Teman, Grup BBM, dan Penipuan


Beberapa hari terakhir, saya selalu menolak undangan grup blackberry messenger, khususnya yang berjualan. Maaf banget buat yang mengundang, karena saya memilih decline. Soalnya berdasarkan pengalaman, kalau di-ignore, akan terus diundang.

Ada sejumlah alasan saya berbuat demikian. Saya berusaha menahan diri tidak banyak belanja dengan cara mensugesti diri dengan mengatakan saya tidak tertarik dengan penawaran tersebut dengan cara menolak undangan. Alasan lainnya, sederhana tapi agak nyelekit, he he, berisik dengan suara notifikasinya. Oke, biar tidak berisik, saya matikan notifikasinya. Yah, tapi tetap saja itu akan membuat saya melongok isi postingan di grup itu. Ujung-ujungnya saya malah belanja. Dan, gagallah program pengiritan itu, he he!

Oh iya, tidak jarang kok, barang yang dipesan tidak sesuai dengan yang ada di gambar. Lebih buruknya, kualitasnya jauh dari yang ditawarkan. Kejadian buruk seperti itu baru saja menimpa sahabat saya. Akibatnya sangat fatal. Semua berawal dari grup blackberry messenger. Setelah lama tak berkomunikasi, sejumlah teman-teman dari sekolah dasar yang sama memutuskan membuat sebuah grup blackberry messenger. Tujuannya, agar komunikasi kami tak lagi terputus.  Kami pun lalu saling mengundang secara pribadi agar tak semua pembicaraan tidak harus berlangsung di grup.

Nah, satu dari teman itu pun mengundang saya secara pribadi. Anehnya, tidak pernah ada pembicaraan secara pribadi itu loh, hingga saya akhirnya memutuskan menghapus kontak dia dari daftar kontak saya. Bukan karena kami jarang private chat sehingga saya memutuskan ‘mengusirnya’. Saya bosan dengan undangan di grup blackberry messenger jualan tasnya. Sekali saya pernah menerima undangan grupnya. Oalah, harga tasnya mahal-mahal. Tidak terjangkau oleh saya. Dan yang paling mengesalkan sehari bisa puluhan notifikasi yang masuk. Lebih baik saya kabur dari grup itu. Eh, tetap saja diundang lagi, lagi, dan lagi. Baru setelah kontaknya dihapus, hidup saya berasa damai, ha ha!

Lalu apa kejadian buruk yang menimpa sahabat saya? Urusannya tidak jauh dari si pengundang grup jualan tas itu alias teman sekolah dasar kami itu. Sahabat saya, Anne, dimintai tolong oleh temannya di daerah Pantura untuk mencarikan tas merek Furla. Yang asli. Anne lalu ingat dengan teman si penjual tas itu. Dihubungilah dia, dan dia bilang memiliki barang yang dicari oleh teman Anne. Harganya hampir Rp 6 juta, loh! Singkat cerita mereka sepakat. Uang ditransfer, barang pun dijanjikan akan segera dikirim.

Beberapa hari setelah uang ditransfer, barang tak juga datang. Teman Anne menagih tas yang telah dibayarnya itu. Anne menghubungi si teman SD kami, sang penjual tas. Pesan singkat tak dibalas. Telfon pun tak diangkat. Ketika tersambung, Anne meminta nomor resi tak juga diberikan. Gelagat tidak baik harusnya sudah tercium. Namun, Anne percaya teman SD kami itu tak mungkin menipu. Kepercayaan Anne ternyata dihancurkan. Tas itu akhirnya datang, tapi tak sesuai pesanan. Terlebih, itu bukan tas asli, tapi palsu atau level KW, yang harganya di bawah Rp 500 ribu.

Anne kesal bukan main. Ketika dikontak, lagi-lagi tak tersambung. Saat tersambung, teman SD kami itu bersikeras barang yang dikirim sesuai pesanan dan asli. Anne kalah galak. Si teman penjual tas itu malah memutuskan pertemanan lebih dulu dengan alasan Anne telah menyangsikan dia dan merusak reputasinya. Lebih buruk dari itu, teman Anne yang memesan tas tak mau ikut campur saat Anne mengajaknya melaporkan si teman SD yang telah menipu mereka. Teman Anne malah meminta uangnya diganti. Menyedihkan! Di saat yang sama, harus kehilangan teman dan uang.

Mendengar cerita Anne, saya merasa lega karena melepaskan pertemanan dengan si penjual tas lebih dulu dengan alasan tidak nyaman. Tapi, akan lebih baik jika orang seperti itu dilaporkan ke polisi. Biar dia kapok dan tak perlu lagi ada teman-teman lainnya yang dirugikan. Enggak ada yang larang elu jualan, tapi gak perlu menipu. Seperti kata teman kami Sani, lama enggak ketemu, sekalinya berhubungan malah menipu. Dezig!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s