Selamat Jalan Uwa!


Semalam, adik saya kirim pesan singkat.
Adik: Teh, Wa Emid ngantunkeun!
Saya: Iraha?
Adik: Bieu Teh. Padahal tadi siang sempet panggih, mawa sapedah. Trus nangkring, ngobrol, bari nembongkeun sukuna nu barareuh

Ingatan saya soal Wa Emid, suami dari kakak Bapa yang pertama cukup kuat. Ketika mendengar kabar duka itu, ingatan saya kembali pada 26 tahun lalu. Saat itu saya tinggal dengan Ema. Rumah Ema bersebrangan dengan rumah Wa Euis, istri Wa Emid. Saya jarang ketemu Wa Emid kecuali di tempat ngaji. Kalau dia mau mampir ke rumah, saya sembunyi.

Yup, saya takut sama Wa Emid. Galaknya selangit. Suaranya menggelegar. Yang paling bikin ogah ketemu dia, adalah perintahnya.

Wa Emid selalu meminta saya mencabuti uban di kepalanya. Sementara dia tak pernah absen mengoleskan minyak rambut. Ini yang menyulitkan pekerjaan saya. Terlebih, bau minyak rambutnya nempel di tangan saya. Lebih saya menghindar saat dari kejauhan Wa Emid akan masuk ke pagar rumah Ema.

Kini dia sudah tiada. Entah penyakit apa yang pernah menggerogotinya. Yang pasti, hingga tua rambutnya tetap kelimis. Dan saya ternyata tak pernah tahu nama lengkapnya.

Selamat jalan Uwa, kalau ketemu Bapa, titip salam dari kami sekeluarga. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s