Bubur-bubur Ceria


Pagi-pagi asyik tuh, kalau ngomongin menu nyabu alias nyarap bubur. Tapi ini kan dah siang, waktunya ngomongin makan siang. Tak apalah, konsisten saja ngomongin sarapan, ya.

Seumur hidup sih, baru dua jenis bubur yang dicobain. Setidaknya yang ada di Pulau Jawa. Di bagian nusantara lainnya belum. Makanya, modalin keliling nusantara dong, he he! *nyosok jero*

Dua jenis bubur itu, ada bubur tak berkuah dan ada yang kering. Nah, bubur kering itu biasanya adanya di wilayah priangan. Eh tapi, di Sumedang, buburnya berkuah juga sih. Biasanya bubur kering itu kalau di luar kota, di roda pedagangnya ditulisnya “Bubur Bandung”. Terus, jangan aneh, kalau semakin ke barat, yang ada itu, ya, bubur kuah.

Nah, waktu dinas ke #Yogyakarta kemarin, buburnya hampir mirip Bandung. Bedanya penyajiannya ada sausnya juga. Karena buburnya sajian hotel, pastinya komplet segala macam ada.

Oh iya, bubur juga makanan khas orang sakit loh. Dan bubur rumah sakit, pastinya enggak enak. Jangan harap, ada rasa-rasa Masako atau Royco, deh. Tariis weh lah. Padahal bikinnya tuh lama bener. Tapi tenang sekarang ada bubur instan Super Bubur. Eh, bentar deh, ini tulisan lama-lama jadi ngiklan gini. Lebih baik segera dihentikan, karena ini waktunya makan siang. Lotek’s time! Dagh..

— Krik-Krik —

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s