Narsum Narsis


“Showing oge nyak ieu si ibu,” komentar fotografer ketika kami bertemu seorang perempuan yang jadi nara sumber. Memang sih memang topiknya tentang kehidupan si ibu ini. Jadi, wajar kalo dia agak narsis.

Buat saya kenarsisan seorang narsum bisa sangat menguntungkan. Sejenak, lupakan kalo itu terkadang membetekan he he… Ketika si narsum narsis, banyak bahan buat tulisan. Tinggal dipilah mana yang penting dan tidak.

Saya pernah ketemu narsum yang ngomong seperlunya. Wawancara cukup 15 menit. Mungkin sih tipenya memang pelit ngomong.

Tapi ada juga yang doyan banget ngobrol. Saya memang doyan ngobrol tapi kalo aleng-alengan, nanti dulu deh! Saya pernah terpaksa menjadwal ulang semua janji gara-gara gak bisa menghentikan narsum itu nyerocos. Tadinya beres ketemu narsum di Jln. Merdeka akan dilanjut ke wilayah Buah Batu. Ternyata narsum yang di Buah Batu sudah bergeser ke Jln. Sumur Bandung. Padahal saya udah sampai ke Jln. Lengkong. Perjalanan cukup jauh karena macet.

Sekarang sih saya punya trik menghentikan keasyikan narsum nyerocos.
1. Sering-sering lihat jam
2. Cek ponsel berkali-kali
3. Rapikan kertas dan alat perekam
4. Potong dengan bilang ada kerjaan lain.

Jujur saja, kalo disuruh milih mending narsum narsis dibanding yang susah ngomong. (*)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s