Terpana Ibu Tukang Sate


Bosen terus-menerus makan mie rebus ato mie goreng, pengen dong ada perbaikan gizi. Apalagi beberapa kali makan seafood dikecewakan mulu. Teuteub, nyeri hate, terutama sama Pak Haji. Teungteuingeun kamu, mahalin harga seafoodnya!

Nah hari ini, sate jadi pilihan yang lebih baik. Kebetulan pilih sate kambing 10 tusuk dan sate ayam 10 tusuk. Tempat belanja sate ini sebenarnya langganan kalo ke Sukabumi. Kalo dibandingkan dengan makanan lain di Sukabumi, sate jadi pelipur lara. Soalnya pernah diajak makan di tempat yang katanya tempat makan terenak terutama sop dagingnya. Nyatanya, si daging gak berasal dari buleng. Daging itu dah diplastikin plus potongan wortelnya. Setelah dipurudulkan ke mangkok, baru deh dikucurin kuahnya. Siyal!

Tempat jualan sate di Nanggeleng itu kini sudah berubah. Tapi ko jadi mirip tempat praktek dokter. Antara tempat makan sama tempat bakar dipisahin bentangan spanduk sebagai sekat. Jadi kita gak bisa lihat gimana mereka membumbui sate. Parahnya, semakin mirip di dokter, di akhir harus bayar si ibu tukang sate, manggilnya gak pake nama. Ya iyalah karena gak sempat kenalan.

“Yang kambing dan ayam, ke sini,” kata si ibu. Eh, seperti dihipnotis, dipanggil gitu malah nyamperin. Malahan ngasih uang segala. Coba, kalo dipanggil “anjing”, pasti marahnya bisa sampe lempar-lempar motor #eh. Hehehe, yang pasti ngadat. Begitu sadar, cekikikan deh! ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s