Camilan Mudik


Apa yang ku lakukan saat aku pulang ke rumah orang tuaku, tak jauh dari apa yang ku kerjakan di kamar kosanku saat libur: TIDUR dan MAKAN. Aktivitas yang sama saat libur. Memang mengasyikan. Di rumah orang tua lebih asyik lagi, karena semua disediakan oleh ibuku.

Minggu pagi, kalau soal bangun pagi, aku sih jangan terlalu diharapkan kalau tidak ada agenda penting. Jadwal bangunku tidak lepas dari pukul sembilan-sepuluh pagi. Hanya pagi ini ada yang beda. Adik lelakiku menelfon pacarnya tepat di sebelahku yang terkapar di atas karpet. Memang, setiap aku pulang ke rumah orang tuaku, tidak pernah tidur di atas kasur. Tampaknya setelah aku merantau lima tahun ini memang namaku seakan-akan dicoret dari fasilitas alas tidur, hiks!

Aku yang tidur di atas karpet, awalnya berusaha menutup telingaku. Tapi lama kelamaan suara dia semakin nyaring. Dan aku pun bangun, tapi mata tetap terpejam. Dua jam aku berikan nasihat soal hidup, ha ha! Setelah itu, tidur berlanjut hingga pukul 12 siang. Oh, indahnya hidup!

Aku bangun bukan karena merasa sudah cukup tidur, tapi aku kelaparan. Sehari-hari aku biasa makan pagi paling lambat pukul 10 pagi. Nah, ini dia pukul 12 siang masih belum diisi apa pun. Bangun, cuci muka, ku tengok ke dalam lemari makanan. Ibuku bilang tidak memasakkan sesuatu yang spesial. “Makan saja yang ada di sana,” ucap ibu.

Ku pilih, telur dadar disemur kuning dengan kikil yang ditumis kuning. Pedas dan panas. Bagaimana tidak, nasinya saja masih panas. Lapar sementara hilang. Lalu, kembalilah aku ke hamparan karpetku. Main poker dan kalah 20 ribu chips.

Jelang pukul 3 sore, si cacing-cacing mulai berteriak dan meronta. Aku biarkan sesaat karena aku masih harus menelfon nara sumber sebagai pelengkap berita yang harus ku kirim ke kantor sore itu. Selesai wawancara, mulai ku ramu bahan berita, tapi perutku tak tahan lagi. Aku berteriak pada adik perempuanku. Si bungsu ini rencananya akan melanjutkan sekolah ke SMK jurusan masak. Nah, alasan itu yang ku manfaatkan untuk menyuruhnya membuat makanan.

Aku bilang padanya, ilmu seorang juru masak akan terus berkembang kalau ilmu itu terus diasah dengan praktek. Dan seringnya dia menurut, walau terkadang meminta bayaran pula. Kali ini aku minta dibuatkan menu sederhana, toh, hanya untuk camilan. Camilan favoritku sore itu dibarengi turun hujan: MARTABAK TELOR MIE DAUN BAWANG.

Panjang banget ya judulnya. Soalnya yang ku tekankan dalam camilan ini adalah banyaknya daun bawang yang “nyakrek” atau renyah saat digigit. Resepnya pun sederhana. Bisa diikuti siapa saja.

Bahan:

–          1 bungkus mie instan

–          4 butir telur ayam

–          1 ikat daun bawang (dipotong)

–          4 siung bawang merah (diiris)

–          2 siung bawang putih (diiris)

–          1 buah tomat (dipotong dadu)

–          3 cabe merah(diiris)

–          5 cabe rawit(dipotong)

–          penyedap rasa

Pertama, telur ayam dikocok hingga lepas. Sambil mengocok telur ayam, remukkan mie instan. Kalau ingin lebih mengembang dan lunak, mie instan itu direbus lebih dahulu. Setelah telur lepas dikocok, masukan potongan cabe merah, cabe rawit, daun bawang, bawang merah, bawang putih, potongan tomat, penyedap rasa beserta remukan mie instan. Setelah tercampur, goreng di atas wajan dengan minyak panas sampai berwarna cokelat. Hidangkan dengan saus cabai. Uenakkkk tenan…apalagi ditambah nasi panas. Ajib!*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s