Sopir Gedebul


Sudah macet. Jalanan dibenerin. Tambah macet karena kendaraan tumplek di satu ruas jalan. Rudet!

Rudet kian bertambah tatkala ketemu sopir angkot yang gedebul. Angkotnya sudah diisi 4 penumpang sebelum saya naik. Perkiraan saya dengan penumpang segitu sih, dia pasti melaju cepat. Benar dugaan saya. Tapi hanya hingga sejarak 0,5 km.

Angkot tiba-tiba berhenti di depan Metro Garmen. Mesin kendaraan pun dimatikan. Lima menit, saya biarkan. Sepuluh menit tetep nagen. Berkali-kali saya lihat jam tangan.

Saya: Pak, ieu nungguan naon deui? Aya penumpang?

Sopir: Heunteu Neng (*sambil menghidupkan mesin kendaraannya)

Saya pikir dia akan melaju. Rupanya tidak.

Saya: Masih lama teu Pa? (* si sopir pura-pura gak denger)

Kesal. Lalu saya turun. Dia minta ongkos. Saya kasih seribu rupiah. Peduli tuyul dia ngomel-ngomel karena uang seceng itu.

Pelajaran dari si sopir gedebul:
Jangan naik angkot, deket-deket bubaran buruh pabrik.
(*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s