar lalu menikah dengan Anen dan tinggal bersama di Kec. Rengasdengklok Kab. Karawang, sementara Rasem di Kec. Kutawaluya. Jarak tempuh dua wilayah itu bisa sampai 45 menit dengan sepeda motor. Dari pernikahan itu, Emar dikaruniai dua orang anak, Ipit kini 12 tahun dan Yulia. Namun, Rasem mengaku tidak pernah tahu kalau Emar mengandung dan melahirkan anak keduanya. “Ema baru tahu waktu Yulia dititipkan,” ucapnya.

Dua tahun setelah Yulia lahir, Emar meninggal dunia karena mengidap sakit paru-paru. Pengasuhan Yulia pun di tangan Anen, tapi Anen tak bisa mengasuh Yulia, karena dia juga mengidap penyakit yang sama dengan istrinya. Setiap Yulia menangis, selalu dibiarkan dan jarang diberi makan agar tangisannya reda. Anen pun menyusul Emar setahun kemudian.

Setelah Anen meninggal, Yulia diasuh oleh keluarga Anen, tapi tidak lama. Tiga bulan kemudian, Yulia diserahkan pada Rasem-Ekek. Keluarga Anen hanya mengasuh Ipit, kakak Yulia. Kondisi Yulia saat diserahkan pada Rasem-Ekek, sudah menyedihkan, hanya tinggal tulang dibalut kulit.

Di usianya tiga tahun itu berat badannya tak lebih dari empat kilogram. Dia pun tidak dapat berjalan dan berbicara. Hanya menangis dan menangis yang dia mampu. Rasem dan Ekek tak mampu membawanya berobat karena tidak memiliki cukup uang. Mereka pun tinggal di gubuk di atas tanah milik irigasi. Untuk kebutuhan sehari-hari, lebih banyak dipasok dari para tetangga yang iba.

Bahkan ketika puskesmas mengulurkan tangan hendak membawa Yulia ke RSUD Karawang, Rasem malah bingung dengan biaya sehari-hari saat menunggui Yulia. Pihak puskesmas dan kepala dusun membujuknya hingga mereka mau. Selama seminggu Yulia dirawat di RSUD Karawang. Dan ketika mereka pulang, tanpa bantuan relawan dan tetangga mereka akan kembali pada lubang yang sama, miskin dan tak mampu berobat.

***

Benar-benar dikelabui saat mata terbuka mendengar ulasan setiap tahun jumlah warga miskin di negara kami ini berkurang. Setiap tahun, ribuan orang miskin dianggap tidak ada. Padahal kenyataannya orang miskin tak pernah berkurang. Tengok, berapa banyak orang yang mengantri di rumah sakit berbekal stempel “miskin”. Benar-benar miskin atau pura-pura miskin, aku tidak tahu.

Jika benar orang miskin berkurang, kenapa masih banyak kejahatan dengan motif ekonomi, bahkan terus merajalela? Jika benar berkurang, mengapa jumlah pengemis di jalanan tidak pernah hilang? Siapa yang bilang negara kami ini bukan negara miskin?

Aku masih ingat ucapan Pak Ijam, Wakil Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Karawang tentang kenaikan harga pembelian pemerintah atas gabah. Saat itu, pemerintah mengatakan dengan kenaikan HPP sebesar 10 persen bisa menambah keuntungan bagi petani sebesar Rp 1 juta setiap hektarenya. Menurut Pak Ijam, itu hanya angka politis, angka di atas kertas.

Demikian juga ketika angka rakyat miskin berkurang berdasarkan jatah raskin. Itu versi pemerintah yang meng-covernya. Pengurangan itu juga menunjukkan pengurangan kemampuan pemerintah menolong orang miskin. Tidak cuma miskin harta, mungkin juga hati.*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s