Hati-hati! Copet Di Angkot Merajalela


Buat Anda sekalian yang terbiasa naik angkutan umum, lebih berhati-hati,ya! Dandanan necis, tutur kata sopan gak berhati niatnya selalu baik. Banyak serigala berbulu domba. Hatinya yang busuk diselimuti hiasan indah duniawi.

Heup, cukup berpujangga ria-nya. Saya ingin berbagi pengalaman soal copet di dalam angkot. Gak menimpa saya, sih! Cukup! (*walau terakhir kecopetan hape sebulan lalu, he he!) Saya hampir jadi saksi aksi pencopetan. Saksi dalam artian pengecut yang hanya sanggup melihat copet leluasa mengambil barang korbannya.

Saat itu, saya naik angkutan umum jurusan Cimahi-Leuwipanjang di bunderan Elang. Tidak lama, di Holis, seorang lelaki berkaos abu-abu plus celana jeans naik. Dia memilih duduk di belakang jok sopir yang sebenarnya sudah sempit dengan penumpang. Di jok panjang, ada lima orang penumpang dengan urutan dua orang ibu-ibu paruh baya berjilbab, seorang bapak gemuk berbatik dan memangku ransel, dan dua pemuda tanggung berkaos oblong. Di jok pendek, seorang lelaki berambut keriting dengan celana selutut juga memangku ransel dan saya yang duduk di ujung jok dekat kaca. Si penumpang baru yang rambutnya mirip Saiful Jamil itu memilih berdesak-desakan dengan dua ibu paruh baya.

Sebelum lampu merah Pasir Koja, si mirip Saiful Jamil itu tiba-tiba panik gak keruan. Dia kepanasan dan meminta si ibu yang di sebelahnya membuka kaca mobil. Padahal pintu penumpang dan kaca kursi sopir terbuka. Angin leluasa masuk. Tapi Saiful pintar membuat situasi makin chaos.

“Ibu, dorong kacanya dong! Panas banget ini! Saya gak tahan!”

Si ibu terbawa suasana. Dia bangkit untuk mendorong kaca. Eh, si keriting ikutan bangkit mendekati si ibu. Si keriting ini, mengasongkan ransel yang dipangkunya ke bagian pinggang si ibu. Eh si bapak gemuk berbatik juga melakukan hal yang sama kepada ibu yang satu lagi. Kampret! Mereka kawanan copet rupanya. Laju cepat kendaraan agak menyulitkan gerakan mereka.

Si mirip Saiful semakin aktif bereaksi bak cacing kepanasan. Dua pemuda tanggung depan saya, ikutan panik. Mereka seperti saya, menyadari apa yang terjadi dalam angkot. Mereka pun seperti saya, menimbang apa yang. Bisa dilakukan untuk menghentikan aksi mereka.

Ada dua pilihan. Pertama, teriakan copet kepada mereka. Risikonya cukup besar. Kami duduk di pojok, jauh dari pintu keluar. Kalau si copet punya senjata, kami ini sasaran empuk. Celaka tiga puluh ini! Pilihan Kedua, minta angkot berhenti. Saya ambil pilihan kedua.

Saya berteriak supaya angkot berhenti karena saya mau turun. Angkot pun berhenti. Si mirip Saiful Jamil turun lebih dulu sambil garuk-garuk kepala. Sambil turun saya ingatkan si ibu kalau dia hampir dicopet. Berharap dia waspada karena sedikitnya masih ada dua copet di dalam angkot.

Saya bersyukur aksi itu batal. Saya tidak menganggap apa yang saya lakukan itu heroik (*emang kata sapa heroik, mbu!). Tapi saya tak ingin jadi pengecut yang diam saja melihat ada hal jahat yang sebenarnya kita bisa hentikan. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s