Membuka Satu Pintu


Sejak akhir 2012, saya mencoba melangkah ke luar dari zona nyaman saya. Menerjemahkan ucapan dari sejumlah pemuka agama di televisi atau di radio, atau yang sering terdengar ceramahnya dari pengeras suara masjid, kalau 9 dari 10 pintu rejeki itu dari berdagang. Maka, saya beranikan menerima tawaran dari suami saya untuk berjualan. Pilihan saya saat itu, berjualan pulsa.

Kenapa pulsa? Kenapa tidak makanan? Kenapa tidak berjualan online seperti pilihan kebanyakan wanita sekarang (*bahkan laki-laki juga sih)?

Saya sendiri merasakan pulsa adalah bagian dari kebutuhan pokok. Lebih berat tidak membawa ponsel dibandingkan dengan dompet. Dan sangat berat pula jika ponsel itu tidak berpulsa dan tak membawa dompet. Mati deh, he he he! 

Sebagai bagian dari kebutuhan pokok, dengan cara apapun harus terpenuhi. Harus cepat diterima, jaraknya mudah dijangkau, dan kalau bisa harus murah, kan. Untuk urusan cepat diterima, saya memilih menggunakan sejumlah chip untuk operator raksasa seperti Telkomsel, Indosat, dan XL. Untuk operator-operator kekinian, saya layani dengan “all operator”. Perkara jarak, tidak melulu soal fisik, sih. Untuk kalangan yang saya “percayai”, transaksi dilakukan tanpa bertemu. Pembayaran pun bisa ditransfer melalui bank. Kebetulan langganan terpercaya saya ini memang kebanyakan membayar via bank saat itu juga. Persis berjualan online, sih. Bedanya saya kirim barangnya lebih dulu, bayar kemudian. Toh, saya anggap pulsa yang saya kirim akan digunakan untuk mengaktifkan akses ke bank sehingga bisa membayar kepada saya real time. Soal harga, saya enggak mau mengambil keuntungan terlalu besar. Dengan memiliki banyak pelanggan saja sudah senang. Artinya modal saya akan berputar dengan cepat.

Yang jadi persoalan, saya benar-benar buta soal laporan keuangan. Duh, jangan perkarakan jurusan di sekolah menengah akhir yang saya pilih. Ilmu akuntasi yang dipelajari rasanya sudah menguap entah kemana. Sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja serta sudah beranak, cukup sulit memisah-misahkan aliran keuangan. Ditambah lagi, rekening yang dikelola bukan milik sendiri saja. Juga punya suami. Riweuh bin ruwet, deh! Jadi selama dua bulan belajar berdagang tidak heran uang di dompet dan di rekening bank campur aduk, he he! 

Tapi semua persoalan itu tidak membuat saya harus menyerah belajar membuat laporan keuangan. Ala bisa karena biasa, bukan? Saya memiliki teman yang jago urusan membuat laporan keuangan. Dari dia, saya belajar sedikit demi sedikit barusan. Percaya deh, kepala mendadak panas dijejali berbagai macam istilah dan per-excel-an yang harus saya buat. 

Lalu sudahkah saya buat? Belom, he he. Saya masih mendinginkan kepala dari putaran kata “kas”, “penjualan”, “beban”, dan sebagainya. Selain itu, kondisi bisa semakin ruwet kalau anak 6 bulan saya terbangun dan menangis. Kacau balau jadinya ilmu dadakan saya itu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s