Satu Hari Sebelum Dirimu Pergi


Lirik lagu yang dibuat Pongky waktu tergabung dengan Jikustik baru terasa mengena buat saya. Lagu yang berjudul "Sebelum Dirimu Pergi", yang ada di album pertama Jikustik, ibarat sebuah lagu dari masa depan ketika saya sering mendengarnya dulu. Lagu yang mengisahkan sebuah penyesalan saat tak menyadari orang yang disayangi akan bertemu Tuhan. Dan akhirnya saya sanggup berkisah duka ini. Di sini…

Tapi, saya tidak menyesal ketika mengetahui Bapa meninggal dunia. Sesaat saya memang syok. Kabar itu saya ketahui tanpa sengaja. Padahal semua orang di keluarga saya bersepakat tidak mengabari saya soal kedukaan itu. Tapi Tuhan selalu memiliki cara tersendiri menyampaikannya.

Pagi itu, pagi pertama saya terbangun di rumah sakit Santosa, Bandung. Usia kandungan saya tepat 40 minggu dan dokter mengatakan saya bisa melahirkan bayi saya yang kemudian dinamai Kinanti Ameera Wibagja akhir pekan itu. Sabtu malam saya sudah berada di ruang observasi. Tanda-tanda melahirkan belum juga ada. Akhirnya pada esok paginya, diputuskan saya dipasangi alat induksi mekanik. Jangan tanya seperti apa alatnya. Pokoknya setelah alat itu masuk, ada yang mengganjal di bawah sana. Kagok banget!

Dua jam alat yang disebut balon itu terpasang, malas banget beraktivitas. Pasalnya, perut saya pun dipasangi alat semacam sabuk untuk mendeteksi pergerakan bayi. Jika berasa ada gerakan cukup keras, saya mesti menekan sebuah tombol. Membosankan karena waktu berjalan begitu lama. Padahal kata teman, melahirkan itu tidak lama. Tapi itu tidak berlaku bagi saya tampaknya.

Sekitar pukul 11 siang, telefon genggam saya berbunyi. Kakak sepupu saya menelefon dari Garut. Dia bertanya sebuah kabar yang kemudian menyesakkan dada saya.

"Wi, bener si Bapa teh meninggal?" tanya kakak saya di ujung telefon.

"Teu apal. Pan saya teh lagi di rumah sakit mau lahiran," jawab saya sambil berusaha menutupi kecemasan.

Saya lalu menyarankan kakak saya untuk menghubungi adik saya. Kakak saya yang sadar atas ucapannya yang mungkin bisa memperburuk kondisi saya lalu berusaha meralatnya. Ia bahkan beberapa kali mengirim pesan singkat meminta maaf. Saya berusaha tegar atas kabar itu. Lalu, meminta suami mengeceknya ke adik saya. Dan, kabar itu benar!

Saya sudah bertekad akan tegar, demi bayi yang akan keluar dari rahim saya. Namun, kesedihan memang sulit ditutupi. Untuk beberapa saat tak ada pergerakan bayi yang terdeteksi. Rupanya Kinanti merasakan duka ibunya. Saya mengabari seorang teman. Dan berita duka itu pun menyebar dengan cepat. Ucapan bela sungkawa melalui bbm ataupun pesan singkatlah yang kemudian tak sanggup membungkam tangis saya. Saya lalu mematikan telefon dan berusaha fokus pada Kinanti.

Saya memang tak ada di samping Bapa saat meninggal dunia. Bahkan saya tak pernah melihat jasadnya yang dibungkus kain kafan. Hingga sekarang pun saya belum melihat nisannya. Saya hanya menengoknya di hari pertama ia masuk rumah sakit, seminggu sebelum kepergiannya. Tapi saya tak menyesal.

Sehari sebelum Bapa pergi. Duh, merangkai kalimat ini meski sudah lewat 40 hari tetap sulit. Saya tak kuasa membendung tangis. Namun ada si kecil di samping saya sekarang. Dan saya akan meneruskan cerita ini sebagai cara saya mengenang Bapa. Ok, saya lanjutkan ya. Sehari sebelumnya, Sabtu sore, tepat sebelum berangkat ke rumah sakit, saya menemui Bapa. Sejak Jumat adik saya berpesan, Bapa ingin bertemu. Malahan paman saya mewanti-wanti datang sebelum nanti menyesal.

Di pertemuan terakhir itu, pandangan Bapa sudah tidak fokus. Tapi dia masih mendengar ucapan di sekitarnya. Sayalah yang tidak mampu banyak berkata. Setelah meminta maaf, saya tak kuasa menahan tangis. Saya peluk sekuat-kuatnya tubuh Bapa yang kurus digerogoti penyakit. Bapa didiagnosa mengidap asam urat, ginjal, darah tinggi, TB paru, TB usus, maag, jantung, diabetes, dan kolesterol.

Dalam pelukan saya, Bapa malah menyuruh saya segera pergi ke rumah sakit. Sebelum pergi, saya minta Bapa berjanji, tidak kemana-mana hingga cucunya lahir. Tapi Bapa mengingkarinya. Tuhan menentukan mengakhiri penderitaannya sebelum melihat cucunya. Padahal saya tahu Bapa sangat menunggunya. Saya masih ingat, mungkin hanya ayah seperti Bapa yang mau memijat punggung dan pinggang saya ketika hamil muda.

Sebelum saya pergi, kalimat terakhir Bapa pada sesuatu yang tidak saya tahu siapa, "Ieu teh nungguan naon deui?"….

Seperti kata Jikustik, saya yakin, Bapa kan menjadi bintang yang memeluk malam. Bapa lahir tanggal 15 Maret 1954, meninggal 12 Agustus 2012. Kinanti lahir 13 Agustus 2012. Dan saya berulang tahun 14 Agustus. Bulan yang indah ya.. Selamat jalan Bapa…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s