(in memoriam) Ditutup, Biar Gak Masuk Angin


Soal ketelatenan mengurus anak, Bapa juaranya. Tidak pernah ada barang sedikit pun yang tertinggal kalau bepergian bersama Bapa.

Jadwal piknik yang rutin bersama Bapa, ya, menengok Ema (ibunya Bapa). Setiap datang tak lupa jeruk sebagai buah tangan. Soalnya kalau tahu, banyak karena kampung Ema bersebelahan dengan Lembur Tahu yang berjejer pabrik tahunya.

Dari rumah kami ke rumah Ema di Banjaran, saat itu hanya butuh satu jam. Saat itu Bandung tidak dikenal dengan macetnya. Tiga kali kami berkendara umum. Agar tidak masuk angin, sebelum pergi dioleskan dulu minyak pepeo yang sebenarnya baunya bisa bikin pengen muntah. Ketika naik angkot, Bapa selalu memilih posisi sebelah sopir. Menurut Bapa yang bikin pusing itu karena duduk tidak menghadap ke jalan arah angkutan melaju. Makanya, kami lebih sering pakai bus atau elf yang semua kursinya menghadap ke depan.

Saya dan adik saya selalu dibekali topi yang bisa menutup telinga. Meski demikian, Bapa selalu menutupi dua telinga anak yang duduk digendongannya dengan dua tangannya. “Supaya tidak masuk angin,” alasan Bapa.

Bersyukur kami tidak pernah muntah. Tapi Bapa selalu menyiapkan plastik keresek. Bahkan segenggam pasir di plastik yang dimasukkan ke kantong celananya. Bapa bilang, kasihan penumpang lain melihat muntahan. Bisa-bisa karena jijik penumpang turun atau malah ikut muntah.

Ah jadi kangen Bapa! Selamat Ramadan Pa. Doa kami semua menyertaimu! (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s