Ke Sukabumi, Jangan Lupa ke Bandross Atta!


Akhirnya ketemu juga deh, tulisan zaman dulu waktu liburan ke Sukabumi. Ini gue salin ☺

MUNGKIN sudah banyak orang yang tahu bagaimana rasanya bandros. Tapi bandros yang satu ini bukan bandros samanea (bukan bandros biasa-red.). Selama ini yang dikenal adalah bandros asin. Namun yang dijual di pinggir Jln. Gudang Kota Sukabumi, adalah bandros dengan rasa manis dan cokelat. Orang-orang menyebutnya “Bandros Atta” meskipun pembuatnya kini bukan lagi Atta.

Pemilik sekaligus pengelolanya sekarang tidak lain keturunan Atta. Sudah tiga generasi yang meneruskan usaha yang dimulai sekitar tahun 1950-an itu. Samsudin, Adang, dan Debby kini yang mengelolanya. Mereka bergantian berjualan bandros setiap malam. 

Setiap malam Minggu, banyak orang berkeliling kota mencari hiburan. Di antara mereka tidak sedikit yang mampir ke warung bandros Atta. Tapi, bagi penjual bandros Atta, setiap malam selalu seramai malam Minggu. Pembeli terpaksa harus antre untuk memesan bandros, yang satu cetakannya seharga Rp 3.500,00, seperti Sabtu (1/4) malam itu.

Bermodalkan lima kursi panjang dari kayu dan tiga meja, Samsudin bersaudara melayani pembeli tanpa henti. Setiap hari mereka berjualan dari pukul 20.30 WIB hingga 7.00 WIB. Ada yang dimakan di tempat, ada pula yang dibungkus untuk dibawa pulang.

Cara yang paling nikmat makan bandros ini adalah dengan mencicipinya saat panas. Apalagi, jika bagian bawahnya dibiarkan agak gosong. Seperti bandros asin, bandros Atta juga dibubuhi parutan kelapa seperti bandros asin yang kebanyakan beredar di kota-kota lain.

Setiap harinya mereka melayani ratusan pembeli. Pada akhir pekan, warung bandros Atta juga ramai dikunjungi pembeli dari luar kota yang sedang liburan di Sukabumi. 

Resep lain larisnya bandros Atta adalah menu cokelat panas dan kocokan telur ayam kampung yang direbus setengah matang. Padahal, cokelat panas yang disajikan merupakan paduan dari cokelat, gula putih, dan air panas, kadang ada yang dicampur susu. Sedangkan yang satunya lagi adalah dua telur ayam kampung yang direbus setengah matang dan dikocok dalam gelas. “Bagus untuk kesehatan,” kata Ati, salah seorang pembeli.

Biasanya para pembeli menambahkan garam dan merica pada telur itu agar tidak enek. Pokoknya, kalau jalan-jalan malam hari di Sukabumi tanpa mencicipi bandros Atta, bisa rugi! ☺ ***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s